Gunakan Perhitungan Khumasi, Ribuan Warga di Jember Salat Idulfitri Hari Ini

Gunakan Perhitungan Khumasi, Ribuan Warga di Jember Salat Idulfitri Hari Ini
Desa Suger, Kecamatan Jelbuk, Jember Rayakan Idul Fitri. ©2021 Merdeka.com/Muhammad Permana
PERISTIWA | 12 Mei 2021 11:42 Reporter : Muhammad Permana

Merdeka.com - Sebagian warga yang ada di Desa Suger, Kecamatan Jelbuk, Jember, Jawa Timur sudah merayakan Hari Raya Idulfitri pada Rabu (12/5). Perayaan ini lebih awal sehari dari yang ditetapkan pemerintah, yakni pada Kamis (13/5) besok.

Meski demikian, warga yang menggelar salat Id hari ini berpuasa selama 30 hari. Sebab, mereka juga menggelar puasa sehari lebih awal dibanding masyarakat kebanyakan.

"Besok warga di sini juga ada yang salat Id. Warga di sini sudah biasa terbiasa menyikapi perbedaan. Mereka malah senang kalau Idulfitrinya dua kali," ujar KH Ali Wafa, pimpinan Pondok Pesantren Mahfilud Duror usai memimpin salat Idulfitri pada Rabu (12/05) itu.

Pantauan merdeka.com, terdapat 3 masjid di Desa Suger, Kecamatan Jelbuk, Jember yang menggelar Salat Idulfitri hari ini. Dua masjid berada di dalam lingkungan pesantren, masing-masing diperuntukkan untuk jamaah putri dan putra secara terpisah. Satu lagi, yakni di Masjid Al-Barkah yang terletak di pinggir jalan penghubung Jember-Bondowoso atau beberapa ratus meter dari Ponpes Mahfilud Duror.

"Mereka yang ikut penetapan awal puasa dan lebaran dari kita, selain dari santri, juga warga sekitar. Yakni di Desa Suger dan sekitar, termasuk di Bondowoso. Ada juga alumni dari luar daerah yan menggelar salat Id di tempat masing-masing dengan mengikuti ketetapan dari kita," terang Lora Ali, sapaan akrabnya. Lora merupakan panggilan terhadap putra kiai dalam kultur masyarakat Madura, sebagai bentuk penghormatan.

KH Ali Wafa memperkirakan, jumlah warga di Desa Suger yang berlebaran hari ini mencapai seribu orang lebih, berdasarkan kapasitas masjid. Sebagai pemimpin agama di masyarakat, KH Ali Wafa mengaku sudah berusaha mengingatkan warga agar pelaksanaan hari raya Idulfitri mengacu pada protokol kesehatan. "Tadi sebelum salat Id, kita sudah semprot disinfektan di berbagai penjuru masjid. Kita juga bagikan masker, meski jumlahnya memang tidak mencukupi," ujar KH Ali Wafa.

Pantauan merdeka.com, nyaris tidak ada physical distancing dalam pelaksanaan salat Id di dalam masjid. Ribuan jamaah juga ada yang melaksanakan salat id di halaman masjid, karena kapasitas masjid yang tidak memenuhi. Warga juga sebenarnya sudah dihimbau untuk salat id di rumah, sesuai anjuran pemerintah sebelumnya. "Tetapi mereka mengaku tidak bisa kalau salat Id di rumah, tidak hafal bacaannya atau tidak bisa khutbah," papar Lora Ali Wafa.

Warga dan santri di Desa Suger menggelar salat Idulfitri hari ini itu berdasarkan penetapan yang dibuat oleh KH Ali Wafa, selaku pimpinan Pondok Pesantren Mahfilud Duror. Ia menyebut, penetapan itu berdasarkan sistem perhitungan (hisab) tanpa rukyatul hilal, dengan merujuk pada kitab Najhatul Majalis, karya Syaikh Abdurrahman As-Sufuri Asy-Syafii. Sistem tersebut bernama sistem Khumasi.

"Di pesantren ini, insyaallah sudah dilakukan sejak tahun 1911, saat pesantren ini dipimpin oleh kakek saya, KH Muhammad Sholeh. Beliau berguru kepada KH Abdul Hamid Misbat, dari Banyuanyar, Madura," tutur Lora Ali Wafa.

Pada intinya, sistem Khumasi menetapkan awal puasa dan lebaran selisih lima hari dari penetapan tahun sebelumnya. Sistem ini dikemukakan oleh Imam Ja’far Ash-Shodiq, salah satu keturunan Nabi Muhamamd SAW. "Kitab Najhatul Majalis ini setebal 246 halaman, mencakup berbagai hal, tidak hanya soal awal puasa dan lebaran," papar KH Ali Wafa.

Karena dalam bentuk perhitungan, Ali Wafa sudah bisa menetapkan awal bulan Ramadan dan Syawal sejak jauh-jauh hari. Ia biasa berijtihad atau membuat satu kali penetapan untuk jangka waktu 8 tahun. "Tidak selalu berbeda dengan pemerintah. Dalam lima tahun, ada setidaknya 2 hingga 3 kali lebaran yang sama," ujar KH Ali Wafa.

Dalam memimpin salat Idulfitri hari ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, KH Ali Wafa berbagi tugas dengan kerabatnya. KH Ali Wafa menjadi imam dan khatib untuk masjid pria di lingkungan pesantren. Sedangkan menantunya, Lora Bayan, memimpin salat di masjid putri. Sedangkan sang paman, KH Hafid Malik, menjadi imam di Masjid Al-Barkah.

Di akhir khutbahnya, KH Ali Wafa mengajak jamaah untuk membaca al-Fatihah bersama-sama sebanyak tiga kali, agar wabah covid-19 segera berakhir. Usai salat, warga desa langsung berbondong-bondong untuk sowan ke kediaman KH Ali Wafa, sebagai bentuk penghormatan. "Seperti biasa, kita silaturahmi antar sesama setiap habis Idulfitri. Lalu makan-makan. Cuma bedanya, tahun ini seperti tahun kemarin, tidak ada mudik, karena ada korona," tutur KH Ali Wafa dengan ramah.

"Ini sebenarnya saya ingin ajak kalian sarapan, tetapi kan kalian masih puasa," ujar KH Ali Wafa dengan nada bercanda. (mdk/bal)

Baca juga:
Wapres Ma'ruf Amin akan Salat Id di Rumah Dinas
Berbuka dengan Udang Bakar Sambal Matah Semakin Nikmat dengan Minyak Kelapa Sawit
Jemaah Naqsabandiyah di Sumut Salat Id Hari ini
121 Ribu Narapidana Terima Remisi Khusus Idulfitri 2021, 550 Langsung Bebas
Kisah Para Porter: Berharap Rezeki dari Mereka yang Datang dan Pergi

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami