Gerebek Gudang di Gresik & Blitar, Polisi Sita 16,7 Ton Benih Pertanian Ilegal

PERISTIWA | 30 Oktober 2019 14:45 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Polisi menggerebek sebuah gudang di Gresik dan Blitar yang menyimpan dan memproduksi benih tanaman pertanian ilegal. Dari penggerebekan ini, polisi menyita sejumlah jenis benih tanaman sebanyak 16,7 ton.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, penggerebekan yang dilakukan oleh polisi ini berawal dari adanya laporan masyarakat, tentang peredaran bibit tanaman yang belum tersertifikasi.

Dari informasi tersebut, polisi lalu mengumpulkan informasi terkait dengan kegiatan ilegal tersebut. Dua tempat yang digerebek itu modusnya sama. Mereka memperdagangkan benih (tanaman) yang belum tersertifikasi sesuai dengan undang-undang yang ada.

"UU yang dilanggar ada (UU) Holtikultura Nomor 13 tahun 2010. Yang dilanggar mereka tidak melakukan sertifikasi benih-benih yang berlaku di UU tersebut," ungkapnya, Rabu (30/10).

Dalam kasus ini, kata Frans, selain menyita berbagai jenis bibit tanaman ilegal, pihaknya juga mengamankan dua orang tersangka. Yakni SM, warga Blitar, yang diidentifikasi sebagai pemilik usaha dan pemilik gudang berinisial K, warga Gresik.

"Disita berbagai benih, seperti benih kangkung, kacang, cabe, buncis. Ini bahan vital yang diperlukan masyarakat, ini tidak tersertifikasi di luar UU Holtikultura," pungkasnya.

Barung menambahkan, benih-benih ini dipasarkan untuk wilayah Jawa Timur. Karena tidak tersertifikasi, maka benih-benih tersebut dapat dijual dengan murah oleh tersangka. Padahal, secara keamanan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Dari Blitar, polisi menyita sekitar 1,7 ton, sedangkan dari Gresik polisi dapat menyita benih sekitar 15 ton.

Dari perdagangan benih ilegal yang dilakukan oleh para tersangka sejak 2011 lalu ini, tersangka bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp300 juta pertahunnya.

Sementara itu, Darlina Yuni dari UPT Pengawasan Benih Dinas Pertanian Jawa Timur mengatakan, pihaknya sudah berupaya melakukan pengawasan terhadap peredaran benih-benih ilegal yang beredar di masyarakat. Namun, para pelaku tersebut memanfaatkan lokasi yang tidak terjangkau oleh Dinas Pertanian Jatim.

"Kami melakukan pengawasan. Tapi pelaku memanfaatkan di tempat yang tidak terjangkau," ujarnya.

Dikonfirmasi mengenai bahaya dari benih yang tidak tersertifikasi, Yuni menyatakan, biasanya berdampak pada hasil yang tidak sesuai. Sebab, benih yang beredar di masyarakat seharusnya melalui tahapan uji laboratorium.

"Bahaya sih tidak. Tapi biasanya berdampak pada hasil, karena tidak melalui tahanan uji lab," tegasnya. (mdk/ray)

Baca juga:
Eks Mentan Amran Curiga Data Sawah Dipermainkan Mafia, Ini Jawaban BPS
Politisi Gerindra Sebut Data BPS Sudah Melalui Kajian Matang
Jadi Mentan, Syahrul Yasin Limpo Tantang Mafia di Sektor Pertanian
Syahrul Yasin Limpo, Putra Pejuang Kemerdekaan yang Menjadi Menteri Pertanian
Petani di Daerah Tertinggal Terapkan Smart Farming

TOPIK TERKAIT

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.