Hakim Ketua yang Mengadili Kasus Suap Bupati Kudus Meninggal

PERISTIWA | 9 November 2019 18:04 Reporter : Ya'cob Billiocta

Merdeka.com - Hakim ketua yang mengadili kasus suap Bupati Kudus Muhammad Tamzil di Pengadilan Tipikor Semarang, Antonius Widijantono meninggal dunia.

Juru bicara PN Semarang Eko Budi Supriyanto membenarkan kabar duka cita hakim ketua yang mengadili perkara Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus Akhmad Shofian, terdakwa kasus dugaan suap terhadap Bupati Kudus.

"Meninggal dunia pada Jumat (8/11) malam," katanya. Dikutip dari Antara.

Dia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab meninggalnya hakim senior PN Semarang itu.

"Jumat sore waktu apel pulang kerja itu masih ikut bersama rekan-rekan kerja yang lain," tambahnya.

Jenazah Antonius akan dimakamkan di TPU Sayegan, Sleman, Yogyakarta. Perkara Akhmad Shofian sudah hampir di penghujung persidangan.

Pada 11 November 2019, persidangan dijadwalkan akan meminta keterangan saksi meringankan sekaligus pemeriksaan terdakwa.

Selain menangani perkara dugaan suap terhadap Bupati Kudus, Antonius tercatat juga pernah mengadili perkara korupsi mantan Bupati Kebumen Yahya Fuad.

Almarhum juga merupakan hakim ketua yang mengadili kasus suap dengan terdakwa mantan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. Selanjutnya, kata Eko, tugas almarhum akan digantikan oleh hakim lainnya.

"Di Tipikor sendiri sudah ada tambahan tiga hakim, jadi nanti tugas Pak Antonius sudah ada penggantinya," terangnya.

1 dari 2 halaman

Perjalanan Kasus Suap Bupati Kudus

KPK menetapkan Tamzil sebagai tersangka kasus dugaan suap jual beli jabatan di Kudus tahun anggaran 2019. Ini merupakan kali kedua Tamzil terjerat kasus korupsi. Tamzil pernah terjerat kasus korupsi dana bantuan sarana dan prasaran pendidikan Kabupaten Kudus tahun anggaran 2004-2005.

Tamzil ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus pada September 2014. Saat berperkara, Tamzil menjabat staf di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Jawa Tengah.

Saat itu Tamzil melakukan tindak pidana korupsi bersama mantan Kadispora Kudus Ruslin dan Direktur PT Ghani & Son Abdul Ghani. Pada Februari 2016, Tamzil divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor Semarang dan dijatuhi hukuman 22 bulan penjara denda Rp100 juta subsider 3 bulan kurungan.

Sementara dalam kasus dugaan suap jual beli jabatan, Bupati Tamzil dijerat bersama dua orang lainnya. Yakni Staf Khusus Bupati Kudus Agus Soeranto, dan pelaksana tugas Sekretaris Dinas Badan Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PPKAD) Akhmad Shofian.

Bupati Tamzil menerima uang suap Rp250 juta dari Akhmad Shofian melalui stafsus Bupati untuk kepentingan membayar mobil Terrano.

2 dari 2 halaman

Bupati Kudus Mengaku Dimanfaatkan 2 Stafnya

Bupati Kudus M Tamzil mengaku dimanfaatkan dua orang bawahannya, staf khusus Agoes Soeranto dan ajudan Uka Wisnu Sejati, dalam kasus dugaan suap berkaitan dengan jual beli jabatan di kabupaten tersebut.

"Saya dimanfaatkan oleh dua staf saya," kata Tamzil usai menjadi saksi dalam kasus dugaan suap yang diberikan Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus Akhmad Shofian di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (4/11). Dikutip dari Antara.

Dia mengaku tidak pernah meminta maupun menerima uang berkaitan dengan mutasi jabatan di Pemerintah Kabupaten Kudus.

Bahkan dia selalu mengingatkan bawahannya saat apel pagi untuk tidak coba-coba memberikan uang berkaitan dengan pengisian jabatan di pemerintah daerah tersebut.

"Pernah ada yang bawa uang ke ruang kerja, saya minta dibawa keluar. Saya takut KPK," ucapnya.

Sementara dalam persidangan yang dipimpin Hakim Ketua Antonius Widijantono itu, Tamzil menjelaskan tentang mekanisme pengisian jabatan di lingkungan pemerintahan kabupaten tersebut.

Dia menjelaskan tentang mekanisme seleksi calon pejabat yang akan mengisi sejumlah posisi di berbagai lembaga di kabupaten itu.

Dalam sidang tersebut, satu saksi atas nama Joko Santoso tidak memenuhi panggilan jaksa karena sakit sehingga berita acara pemeriksaan saat penyidikan perkara itu dibacakan dalam persidangan.

Anggota tim pemenangan yang mendukung M Tamzil dalam Pilkada 2018 itu mengakui memiliki sebuah mobil yang digunakan untuk operasional Tamzil.

Joko mengaku pernah menagih Tamzil agar mobil yang dipinjam itu dikembalikan setelah terpilih menjadi Bupati Kudus.

Joko bahkan meminta agar Tamzil untuk membayar Rp100 juta jika tidak bersedia mengembalikan mobil tersebut. Permintaan joko tersebut, kata jaksa, tidak pernah direspons Tamzil. (mdk/cob)

Baca juga:
Jadi Saksi Kasus Suap, Bupati Kudus Mengaku Dimanfaatkan 2 Staf
KPK Periksa Plt Sekretaris DPPKAD Terkait Kasus Suap
Bupati Kudus Jalani Pemeriksaan Lanjutan
Ekspresi Bupati Kudus Usai Diperiksa KPK
Ekspresi Bupati Kudus Muhammad Tamzil Usai Diperiksa KPK
Staf Khusus Bupati Kudus Diperiksa KPK