Gerakan Sosial Kampung Penjahit di Purbalingga Produksi Masker Gratis

Gerakan Sosial Kampung Penjahit di Purbalingga Produksi Masker Gratis
PERISTIWA | 28 Maret 2020 17:05 Reporter : Abdul Aziz

Merdeka.com - Keberpihakan pada kemanusiaan serta laku bertindak saling menjaga terhadap sesama menjadi prinsip hidup warga di Desa Sumampir, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan mereka tinggal.

Di desa ini, puluhan warga yang turun-temurun bekerja sebagai penjahit bersinergi memancarkan energi sosial. Digerakkan oleh para pemuda desa, para penjahit menyumbangkan keterampilannya membuat masker gratis untuk warga.

Gerakan ini dimulai dengan langkah anak-anak muda yang menggalang kegiatan amal mengumpulkan dana cegah Covid-19 sejak Rabu (24/3) lalu. Mereka sadar, mencegah penyebaran bencana wabah corona ini mesti dilakukan bersama-sama.

Ina farida (33) koordinator penggalangan dana, bercerita ide donasi ia mulai dengan memanfaatkan situs jejaring sosial. Informasi ini lantas menyebar dari mulut ke mulut.

Sampai dengan Sabtu (28/3), dari 48 warga Desa Sumampir ditambah enam warga tetangga desa terkumpul dana Rp 5,8 juta. Masing-masing warga itu berbagi sesuai kemampuan mereka. Dari Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, Rp 50 ribu sampai ada yang menyumbang Rp 500 ribu.

"Warga desa gotong royong. Masker kalau beli di luar harganya sudah mahal Rp 10.000 sampai Rp 15.000. Dana itu kami gunakan untuk pembelian kain," kata Ina, Sabtu (28/3).

Tak hanya uang, sebagian warga ada pula yang memberi bantuan benang. Sedang pembuatan master, dilakukan oleh para penjahit yang tersebar di desa ini. Para penjahit dengan kompak membagi diri dalam dua kelompok. Sebagian bertugas memotong kain. Sebagian lain menjahit.

"Kurang lebih ada 40 orang yang terlibat. Tim pemotong bahan ada lima orang. Penjahitnya lebih dari 20 orang," katanya.

Tiga hari berjalan, saat ini mereka telah memproduksi 250 masker. Dari hitung-hitungan bahan yang telah tersedia, Ina mengatakan jumlah masker yang akan diproduksi sebanyak 4.000. Ia mengakui jumlah ini tidak mencukupi. Pasalnya, jumlah total warga di Desa Sumampir kurang lebih sebanyak 11.000 jiwa.

"Target kami setidaknya setiap rumah punya persedian masker. Nantinya di kemasan masker ini kami sertakan pula sosialisasi pencegahan penularan virus corona," katanya.

Dari Rakyat buat Rakyat

Afita Sari (29), adalah salah satu penjahit di Desa ini yang tergerak ikut andil menyumbangkan ketrampilan menjahitnya. Dia menyebut di Desa Sumampir, 50 persen warga memang bekerja menjual jasa menjahit sprei, korden, kelambu sejak puluhan tahun.

"Bisanya saya jahit. Jadi ini yang bisa saya sumbangkan" kata Sari. "Kegiatan ini kan dari rakyat buat rakyat," lanjutnya.

Sari mengatakan kegiatan sosial ini tidak mengganggunya, sebab sudah sepekan dia menganggur. Sejak wabah corona merebak di mana-mana, pengiriman barang sudah tidak ada lagi. Sedangkan setok hasil jahitan sudah menumpuk.

Dia tergerak, daripada semata melamun, ia mesti berbagi energi positif agar menghadapi wabah ini dengan optimis. Ia pun tak kuasa menolak saat diminta bantuan membuat masker meski tanpa upah. Dalam sehari, berkat ketrampilannya, ia bisa memproduksi 3 lusin masker.

"Sebenarnya lima lusin mampu. Tapi saya mesti bagi waktu dengan masak dan bersih-bersih rumah. Pembuatan masker ini kan untuk mencegah virus ya. Kami lakukan ini karena mesti waspada," kata Sari.

Solidaritas sosial warga kampung penjahit di Desa Sumampir ini menegaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan, saling bahu membahu satu sama lain, tak boleh ikut hancur karena bencana. Sebaliknya, ketika bencana melanda justru melahirkan cara bertindak terhadap sesama untuk mengetengahkan solidaritas kemanusiaan. (mdk/cob)

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami