Idul Fitri, KH Said Aqil minta umat muslim perkuat silaturahmi

Idul Fitri, KH Said Aqil minta umat muslim perkuat silaturahmi
PERISTIWA | 25 Juni 2017 04:00 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj meminta kepada semua umat Islam untuk menjadikan momen Idul Fitri sebagai waktu untuk kembali memperkuat persatuan dan mempererat tali silaturahmi. Sebab, belakangan ada sedikit gesekan antara sesama umat Islam.

"Setelah satu bulan kita berhasil, sukses, melawan hawa nafsu kita, tinggal kita sempunakan dengan silaturahim. Terutama muda pada yang tua, murid pada guru, kita sebagai tokoh masyarakat supaya mempererat persaudaraan kembali," ungkap Kiai Said di Command Center PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (24/6).

Dia mengatakan mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan dan saling mendoakan adalah buah dari upaya mengalahkan hawa nafsu pada bulan puasa yang telah dijalani dengan penuh keikhlasan.

"Artinya umat Islam sudah berhasil mengendalikan hawa nafsunya. Dengan iklas. Kalau tidak iklas, tidak bisa," katanya.

"Mari kita lupakan masa lalu. Mari kita bangun masa depan yang lebih baik," tambahnya.

Memasuki hari Idul Fitri kalimat 'minal aidin wal faizin' sudah sangat familiar di telinga masyarakat. Ternyata sebagian orang kurang tepat dalam menggunakan ungkapan. Mereka beranggapan bahwa kata tersebut sebagai ungkapan permintaan dan pemberian maaf, sehingga 'Minal aidin wal faizin' sering diartikan sebagai 'Mohon maaf lahir dan batin'.

Menurutnya, ungkapan itu bukan ungkapan permohonan maaf, melainkan sebuah doa yang keluar sebagai tanda terjalin ya silaturahmi.

"Silaturahim itu dengan mengucapkan doa, mudah-mudahan Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali kembali ke fitrah, suci kembali, wal faizin dan orang-orang yang menang melawan hawa nafsu," jelas dia..

Karena itulah dia kembali menegaskan bahwa ungkapan tersebut adalah doa untuk keselamatan dan kebaikan sesama. "Jadi doa itu. Bukan minta maaf. 'Minal aidin, minta maaf ya', jawabnya 'wal faizin, sama-sama' bukan. Itu doa," katanya.

Lebih jauh ia kembali menjelaskan tentang kekhasan Islam Nusantara yang membuatnya berbeda dengan Islam di Arab. Salah satunya adalah acara yang disebut halal bi halal. "Di Indonesia sebagai Islam Nusantara, tipologi nya beda sama sama sekali, dengan Arab beda. Ada acara namanya halal bi halal," katanya.

Alumni University of Umm al-Qura, jurusan Aqidah (Filsafat Islam) ini, menjelaskan halal bil halal merupakan kalimat dengan struktur bahasa Arab namun, sangat khas Indonesia.

"Halal bi halal strukturnya bahasa Arab itu. Tapi orang Arab nggak paham. Di kamus bahasa Arab nggak ada itu. Orang arab nggak paham 'Apa sih halal bi halal?' Eh ternyata silaturahim," jelasnya.

Kerena itulah ia mengatakan Islam nusantara merupakan Islam yang khas dengan budaya Indonesia. "Di sana nggak ada. Itu bahasa Arab Indonesia itu. Itu Arab nusantara. Pada dasarnya itu silaturahim. Itulah tipologi Islam nusantara," ujarnya.

Kerena itulah ia mengharapkan segenap umat Islam di indonesia mesti berbangga sebagai orang Indonesia, memegang teguh ajaran Islam juga kebudayaan Indonesia.

"Kita adalah bangsa Indonesia yang punya kepribadian sendiri, karakter sendiri. Apa itu? Islam yang berbudaya. Kita tetap saja orang Indonesia. Kita beragama islam tapi tetap orang Indonesia," pungkasnya. (mdk/ded)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami