Gerakan Balik Kanan Menjaga Kelestarian Air Sungai untuk Masa Depan

Gerakan Balik Kanan Menjaga Kelestarian Air Sungai untuk Masa Depan
Menjaga sungai di Surabaya melalui Gerakan Balik Kanan. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 9 November 2021 09:52 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Keberadaan sungai tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan di sekitarnya, baik itu tumbuhan, hewan, bahkan manusia. Air sungai, sejak dulu menjadi sumber kehidupan banyak makhluk hidup. Menjaga kelestarian sungai maka sama dengan menjaga kualitas air kehidupan.

Dewasa ini, kondisi sungai menjadi persoalan serius yang butuh penuntasan. Ruang bantaran yang semakin sempit karena perkembangan permukiman, kawasan kumuh hingga problem sampah. Dampaknya, tentu saja berpengaruh kepada kualitas air sungai.

Direktur Utama PJT I, Raymond Valiant Ruritan menyebut, penurunan kualitas air sungai ditandai dengan penurunan kadar oksigen terlarut dalam air. Menurutnya, standar oksigen terlarut dalam air mencapai 2 hingga 4 miligram per liter. Ukuran ini sebagai patokan pemanfaatan air yang bisa diolah kembali.

Di Kota Surabaya, menurut Raymond, jumlah sampah yang ada di sepanjang sungai terus bertambah. Saat ini, ada sekitar 400 ton sampah basah per minggu diangkat dari Kali Surabaya. Volume sampah tersebut bisa membeludak di saat tertentu seperti musim penghujan.

"Dari pengamatan kami, jenis sampah semakin banyak. Kalau dulu di hulu itu 30 persen adalah sampah anorganik, sekarang naik menjadi 40 persen seperti plastik kaca dan berbagai material yang tidak bisa diuraikan," kata Raymond.

Sementara itu, warga Jambangan, Surabaya, Imam Rochani mengakui, permukiman yang ada di sepanjang aliran sungai memiliki peranan signifikan. Sebab dari permukiman inilah, sampah sungai kerap berasal.

menjaga sungai di surabaya melalui gerakan balik kanan
©2021 Merdeka.com

"Mereka kan mudah sekali membuang sampah ke sungai. Bahkan, dulu ada yang namanya WC helikopter. Itu sebutan untuk kakus buang air besar yang langsung ke sungai," ujarnya membuka obrolan dengan merdeka.com.

Tidak hanya permukiman padat penduduk saja, pabrik-pabrik yang berada di sepanjang aliran sungai juga turut berperan. Tidak sedikit dari pabrik yang ada di aliran sungai juga membuang limbahnya ke sungai. Kelakuan ini, tentu dapat memperparah kondisi ekosistem yang ada di dalam sungai, terutama pada kualitas air yang makin buruk.

"Mereka yang tidak memiliki alat pengolah limbah atau Ipal, biasanya akan membuangnya ke sungai. Ini tentu memperparah keadaan air sungai," tandasnya.

Tergerak dengan berbagai persoalan semacam itu, pria yang juga aktivis lingkungan ini mengaku menginisiasi gerakan balik kanan (Geblak) di sekitar wilayahnya bermukim. Gerakan itu disebutnya sebagai gerakan menjaga sungai.

menjaga sungai di surabaya melalui gerakan balik kanan
©2021 Merdeka.com

Salah satunya adalah mengubah wajah rumah menjadi menghadap ke sungai. Bangunan yang berbatasan langsung dengan tepi sungai, harus dikepras dengan tujuan memberi ruang atau jarak yang digunakan untuk jalan inspeksi.

"Jalan ini sendiri sesuai aturan memang harus ada," tegasnya.

Imam mengaku, dengan gerakan balik kanan, yakni menaruh wajah atau bagian depan rumah menghadap ke sungai, maka secara psikologis juga akan mendorong si pemilik rumah untuk menjaga kebersihan wilayahnya. Ia pasti tak akan membiarkan depan rumahnya tampak kotor dan kumuh.

Dengan demikian, secara otomatis, mereka juga tak akan membuang sampah sembarangan, terutama ke dalam sungai. Efeknya, tentu saja jumlah sampah yang ada di sungai juga akan berkurang.

"Kalau sampah di sungai berkurang, maka kualitas air sungai juga akan lebih terjaga dan tentu saja kualitas airnya juga akan lebih baik," tukasnya.

Gerakan balik kanan ini pun sudah dipraktikkan di wilayah permukimannya. Setidaknya, puluhan rumah di tiga kelurahan di Kecamatan Jambangan yang berada di sepanjang tepi sungai, telah mengepras bangunan bagian belakang dan ganti menghadapkan wajah rumahnya ke sungai.

menjaga sungai di surabaya melalui gerakan balik kanan
©2021 Merdeka.com

Ia menyebut, tidak hanya perubahan perilaku saja yang terjadi pada penduduk di sepanjang aliran sungai. Namun, geliat kehidupan ekonomi rupanya juga berdampak pada penduduk di sepanjang aliran sungai.

"Ekonomi mereka malah hidup. Yang tadinya di belakang rumah terlihat kumuh, sekarang jadi lebih indah. Masyarakat yang melintas semakin banyak, hingga membuat roda ekonomi di sepanjang aliran sungai juga berjalan. Mereka bisa membuat toko, maupun warung dan lain sebagainya. Padahal tadinya hanya berupa dapur yang identik dengan kumuh maupun sampah," ungkapnya.

Kehidupan yang mulai menggeliat di sepanjang aliran sungai ini, juga mendorong banyak perusahaan untuk menghibahkan program Corporate Social Responsibility (CSR) demi memperbaiki kondisi tepi sungai. Seperti membuatkan taman, maupun memperbaiki jalan setapak menjadi lebih indah.

"Kalau kondisinya lebih indah, lebih baik, maka tidak ada orang yang akan membuang sampah sembarangan lagi. Bahkan, di sini sampah diolah lagi menjadi berbagai macam merchandise maupun alat lainnya yang bisa digunakan kembali. Sampah organiknya, diolah menjadi kompos untuk taman. Semuanya dikelola kembali. Sehingga, sungai jadi lebih terjaga," tegasnya.

Ia lantas mengandaikan, jika gerakan balik kanan ini diimplementasikan di seluruh aliran sungai yang ada di Surabaya bahkan Indonesia, ia meyakini sampah yang ada di sungai akan berkurang banyak. Jika sampah berkurang, maka ekosistem sungai akan lebih terjaga. Dan kualitas airnya yang baik akan memberikan kemanfaatan yang baik pula pada penggunanya.

"Jika kualitas air terjaga, maka salah satu sumber daya air untuk masa depan juga akan turut terjaga. Untuk anak cucu kita nanti," katanya.

(mdk/cob)

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami