Garis Polisi Dibuka, Pelajar SD dan SMP di Kupang Kembali Belajar

Garis Polisi Dibuka, Pelajar SD dan SMP di Kupang Kembali Belajar
Ilustrasi garis polisi. ©2013 Merdeka.com
NEWS | 20 September 2021 11:10 Reporter : Ananias Petrus

Merdeka.com - Ratusan siswa SD GMIT Oehani dan SMP Negeri 3 Satu Atap Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai beraktivitas, usai lima ruang kelas diobrak-abrik sejumlah orang tidak dikenal (OTK).

Hari ini, Senin (20/9) para siswa mulai melakukan aktivitas tatap muka secara terbatas, untuk mengikuti ujian tengah semester.

Ujian digelar setelah pada sabtu (18/9) kemarin Polsek Kupang Tengah membuka garis polisi dan mengizinkan sekolah dibersihkan.

"Polisi sudah izinkan kami bersihkan ruangan sehingga sekarang anak-anak bisa ikut ujian sekolah," ujar kepala sekolah Feredich Hetmina, Senin (20/9).

Sebelumnya, ratusan siswa ini terpaksa diliburkan karena isi ruang kelas masih berantakan, serta masih adanya garis polisi yang dipasang hingga Jumat (17/9) malam.

Kepala Sekolah Feredich Hetmina menguraikan, dia mendapat informasi tentang kejadian itu dari seorang guru. Setelah itu ke sekolah untuk mengecek kondisi kejadian itu.

"Tapi karena ada acara pemakaman kerabat yang meninggal dilanjutkan dengan acara keluarga, maka saya baru bisa ke sekolah pada malam hari setelah ada kerabat rekan guru yang memberitahu saya," ungkapnya.

Saat datang, ia memeriksa sejumlah ruangan kelas dan melihat kondisi ruangan yang berantakan.
Kepala sekolah menelepon Bhabinkamtibmas, namun karena sudah malam maka pihaknya pulang dan meminta penjaga sekolah untuk mengontrol lingkungan sekolah.

Kepala sekolah mengaku sudah diperiksa penyidik Polsek Kupang Tengah sejak Jumat (17/9) hingga Sabtu (18/9) subuh sekitar pukul 03.30 wita.

Pada Sabtu (18/9), kepala sekolah menggelar rapat dengan para guru. Ia pun mengambil kebijakan meliburkan siswa, padahal proses pembelajaran tatap muka terbatas baru digelar satu pekan ini.

"Ada lima ruangan kelas yang berantakan yakni ruangan kelas I, II, III, VII dan IX. Kami terpaksa pulangkan anak-anak karena tidak bisa menggelar pembelajaran tatap muka terbatas dengan kondisi seperti ini," jelas Feredich.

Ia juga membantah soal adanya persoalan internal sekolah dengan pihak ketiga sebagai pemicu kejadian ini.

"Dugaan utang foto copy dan buku sudah kami lunasi. Saya sudah bayar utang foto copy dan bendahara sudah bayar biaya buku," ujarnya.

Ia juga menegaskan kalau dana BOS pun dikelola atas sepengetahuan komite sekolah. "Pencairan dana dan pertanggungjawaban atas sepengetahuan ketua komite sekolah, Lewi Riwu Rohi yang juga mantan kepala sekolah," kata Feredich.

Sebelumnya, Sejumlah ruang kelas di SD GMIT Oehani dan SMP Satu Atap Negeri 3 Taebenu diobrak-abrik orang tidak dikenal, Kamis (16/9).

Fasilitas sekolah seperti meja, kursi, buku-buku dirusak. Bahkan dalam foto nampak bendera merah putih pun dibiarkan jatuh di lantai.

Warga Desa Kuaklao, Simson Yunedi Tanu yang rumahnya tidak jauh dari sekolah tersebut menjelaskan, saat kejadian kampung mereka sepi ditinggal warga karena mengikuti ibadah pemakaman di kampung tetangga. (mdk/cob)

Baca juga:
Kadisdik Aceh Minta Kepala Sekolah Tak Mampu Gelar Vaksinasi Covid-19 Mundur
PTM Sudah Dimulai, Vaksinasi Covid-19 Pelajar di Bandung Baru 40 persen
Pemerintah Minta Semua Pihak Dukung Pelaksanaan PTM Terbatas
IDI Dukung Pembelajaran Tatap Muka di Pesantren
Pemda Diminta Percepat Penuntasan Vaksinasi Pendidik untuk Mendukung PTM Terbatas
Terlalu Lama Belajar Online, Siswa Kelas 4 SD di Cianjur Ini Lupa Cara Membaca

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami