Gugus Tugas Sebut Surabaya Raya Bisa Jadi Wuhan Jika Tak Hati-hati

Gugus Tugas Sebut Surabaya Raya Bisa Jadi Wuhan Jika Tak Hati-hati
PERISTIWA | 28 Mei 2020 14:18 Reporter : Erwin Yohanes

Merdeka.com - Surabaya Raya yang terdiri dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik disebut menjadi episentrum penyebaran virus corona atau covid-19 di Jatim. Bila tak hati-hati dalam menangani pandemi tersebut, maka Surabaya di sebut bakal menjadi Wuhan, kota di China yang pertama kali ditemukan mewabah covid-19.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dokter Joni Wahyuhadi mengatakan, 64 persen lebih kasus covid-19 disebutnya ada di Surabaya Raya. Data ini menunjukkan, jika dalam penanganan kasus di Surabaya Raya tidak hati-hati, maka sangat berpotensi menjadi seperti di Kota Wuhan China.

Ia menyebut, berdasarkan perhitungan ahli epidemologi, transmision rate di Surabaya cukup tinggi yakni 1,6. Hal itu berarti, jika ada 10 orang yang positis covid-19, maka dalam waktu satu minggu dapat menular menjadi 16 orang.

"Kalau tidak hati-hati menangani covid-19, maka Surabaya bisa menjadi Wuhan. Saat ini kalau epidemologi dihitung oleh para ahli transmission rate di Surabaya 1,6, artinya ada 10 orang (positif corona), dalam waktu satu minggu jadi 16 orang. Ini luar biasa penularannya di Surabaya," tegasnya, Kamis (28/5).

Terkait dengan hal itu, saat ini ada 3 kebijakan yang tengah dijalankan oleh pihaknya. Yaitu, melakukan tes, tracking dan treatment.

"Tes masif sedang kita jalankan, kita dibantu oleh tim gugus tugas pusat. Ada dua mobil PCR, yang kita sebar ke rumah sakit untuk melakukan tes PCR secara langsung," katanya.

Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit dr Soetomo ini menambahkan, tingkat kematian akibat virus corona ini cukup tinggi, hingga mencapai 10 persen lebih. Untuk itu, secara konseptual pihaknya tengah membagi rumah sakit berdasarkan kondisi klinis pasien.

"Ini kan sedang kita persiapkan rumah sakit darurat, yang nantinya dapat menampung pasien dengan klinis ringan. Sedangkan seperti RSU dr Soetomo atau RS Unair nanti dapat digunakan untuk pasien dengan klinis sedang hingga berat. Kita sampaikan konsep itu ke Kemenkes, dan mereka setuju," tegasnya.

Terkait dengan fasilitas rumah sakit seperti ventilator, dokter Joni menyebut, hingga saat ini banyak sekali sumbangan yang telah diberikan. Untuk itu, dirinya pun mengkoordinasikan hal ini ke rumah sakit rujukan, dengan mengkomunikasikan terlebih dulu apakah rumah sakit tersebut dapat mengoperasikan ventilator baru tersebut.

"Banyak donatur, dan sudah dibagikan ke rumah sakit. Karena ventilatornya baru, maka kita kontak dulu rumah sakitnya bisa atau tidak mengoperasionalkan ini. Kalau tidak nanti kita kirim ahlinya," ungkapnya.

Ia menyebut, berdasarkan data di rumah sakit yang dipimpinnya, 69,2 persen pasien yang masuk ventilator, meninggal dunia, demikian juga di Jakarta, 70 persen meninggal dunia.

"Ventilator itu hati-hati. Data kita menunjukkan, di (RS) Soetomo 69,2 persen yang masuk ventilator meninggal. Di Jakarta kira-kira 70 persen, di Wuhan, 80 persen," jelasnya.

Untuk itu, ia mengaku saat ini pihaknya tengah melakukan clinical research, seperti penggunaan obat-obatan tertentu. Termasuk diantaranya melakukan clinical trial.

"Kita lakukam clinical research seperti penggunaan Avigan, atau pemakaian aspirin. Semuanya kita coba sesuai dengan kaidah tertentu," pungkasnya. (mdk/ded)

Baca juga:
Update 28 Mei 2020, Pasien Positif Covid-19 di Jakarta 6.929 Orang
5 Cara Tepat Memakai Masker di Masa PSBB
Dibanding Terapkan Kenormalan Baru, Pemerintah Diminta Fokus Tekan Penyebaran Corona
Jelang New Normal, Pemkot Solo Siapkan Regulasi di Sektor Pendidikan
Pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet Berkurang 95 Orang
Kenormalan Baru, Kemenparekraf Siapkan Program Kebersihan di Tempat Wisata

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Curhat Siswa Lulusan Tanpa Ujian Nasional

5