Gempa Vulkanik di Bromo Meningkat Sejak Pertengahan Juli

PERISTIWA » MALANG | 21 Juli 2019 08:43 Reporter : Liputan6.com

Merdeka.com - Meski terjadi erupsi pada Jumat lalu, kunjungan wisatawan Gunung Bromo tidak mengalami penurunan. Kepala Resort Lautan Pasir Gunung Bromo TNBTS Subur Hadi Harihandoyo menuturkan, saat ini wisata Gunung Bromo tidak ada penutupan.

"Untuk kunjungan wisatawan tetap siginifikan, meski kemarin sempat terjadi letusan pada kawah gunung Bromo," kata Subur, Sabtu (20/7).

Dia juga menyebutkan selama terjadi letusan kemarin dari erupsi gunung Bromo, terjadi suara gemuruh dan mengeluarkan batu pijar dari mulut kawah dan jatuh di radius 500 meter dari mulut kawah. Sedangakan abu vulkanik mengarah ke wilayah Poncokusumo Malang.

"Saat ini kondisi aktifitas Gunung Bromo mulai berangsur turun. Kami terus berkoordinasi dengan pihak PVMBG," ujar dia.

Sebelumnya, Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Pos pantau Cemoro Lawang, Desa Ngadisari Kecamatan Sukupara, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, secara intens terus memantau aktivitas gunung Bromo pasca terjadi erupsi pada Jumat sore.

Kepala Pengamatan PVMBG pos pantau Gunung Bromo Wahyu Adrian Kusuma mengatakan, aktivitas gunung Bromo saat ini sudah berangsur normal dibandingkan dengan kondisi Bromo saat erupsi pada Jumat, 19 Juli 2019.

"Potensi tentang erupsi pihaknya akan intens melakukan pemantauan energi di dalam kawah gunung Bromo," tuturnya.

Sejak pertengahan Juli 2019 terjadi peningkatan gempa vulkanik gunung Bromo. "Ditambah lagi dengan adanya getaran gempar tektonik yang terjadi di selatan pulau Bali beberapa waktu lalu," katanya.

Wahyu mengaku, dengan ada hal itu, secara otomatis tekanan kawah di dalam gunung Bromo mengalami peningkatan. "Dari sinilah akhirnya pada Jumat sore kemarin Gunung Bromo mengalami erupsi," tegasnya.

Kondisi kawah gunung Bromo saat ini sudah mulai berangsur normal dengan tremor dominan 1 milimeter. Sedangkan embusan asap sesekali terlihat dengan ketinggian 50 sampai dengan 300 meter mengarah ke barat daya, barat dan barat laut.

"Gunung Bromo saat ini berada di level II tetap waspada dengan tidak mendekati radius 1 kilometer dari bibir kawah," ujarnya.

Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Sarif Hidayat mengatakan, kejadian lahar dingin di kaldera yang terjadi pada Jumat sore 19 Juli 2019, tidak terkait langsung dengan aktivitas erupsi Gunung Bromo.

"Berdasarkan keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM, banjir di kawasan kaldera Gunung Bromo karena air hujan merupakan fenomena alam yang biasa. Sehingga bukan lahar dari material magma Gunung Bromo," kata dia.

Berdasarkan tanggapan dari PVMBG, lanjut dia, kejadian banjir diakibatkan karena hujan yang terjadi di sekitar kaldera Tengger dan puncak Gunung Bromo bersamaan dengan kejadian erupsi yang menghasilkan abu vulkanik.

"Selain itu, morfologi kaldera Tengger merupakan topografi rendah yang dikelilingi oleh perbukitan sehingga jika terjadi hujan, aliran air akan bergerak ke arah dasar kaldera," tuturnya.

Ia menjelaskan, endapan batuan di sekitar perbukitan kaldera Tengger dan puncak Gunung Bromo umumnya terdiri dari produk jatuhan yang bersifat lepas, sehingga akan mudah tergerus oleh air hujan.

Pengamatan cuaca sejak tanggal 1 hingga 18 Juli 2019 umumnya cuaca di sekitar Gunung Bromo cerah, berawan hingga mendung. Namun pada tanggal 19 Juli 2019 pukul 16.43 WIB, tercatat satu kali hujan gerimis dan curah hujan tercatat di Pos Pengamatan Gunung Api Bromo sebesar 0,4 mm.

Aliran banjir berasal dari sisi barat daya lereng Gunung Bromo memutari Gunung Batok ke arah barat, dan getaran banjir terekam di seismograph dengan amplitudo maksimum 1 mm dan lama gempa 3 menit 20 detik.

"Peningkatan aktivitas Gunung Bromo berbarengan dengan kondisi hujan yang menimbulkan aliran sungai sesaat pada Jumat sore, sehingga muncul aliran seperti sungai dan seperti biasa tidak berlangsung lama, sehingga itu fenomena alam yang biasa," katanya.

Sarif mengatakan, Gunung Bromo masih tetap dikunjungi oleh wisatawan domestik dan mancanegara pascaerupsi. Namun petugas TNBTS mengimbau kepada semua wisatawan untuk tetap mematuhi rekomendasi batas aman radius 1 kilometer dari kawah aktif untuk keselamatan pengunjung.

"Sejumlah petugas juga berjaga di kawasan kaldera Gunung Bromo dengan tetap memantau aktivitas gunung api yang memiliki ketinggian 2.329 mdpl itu," ujarnya.

Baca juga:
Wisatawan Masih Boleh ke Bromo sampai Radius 1 KM dari Kawah
Masyarakat Sempat Panik Saat Gunung Bromo Erupsi
Melihat Ritual Yadnya Kasada Suku Tengger di Gunung Bromo
Suku Tengger Akan Gelar Puncak Yadnya Kasada di Gunung Bromo
Kembangkan Kawasan Bromo Tengger Semeru, Khofifah akan Bikin Kereta Gantung
Embun Upas Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Gunung Bromo dan Puncak Semeru

(mdk/cob)