Hotspot di Sumsel Tercatat 799 Titik, Meningkat Drastis dari Tahun Lalu

PERISTIWA | 14 Agustus 2019 22:31 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Jumlah hotspot (titik panas) hingga 13 Agustus 2019 di Sumatera Selatan tercatat mencapai 799 titik. Hotspot tahun ini meningkat drastis di banding sepanjang tahun lalu.

Kabid Penanganan Kedaruratan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Ansori mengungkapkan, hotspot terbanyak masih berada di daerah rawan karhutla. Seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir (140 titik), Musi Banyuasin (124), Penukal Abab Lematang Ilir (76), Banyuasin (70), Ogan Ilir (68), dan juga tersebar di beberapa daerah lain.

"Dari satelit Lapan hotspot tahun ini cenderung lebih banyak dibanding tahun lalu. Sampai kemarin ada 799 hotspot, sedangkan sepanjang tahun 2018 ada 664 titik," ungkap Ansori, Rabu (14/8).

Meski sudah berada di atas 700 titik meski kemarau belum berakhir, jumlah tersebut belum seberapa dibandingkan tahun 2015 dengan total 2.941 titik. Di tahun itu tercatat sebagai karhutla terparah di Indonesia.

"Tapi kemungkinan besar meningkat terus karena kemarau tahun ini diprediksi berakhir Oktober nanti," kata dia.

Dikatakannya, hotspot di Sumsel terus meningkat sejak Mei 2019 dengan jumlah 138 titik dari sebelumnya hanya 35 titik di April 2019. Pada Juni 2019 terjadi penurunan berjumlah 98 titik, dan kembali meningkat pada bulan berikutnya di angka 256 titik. Hingga tertanggal 13 Agustus 2019 sudah ada 232 titik.

"Semakin kering dan memasuki puncak kemarau, hotspot bertambah terus," kata dia.

Sementara luas lahan yang terbakar sepanjang tahun ini ada 572 hektar. Terbanyak berada di Ogan Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ulu, dan Musi Rawas.

"Sejauh ini belum ditemukan kabut asap di Sumsel," pungkasnya.

(mdk/cob)

TOPIK TERKAIT