IDI Desak Pihak Rumah Sakit Selidiki Penyebar Foto dan Data Medis Cabup Musi Rawas

IDI Desak Pihak Rumah Sakit Selidiki Penyebar Foto dan Data Medis Cabup Musi Rawas
PERISTIWA | 30 Oktober 2020 17:33 Reporter : Irwanto

Merdeka.com - Persoalan menyebarnya foto dan data medis calon Bupati Musi Rawas, Sumatera Selatan, Ratna Machmud saat sedang menjalani isolasi karena terpapar Covid-19 di Rumah Sakit Umum Pusat Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang mendapat tanggapan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). IDI menyebut pelaku dapat dikenakan sanksi administrasi dan pidana.

Ketua IDI Palembang Zulkhair mengungkapkan, pembocoran foto dan jejak medis pasien melanggar kode etik kedokteran. Pelakunya dapat dijerat hukum sesuai perundang-undangan.

"Foto dan rekam medis pasien tidak boleh disebarluaskan tanpa seizin pasien, itu melanggar kode etik," ungkap Zulkhair, Jumat (30/10).

IDI mendesak pihak RSMH dapat menuntaskan masalah ini untuk mengungkap pelakunya. Apalagi foto pasien diambil dari CCTV rumah sakit sehingga tidak sembarang orang mendapatkannya.

"Harus diselidiki, kami sudah koordinasikan dengan manajemen RSMH, mereka siap melakukannya," kata dia.

Dia menegaskan, jika pelaku adalah dokter atau perawat maka nantinya menjalani sidang kode etik oleh majelis. Sanksi yang dikenakan di antaranya pencabutan surat izin praktik dan belajar kode etik kembali selama tiga bulan.

"Foto dan rekam media pasien bisa dikeluarkan rumah sakit jika seizin pasien dan kepentingan hukum yang diperlukan kepolisian, hakim dan pengadilan. Kalau tidak memaafkan, keluarga bisa membawa kasus ini ke ranah hukum," kata dia.

Ketua IDI Sumsel Rizal Sanif mengatakan, setiap orang tidak diperkenankan menyebarluaskan foto pasien terlebih ke media sosial. Bahkan, larangan mengambil gambar pasien dipasang melalui spanduk di setiap rumah sakit karena bersifat privasi.

"Semua orang tahu mengambil foto pasien dilarang, tapi masih ada pelanggaran. Tapi untuk rekam medis pasien yang menyebar sampai heboh baru kali ini terjadi, mungkin pasiennya berstatus cabup," kata dia.

"Bisa saja ada orang yang sengaja jahil karena pasien Cabup, dia sengaja membocorkan ke media sosial," sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, keluarga Ratna Machmud berang dengan beredarnya foto dan data medis di media sosial. Keluarga sepakat memperpanjang kasus ini dengan melapor ke polisi.

Foto tersebut pertama kali di-posting oleh akun Facebook atas nama Ahmad Fadili yang diambil dari layar monitor CCTV rumah sakit. Lantas dalam waktu singkat, foto dan data medis pasien tersebut menyebar di media sosial.

Mohammad Al Amin, salah seorang keluarga pasien Ratna Machmud mengecam keras ulah penyebar yang diduga pegawai RSMH Palembang yang tanpa izin mengambil foto dan rekam medis saat Ratna sedang isolasi karena terpapar Covid-19. Dia menduga pelaku sengaja menyebarkannya dengan tujuan politis karena pasien berstatus sebagai Cabup Musi Rawas.

"Ini ranah privasi pasien, tidak boleh disebarluaskan ke publik, apalagi tanpa izin. Kami sayangkan oknum pegawai RSMH mengambil foto pasien dari CCTV," ungkap Amin, Kamis (29/10).

Dikatakannya, virus corona bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu. Namun, hal itu menjadi permainan politik oknum-oknum tertentu untuk menjatuhkan citra Ratna Macmud di mata pemilih.

"Kami nilai pelaku sengaja mencari foto-foto dan data medis itu dari rumah sakit. Kami tidak terima dibuat permainan politik," kata dia.

Oleh karena itu, pihaknya berencana melaporkan kasus ini ke polisi agar pelaku dapat diungkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aksi pelaku melanggar Pasal 322 KUHP tentang membuka rahasia kedokteran dengan ancaman sembilan tahun penjara.

Selain itu pelaku juga dikenakan sanksi perdata karena pasien dapat meminta ganti rugi sesuai Pasal 1365 juncto Pasal 1367 KUH Perdata. Pelaku juga melanggar administratif berdasarkan PP Nomor 10 Tahun 1966 yang menyatakan tenaga kesehatan yang membuka rahasia kedokteran dapat dikenakan sanksi administratif.

"Sekali lagi kami tidak terima dengan perbuatan pelaku. Proses hukum akan kami lanjutkan," tegasnya.

Sementara itu, Humas RSMH Palembang Suhaimi turut menyesalkan foto dan rekam medis pasien tersebar luas di media sosial. Menurut dia, data tersebut tidak bisa menjadi konsumsi publik terlebih tanpa izin pasien.

"Ya kami sudah mendapat kabar itu, kami juga sesalkan kenapa bisa terjadi," ujarnya.

Pihaknya kini tengah menyelidiki pelaku yang ada kemungkinan berasal dari pegawai RSMH Palembang. Sebab, foto tersebut diambil melalui rekaman CCTV yang dikelola rumah sakit.

"Bisa saja orang dalam, kami masih menyelidki siapa orangnya. Senin nanti mungkin dikabari lagi karena sekarang sedang libur," ujarnya.

Terkait rencana keluarga pasien yang akan melanjutkan kasus ini ke ranah hukum, Suhaimi menyebut itu adalah hak mereka. Hanya saja dia berharap masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

"Kami minta maaf atas kejadian ini. Kalau bisa diselesaikan secara kekeluargaan saja," pungkasnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Kampanye Virtual Minim, Paslon Pilkada di Jateng Lebih Suka Temui Langsung Warga
Pasien Covid-19 di Medan Tetap Bisa Gunakan Hak Pilih Saat Pilkada, Begini Caranya
Cawali Surabaya Machfud Arifin Ingin Bangun Distrik Inovasi & Stadion E-Sports
KPU Medan: Pasien Positif Covid-19 Tetap Bisa Gunakan Hak Pilih
Khofifah Tegaskan Sikap Muslimat NU Netral di Pilkada 2020

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami