Harga Sawit Pecah Rekor, Petani Keluhkan Pupuk Ikut Melambung

Harga Sawit Pecah Rekor, Petani Keluhkan Pupuk Ikut Melambung
Petani kelapa sawit. ©ANTARA/Syifa Yulinnas
NEWS | 12 Oktober 2021 23:30 Reporter : Abdullah Sani

Merdeka.com - Dinas Perkebunan Riau mengumumkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Riau naik dan menyentuh angka Rp3.000 per kilogram. Kenaikan ini memecahkan rekor sepanjang sejarah dunia persawitan di Indonesia.

Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat ME Manurung menilai, kenaikan harga sawit juga diikuti kenaikan harga pupuk.

"Kita sangat bersyukur harga buah sawit naik drastis menjadi Rp3.000. Tapi, produsen pupuk justru ikut menaikkan harga pupuk. Jadi yang bukan petani yang beruntung, tapi produsen pupuk yang kaya mendadak," kata Gulat kepada merdeka.com, Selasa (12/10).

Gulat mengaku sudah memprediksi kenaikan harga buah sawit. Alasannya, terdapat beberapa faktor yang muncul dan mendongkrak harga TBS.

"Asumsinya jelas, dunia semakin sadar sawit dengan menanam dan panen. Kedua pandemi negara lain tidak bisa produksi tanaman kandungan minyak nabati. Selain sawit tak produktif, sehingga sawit menjadi sasaran," jelas Gulat.

Pria plontos itu juga mengatakan, sebelumnya banyak negara di Eropa hanya sebagai pengguna minyak sawit. Belakangan ini mereka justru menjadi reseller.

"Jadi, bahan baku minyak sawit dibeli dan distok guna memenuhi kebutuhan mereka. Selanjutnya juga diolah dan dijual kembali," ucap Gulat.

Meski demikian, Gulat mengingatkan harga buah sawit tinggi ini juga tak lepas dari peran program B30 atau biodiesel yang dihadirkan Presiden Joko Widodo di konsesi domestik.

"Keberhasilan B30 mendongkrak harga sawit menjadi naik," imbuhnya.

Gulat berharap, meski harga buah sawit naik, pemerintah juga memantau harga pupuk. Sebab saat ini harganya juga melambung tinggi yang dikhawatirkan justru mencekik petani.

"Harga pupuk naik rata-rata mulai 80-120 persen. Ini perlu juga dicari tahu oleh pemerintah. Kita juga ingatkan pabrik pupuk pelat merah jangan ikut-ikutan menaikkan, karena faktanya pabrik pupuk pelat merah lebih dulu menaikkan. Maka kami minta Presiden perhatikan ini," tandasnya.

Gulat berharap Presiden Jokowi turun tangan mengatasi kenaikan harga pupuk di Indonesia. Alasannya, harga bahan pupuk di pasaran tidak ada yang naik.

"Semoga Pak Presiden Jokowi memperhatikan kenaikan harga pupuk ini. Sebab, bahan pokok pembuatan pupuk kimia tidak naik. Jadi tak layak pupuk dinaikkan hingga 100 persen," harap Gulat. (mdk/yan)

Baca juga:
PT Nusantara Sawit Sejahtera Berencana IPO di November 2021
Pertamina Siapkan Kilang Cilacap dan Dumai Produksi Bioavtur
Pengembangan Bioavtur Sebagian Besar Didanai BPDPKS
Pertamina Minta Dukungan Alokasi Bahan Baku Kembangkan Bioavtur 5 Persen
Airlangga Perkirakan Pangsa Pasar Bioavtur J2,4 Capai Rp1,1 Miliar
Menko Airlangga Sebut B30 Efektif Turunkan Emisi Karbon dan Hemat Devisa Rp113 T

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami