Hidupkan Tradisi, Wapres Ma'ruf Dukung Program Magrib Mengaji

Hidupkan Tradisi, Wapres Ma'ruf Dukung Program Magrib Mengaji
PERISTIWA | 27 Oktober 2020 18:33 Reporter : Eko Prasetya

Merdeka.com - Juru Bicara Wakil Presiden Maruf Amin, Masduki Baidlowi mendukung bila tradisi baik mengaji sehabis Magrib diprogramkan lagi oleh calon kepala daerah yang bertarung dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) 9 Desember 2020. Ia menilai program tersebut dapat membangkitkan lagi tradisi yang banyak hilang tersebut di masyarakat, khususnya umat Islam.

"Mengaji sehabis Magrib itu kan tradisi lama, zaman sebelum ada televisi, radio, gawai. Kalau dulu orang setelah Magrib mengaji, sekarang nonton TV, main ponsel dan game online, jadi kalau itu mau dihidupkan lagi, saya kira baik sekali, saya sangat mendukung," ujar Baidlowi dalam pernyataan tertulis yang diterima wartawan di Jakarta, dilansir Antara, Selasa (27/10).

Baidlowi mengatakan tradisi Salat Magrib berjemaah yang dilanjutkan mengaji sampai waktu Salat Isya berjemaah bisa membentuk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang baik.

"Ajaran agama yang rahmatan lil alamin diajarkan di situ, saat anak-anak mengaji. Bahkan yang lebih senior biasanya setelah Isya masih mengaji kitab yang lebih dalam. Itulah tradisi kita dulu," kata Baidlowi.

Ia mengatakan, dalam kegiatan kampanye atau pilkada, calon kepala daerah memang selayaknya mengusung program yang juga menyentuh aspek religi. Menurut Baidlowi, proses demokrasi tidak harus selalu diisi kampanye yang berisi program pembangunan semata seperti ekonomi atau infrastruktur, tapi juga pembangunan manusia yang berakhlak, dengan landasan keagamaan.

"Mengaji tentu saja dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Itu sangat luar biasa, saya sangat mendukung," katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, KH Cholil Nafis mengatakan hal senada. Program itu patut didukung.

"Saya kira itu program yang baik dan patut didukung, mengaji setelah Magrib sampai Isya itu memang budaya dan tradisi yang harus dilestarikan, kalau yang sudah bisa baca ya baca Alquran, kalau belum bisa baca, ya murojaahnya, atau mengulang," ujar Cholil.

Ia mengatakan, penerapan program itu juga harus disesuaikan kondisi masyarakat di masing-masing daerah.

"Tentunya program ini hanya berlaku untuk keluarga muslim. Memang sangat baik kita lestarikan setiap Magrib itu semua kembali ke rumah, atau bisa juga mengaji di langgar (musala) atau masjid terdekat," kata Cholil.

Selain itu, kata dia, perlu ada pengaturan juga waktu mengaji dan waktu belajar di sekolah. Selama pandemi Covid-19, kata Cholil, masyarakat mungkin lebih banyak melakukan kegiatan di dalam rumah, namun setelah pandemi bisa saja kegiatan kembali dilakukan di rumah ibadah.

"Nanti mungkin ada perubahan setelah pandemi, kepala daerah juga perlu aktif menghidupkan kembali kegiatan di masjid-masjid dan musala," ujarnya. (mdk/eko)

Baca juga:
Wapres: Lembaga Keuangan Syariah Makin Terkonsolidasi Setelah Lahirnya OJK
Wapres: Keuangan Syariah Mampu Jadi Instrumen Akselerasi Ekonomi Akibat Pandemi
Wapres: Merger Bank Syariah BUMN Diharapkan Mampu Bersaing di Tingkat Global
Ma'ruf Amin Kritik Keuangan Syariah Belum Optimal Bantu Masyarakat Kelas Bawah
Ma'ruf: Saat Ini Tidak Sedikit Berdakwah Agama Islam dengan Wajah Garang

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT
more tag

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami