Gubernur Lukas Enembe Sebut Korban Tewas Akibat di Papua Jadi 30 Orang

Gubernur Lukas Enembe Sebut Korban Tewas Akibat di Papua Jadi 30 Orang
Gubernur Papua Lukas Enembe. ©2019 Merdeka.com
NEWS | 25 September 2019 22:34 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah

Merdeka.com - Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, korban tewas akibat kericuhan yang mencuat dalam aksi demo anarkis di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, pada 23 September 2019, bertambah menjadi 30 orang. Dari data sehari sebelumnya dilaporkan pihak polisi, korban tewas sebanyak 26 orang.

"Data terakhir ada 30 jenazah dan sebagian besar sudah dikirim ke Jayapura," kata Lukas di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Rabu (25/9).

Lukas mengatakan, aksi anarkis itu terjadi tiba-tiba tanpa diketahui pemerintah. Menurut dia, siswa-siswa pelaku anarkis dipaksa oleh kelompok tertentu.

"Kejadian tiba-tiba dan memaksa siswa-siswa, oleh kelompok yang kami tidak tahu dari mana tetapi mereka memaksa anak-anak sekolah yang masih ulangan untuk melakukan aksi kriminal," kata dia. Seperti diberitakan Antara.

Dia menjelaskan kelompok provokator membakar beberapa siswa yang menolak untuk bergabung dan melakukan aksi kriminal.

Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya mengatakan, tidak ada mayat pada penyisiran hari ke tiga. Dia mengatakan, ada beberapa orang yang diamankan untuk mendalami aksi kriminal kemarin.

"Sementara kita pendalaman jadi saya belum publikasi. Nanti setelah jelas arahnya, siapa aktornya baru kita publikasi. Yang diamankan sementara 7 orang," katanya.

Sebelumnya diberitakan, Kerusuhan terjadi di Wamena, Jayapura, Papua. Akibat peristiwa itu, sejumlah orang tewas.

"Sampai jam 12 Wib, informasi yang kita dapat, ada 26 orang meninggal dunia. 22 Orang itu adalah masyarakat pendatang Papua, profesinya ada tukang ojek, pekerja ruko, restoran," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian, saat konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam, Selasa (24/9).

Sedangkan empat orang yang menjadi korban adalah warga Papua asli. Selain korban meninggal dunia, 66 orang luka-luka.

"Yang warga Papua asli kita akan selidiki apa karena tindakan tegas petugas, karena perlawanan mau diserang, atau karena terkena panah temannya," sambungnya.

Ditambahkan Tito, akibat kerusuhan Wamena, sejumlah fasilitas publik dan gedung mengalami kerusakan.

"Kerugian ada Kejaksaan, Puskesmas, Bappeda, termasuk kantor bupati dibakar," jelas Tito.

Seperti diberitakan sebelumnya, Jenderal Tito menjelaskan awal mula isu beredar berbuntut situasi memanas.

"Di hari yang sama (dengan kerusuhan di Expo Waema), pagi harinya di SMA PGRI ada isu bahwa ada seorang guru yang sedang mengajar menyampaikan pada muridnya bahwa kalau bicara keras," kata Jenderal Tito, sebelumnya.

"Terdengar, oleh murid ini kera. Sehingga dikatakan ke temannya bahwa dikatakan monyet. Padahal yang dikatakan 'jangan bicara keras'. Hanya saja mungkin tonenya, dan s nya terdengar lemah," sambung Tito.

Berawal dari isu itulah, muncul informasi di masyarakat dan dikembangkan. Seolah-olah ada guru bersikap rasisme, mengatakan kata-kata tidak pantas yang melukai hati, padahal belum tentu benar.

"Dan kita yakin yang mengembangkannya adalah kelompok tadi, Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang menggunakan seragam SMA. Kita sedang cari orangnya," jelasnya.

Setelah itu, kata Tito, isu tersebut begitu cepat beredar. Sejumlah pelajar diprovokasi, hingga akhirnya mereka berkumpul dan bergabung.

"Saat itu ada petugas dengan cepat datang dari polres, kodim, tapi massa sudah terlanjur besar lebih kurang 2.000 orang," katanya.

Baca juga:
Selesaikan Masalah Papua, Moeldoko Ajak Benny Wenda Bertemu
Identitas Anggota TNI dan Polri Korban Penganiayaan di Waena
Menko Polhukam Berikan Keterangan Terkait Situasi Indonesia Terkini
Polisi Amankan 7 Orang Terkait Demo Rusuh di Wamena Papua
Orang-Orang Ini Disebut Pemerintah RI Jadi Dalang Kerusuhan di Papua
Kapolri Minta Masyarakat Tak Mudah Terpengaruh Hoaks Soal Papua dan Demo di DPR
Menengok Dampak Demo Mahasiswa dan Kerusuhan Papua ke Ekonomi Indonesia

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami