IDI Dukung Pembelajaran Tatap Muka di Pesantren

IDI Dukung Pembelajaran Tatap Muka di Pesantren
khatam quran di tengah pandemi. ©2020 Merdeka.com/Arie Basuki
NEWS | 17 September 2021 15:04 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Pembukaan pesantren di tengah pandemi COVID-19 dapat dilakukan. Syaratnya, para santri dan pengasuh sudah divaksinasi dan seluruh protokol kesehatan diterapkan secara ketat.

Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengatakan, sudah 75 juta orang menerima vaksinasi dosis pertama hingga 15 September 2021.

“Kondisi membaik, tetapi harus tetap waspada. Silakan buka pesantren. Selama memenuhi prokes,” ujarnya dalam Istighotsah Nahdlatul Ulama dan Penguatan Informasi COVID-19 di Indonesia.

Prof. Zubairi mengingatkan, orang dengan banyak komorbid atau penyakit penyerta justru semakin memerlukan vaksin. Vaksinasi hanya perlu ditunda selama kondisi tubuh belum memungkinkan.

“Silakan konsultasi ke fasilitas kesehatan. Siapa yang belum vaksinasi, secepatnya daftar. Karena semakin mudah. Pada prinsipnya, dalam kondisi pandemi, yang terbaik adalah yang di dekat kita,” ujarnya.

Majelis Ulama Indonesia menegaskan kembali bahwa vaksin halal dan boleh dipakai. Mencegah penyebaran COVID-19 juga dinyatakan sebagai ibadah. Ketua Bidang Dakwah MUI KH Cholil Nafis mengatakan, sangat jelas bahwa semua penyakit ada obatnya. COVID-19 pun tidak lepas dari hal itu. “Kita disuruh berobat,” ujarnya.

MUI telah meneliti seluruh 9 vaksin yang diizinkan beredar di Indonesia. Ada vaksin yang dipastikan halal dan suci sejak proses awal hingga akhir. Di sisi lain, ada vaksin yang bersentuhan dengan zat haram selama prosesnya. Meski demikian, MUI berpendapat vaksin-vaksin itu tetap boleh digunakan.

“Bukan diubah dari haram menjadi halal, melainkan dibolehkan,” kata dia.

Kebolehan itu didasarkan pada kondisi darurat. Vaksin yang dipastikan halal dari awal sampai akhir hanya bisa mencukupi sebagian kebutuhan vaksin. Karena itu, vaksin lain diperlukan untuk memenuhi target vaksinasi.

KH Cholil Nafis mengingatkan, Islam sangat menganjurkan menghindari bahaya. Bahkan, pencegahan penyebaran COVID-19 termasuk ibadah bagi muslim karena menghindari bahaya bagi lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, Ketua Satuan Tugas NU Peduli COVID-19, Makki Zamzami, membenarkan bahwa ada banyak kabar bohong atau hoax soal COVID-19. Bahkan, hoaks tersebar di sejumlah warga NU. Satgas NU Peduli COVID-19 menjadikan pemberantasan hoaks sebagai salah satu program prioritas.

“Apalagi, dulu di awal-awal informasinya masih berubah terus,” ujarnya.

Di Indonesia, 92 persen hoaks tersebar di media sosial. Sebanyak 41 persen di antaranya merupakan hoaks terkait kesehatan. Meski demikian, kini semakin banyak warga NU sadar kesehatan dan bahaya COVID-19. Pesantren dan para pengasuhnya adalah salah satu yang aktif melawan COVID-19. (mdk/ray)

Baca juga:
75 Persen Santri di DIY Sudah Divaksinasi Covid-19
Jokowi Kirim Tim Bantu Ponpes Asy-Syuhada Pelaihari Kalsel Bangun Rusun
Santriwati Ini Lantang Baca Puisi di Depan Jokowi, Dihadiahi Sepeda
Tinjau Vaksinasi di Ponpes Aceh, Jokowi Harap Santri Terlindung dari Covid-19
Wapres Sebut Pemerintah Sedang Hitung Anggaran Dana Abadi Pesantren

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami