ICW Nilai KPK Era Agus Rahardjo Minim Terapkan TPPU di Perkara Korupsi

PERISTIWA | 12 Mei 2019 17:47 Reporter : Ronald

Merdeka.com - Indonesia Corruption Watch (ICW) menilai selama hampir lima tahun atau di bawah Agus Rahardjo, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum maksimal menggunakan pasal tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam menangani sebuah perkara. Padahal, pasal TPPU penting digunakan untuk mengembalikan kerugian uang negara dan memberi efek jera terhadap koruptor.

"KPK pada era kepemimpinan Agus Rahardjo cs masih terhitung minim menggunakan aturan TPPU pada setiap penanganan perkara," kata Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW, Kurnia Ramadhana di kantornya, Jakarta Selatan, Minggu (12/5).

ICW mencatat dalam kurun 2016 hingga 2018, Agus dkk hanya menerapkan pasal TPPU terhadap 15 perkara. Padahal, dalam tiga tahun terakhir ada ratusan perkara yang berpeluang dijerat dengan pasal TPPU.

"Ini menunjukkan bahwa KPK belum mempunyai visi untuk asset recovery, dan hanya berfokus pada penghukuman badan," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengatakan, keterkaitan TPPU dengan praktik korupsi sangat erat, baik segi yuridis maupun realitas. Untuk Yuridis, lanjutnya, korupsi secara spesifik disebutkan sebagai salah satu predicate crime dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010.

"Artinya, TPPU salah satunya dapat diawali dengan perbuatan korupsi. Selain itu, realitas sekarang menunjukkan bahwa pelaku korupsi akan berusaha menyembunyikan harta yang didapat dari praktik korupsi dengan menyamarkan kepemilikan harta. Dengan disembunyikannya harta tersebut maka seharusnya aturan TPPU dapat dikenakan pada setiap pelaku korupsi," bebernya.

Lebih lanjut ia mengatakan, setidaknya ada tiga keuntungan bagi KPK jika menggunakan pasal TPPU pada pelaku korupsi. Pertama, menggunakan pendekatan follow the money.

"Kedua, memudahkan lapangan penuntutan karena mengakomodir asas pembalikan beban pembuktian. Dan terakhir, memaksimalkan asset recovery," katanya.

Meskipun demikian, ICW tetap mengapresiasi kinerja KPK sepanjang 2015 hingga 2018. Hal ini dilihat dari penetapan tersangka dan jumlah kasus yang ditangani Lembaga Antirasuah setiap tahunnya.

"Total yang ditetapkan sebagai tersangka pada 2018 yakni 261 orang dengan jumlah kasus sebanyak 57. Sedangkan, pada 2017, KPK hanya menetapkan 128 orang tersangka dengan 44 kasus. Kemudian pada tahun 2016 lembaga anti korupsi itu menetapkan 103 tersangka dengan 35 kasus," pungkasnya.

Baca juga:
ICW Minta KPK Fokus Tuntaskan Kasus Korupsi BLBI
ICW Minta KPK Segera Putuskan Nasib Menpora Imam Nahrawi dan Menag Lukman Hakim
ICW Sebut Ratusan Pegiat Anti Korupsi Menjadi Korban Kekerasan
ICW: Kinerja DPR 2014-2019 Hanya 10 Persen dari Target Prolegnas
ICW: Korupsi Anggota DPR/D Periode 2014-2019 Sangat Memprihatinkan
ICW Gelar Aksi Teatrikal di Depan Gedung Mahkamah Agung

(mdk/did)