Gara-Gara Asap Pekat, 2 Pesawat Berputar di Langit Palembang

PERISTIWA | 16 September 2019 12:36 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan mulai masuk kategori sangat tidak sehat dan berbahaya. Warga diimbau menghindari aktivitas di luar rumah pada waktu-waktu yang rentan terjadi asap pekat.

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang Bambang Benny Setiaji menjelaskan, intensitas Asap (smoke) umumnya meningkat terjadi pada dini hari menjelang pagi hari, yakni 01.00-07.00 WIB karena udara yang stabil pada saat tersebut. Fenomena Asap diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara yang dihasilkan dari proses pembakaran.

"Hal ini berpotensi diperburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi sehingga membentuk fenomena kabut asap (smoke)," ungkap Bambang, Senin (16/9).

Menurut dia, konsentrasi PM 10 atau kualitas udara yang tercatat di Stasiun Klimatologi Palembang pada hari ini pukul 00.00-10.00 WIB, tercatat sempat menyentuh kategori sangat tidak sehat dengan nilai maksimum 319 µgram/m3 dari nilai ambang batas tidak sehat adalah pada 150 µgram/m3.

"Kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat umumnya terjadi pada rentang waktu 22.00-08.00 WIB, sedangkan kondisi sehat hingga sedang umumnya terjadi pada rentang waktu 08.00-22.00 WIB," terangnya.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk berhati-hati beraktivitas di luar rumah pada jam-jam tersebut. Terlebih transportasi pada pukul 04.00-07.00 WIB seiring potensi menurunnya jarak pandang.

"Masyarakat harus menggunakan masker dan banyak minum air saat beraktivitas di luar rumah. Masyarakat juga kami imbau tidak melakukan pembakaran, termasuk sampah rumah tangga," imbaunya.

Dia menambahkan, kondisi langit pada malam hari tanpa awan mengakibatkan radiasi permukaan bumi lepas keluar atmosfer mengakibatkan suhu di permukaan relatif dingin pada saat dini hari menjelang pagi hari yakni berkisar antara 21-23 derajat celsius.

Setelah terbit matahari, keadaan udara akan relatif labil sehingga partikel kering (asap) akan terangkat naik dan jarak pandang akan menjadi lebih baik namun asap yang pergerakannya karena angin horizontal akan tetap ada di permukaan dan akan menyebabkan kekeruhan udara.

"Kondisi ini akan terus berpotensi berlangsung dikarenakan berdasarkan model prakiraan cuaca BMKG tidak ada potensi hujan dalam rentang prakiraan 16-22 September 2019 di wilayah Sumsel," kata dia.

Asap Akibatkan 2 Penerbangan Holding

Berdasarkan pengamatan cuaca di Bandara Iskandar Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada pagi tadi, tercatat hanya 300-800 meter dan kelembapan 92-94 persen dengan keadaan cuaca asap (smoke). Kondisi ini menyebabkan dua penerbangan holding (menunggu di udara) untuk mendarat.

"Dari laporan yang masuk ada dua penerbangan mengalami holding pagi tadi, baru bisa mendarat di Palembang ketika asap mulai naik," ujarnya.

Menurut dia, angin pada umumnya dari tenggara dengan kecepatan 5-20 knot (9-37 km/jam) yang mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutla ke wilayah Palembang dan sekitarnya. Sumber dari LAPAN hari ini tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah selatan-tenggara Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap masuk ke kota itu.

"Dari data LAPAN, titik panas terjadi SP Padang, Banyuasin I, Pampangan, Tulung Selapan, Cengal, Pematang Panggang, Air Sugihan, Pedamaran dan Mesuji," pungkasnya.

Baca juga:
Perjuangan Petugas Berjibaku Padamkan Karhutla Pekanbaru di Kegelapan
Pantauan Udara Kondisi Lahan Gambut di Riau yang Hangus Terbakar
Cerita 2 Warga Ogan Ilir Loloskan Diri dari Kepungan Api Saat Padamkan Karhutla
Hingga September 2019, 175 Orang dan 4 Korporasi Jadi Tersangka Karhutla
Kebakaran Hutan dan Lahan di Ogan Ilir Kepung Permukiman Warga
Hingga September, Lahan Terbakar di Sumsel Mencapai 2.200 Hektare

(mdk/cob)