Hapus Perundungan di Sekolah, Kak Seto Usul Dibentuk Satgas Libatkan Siswa

Hapus Perundungan di Sekolah, Kak Seto Usul Dibentuk Satgas Libatkan Siswa
PERISTIWA | 16 Februari 2020 23:00 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi menilai kasus perundungan atau bullying di sekolah sudah memprihatinkan. Ia menyebut, fenomena ini di tingkatan SD di Jawa Barat saja mencapai 70 persen anak-anak mengalami perundungan.

"Saya pernah menguji kandidat doktor di sebuah perguruan tinggi di Bandung. Waktu itu di dalam penelitiannya menemukan di dalam Jawa Barat perundungan di SD itu 60 sampai 70 persen mengalami bullying," kata pria yang akrab dipanggil Kak Seto itu kepada, Minggu (16/2).

Hal itu baru temuan di SD, belum lagi perundungan yang terjadi terhadap tunas bangsa di tingkatan SMP, SMA bahkan perguruan tinggi. Terbaru adalah kasus perundungan terhadap seorang siswi di SMP Purworejo.

Menurut dia, salah satu faktor muncul tindakan perundungan disebabkan karena anak-anak penuh dengan energi serta dinamika. Kalau energi ini tidak disalurkan melalui hal-hal yang positif, maka mereka bisa melimpahkan energi itu kepada aktivitas perundungan.

"Jika tidak disalurkan ke dinamika positif, maka mereka menyalurkannya pada dinamakan yang negatif yaitu tawuran, berantem, bullying dan berbagai hal yang negatif. Bahkan bisa menjurus ke narkoba dan sebagainya," tutur dia.

1 dari 2 halaman

Terjadi Pembiaran

Fenomena perundungaan bukanlah hal yang baru, namun hal ini seakan dibiarkan oleh masyarakat. Menurut pakar psikologi anak ini, maraknya perundungaan juga disebabkan respons lambat pelbagai pihak atas fenomena ini.

"Sebetulnya bullying ini terus berkembang karena adanya pembiaran. Karena adanya ketidakpedulian, pengabaian. Betapa berbahayanya bullying ini untuk perkembangan jiwa anak-anak," ungkap dia.

Oleh karenanya Kak Seto meminta berbagai pihak terkait bisa tegas menindak pelaku perundungan. Baik itu pihak sekolah maupun pemerintah. "Tegas dinyatakan bahwa bullying dilarang keras," kata dia.

Lebih jauh ia meminta dibentuknya satuan tugas (Satgas) Anti Bullying yang melibatkan berbagai unsur, baik itu guru, siswa dan juga orang tua siswa.

Satgas ini, lanjut Kak Seto, diharapkan bisa melibatkan anak-anak itu sendiri. Mereka diikutsertakan guna menyusun apa sanksi bagi pelaku perundungaan.

"Sehingga jika ada anak yang melakukan (bullying) dan diberikan sanksi bukan karena dendam dari guru, namun memang sistem yang telah dibangun bersama gitu," pungkasnya.

2 dari 2 halaman

Perundungan di SMP Purworejo

Sebelumnya, dalam sebuah video yang beredar di media sosial menampilkan tiga siswa laki-laki melakukan perundungan kepada seorang siswi. Siswi berkerudung tersebut bahkan ditendang dan dipukul oleh mereka.

Diketahui peristiwa tersebut terjadi di salah satu SMP swasta di Purworejo, Jawa Tengah. Polisi telah menetapkan ketiganya sebagai tersangka.

Menurut Kabid Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Iskandar Sutisna ketiganya yang diketahui atas inisial TP, DF, UHA, tega melakukan perundungan usai korban CA menolak memberikan sejumlah uang.

"Bahwa murid wanita ini dipalak, dimintai uang, oleh tiga pelaku," kata Iskandar saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (13/2).

CA lalu justru melaporkan aksi pemalakan tersebut kepada guru. Aksinya itu membuat ketiga tersangka berang hingga melakukan perundungan ke korban.

"Karena tidak dikasih dan dilaporkan ke guru, akhirnya tiga pelaku marah dan menganiaya," terang dia.

Reporter: Yopi Makdori (Liputan6.com) (mdk/did)

Baca juga:
Siswi Korban Bullying di SMP Purworejo Alami Trauma
Masih di Bawah Umur, 3 Tersangka yang Bully Siswi di SMP Purworejo Tak Ditahan
Ganjar Rayu Korban Perundungan Purworejo Pindah ke Sekolah Khusus, Biaya Ditanggung
Ganjar Pertimbangkan Tutup SMP di Purworejo yang Jadi Tempat Perundungan
Setop Perundungan di Sekolah
3 Siswa di Purworejo Aniaya Siswi karena Aksi Pemalakan Dilaporkan ke Guru

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami