Imbas Virus Corona, Tradisi Unggahan Banokeling di Banyumas Digelar Terbatas

Imbas Virus Corona, Tradisi Unggahan Banokeling di Banyumas Digelar Terbatas
PERISTIWA | 26 Maret 2020 11:50 Reporter : Abdul Aziz

Merdeka.com - Masyarakat Adat Banokeling akan membatasi jumlah anak putu adat yang akan mengikuti tradisi unggahan jelang Ramadan di Desa Pekuncen, Jatilawang, Banyumas. Pembatasan dilakukan untuk menghindari kerumunan guna mencegah penyebaran virus Corona.

Tradisi Unggahan biasanya dihadiri oleh ribuan trah Banokeling yang berkumpul di Desa Pekuncen. Komunitas adat ini akan melakukan selamatan besar-besaran dengan menyembelih puluhan hewan ternak kemudian ziarah massal ke Makam Kiai Banokeling.

Peserta yang hadir dari berbagai wilayah mulai dari Banyumas, Cilacap juga anak putu Banokeling yang merantau di berbagai tempat.

Ketua Komunitas Adat Banokeling, Sumitro mengatakan keputusan pembatasan tradisi unggahan merupakan hasil musyawarah adat pada Rabu (25/3) malam. Anak putu di luar Desa Pekuncen yang diperbolehkan ikut dalam unggahan cukup diwakili oleh kiai kunci.

Laku jalan kaki dari sejumlah wilayah Cilacap ke Desa Pekuncen yang jadi tradisi Banokeling ditiadakan. Sedangkan, anak putu yang merantau di luar kota dilarang untuk pulang menghadiri unggahan.

"Ini baru pertama kali terjadi memang. Tapi ini untuk kebaikan bersama," kata Sumitro, Kamis (26/3).

1 dari 2 halaman

Semedi untuk Tangkal Corona

Sumitro bercerita, dalam sistem pengetahuan turun temurun di Banokeling, virus corona yang telah menjadi pandemi merupakan bentuk lain dari upas. Upas dalam pengertian masyarakat adat Banokeling yakni wabah atau racun dalam pengertian bahasa Banyumas. Wabah ini dipercaya terjadi karena ulah manusia merusak bumi atau lingkungan.

Demi menangkal upas, masyarakat adat banokeling melakukan pendekatan religius dengan semedi atau bertapa. Semedi ini dilakukan dengan menyepi di areal makam Banokleing oleh 6 kesepuhan yang merupakan pimpinan spiritual adat yakni kiai kunci dan para Bedogol. Semedi dilakukan sebagai penyuwunan atau permintaan pada sang pencipta untuk segera menghentikan wabah.

"Upas niku panase pitung panungkul (berhawa panas). Semedi untuk adang-adangan (penghadang) upas," kata Sumitro.

Virus atau upas yang telah mewabah begitu luas diyakini bisa dilawan dengan semedi menyepikan diri. Mendekatkan diri pada sang Pencipta untuk mengevaluasi segala perilaku yang membuat alam jadi marah.

"Di rumah saja baiknya selama wabah ini belum pergi. Lakukan semedi" jelas Sumitro.

2 dari 2 halaman

Acara Tradisi di Banyumas Dibatalkan

Tak cuma Tradisi Unggahan Banokeling, sejumlah agenda budaya di Banyumas juga terpaksa harus dibatalkan imbas virus corona. Kepala Seksi Nilai Tradisi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Mispan menyebutkan, agenda tradisi yang ditiadakan tahun 2020 ini yakni pawai budaya Tawur Agung Kesanga dalam rangka Hari Raya Nyepi, Haul Syekh Makdum Wali dan kegiatan ziarah di Ndalem Santri Kutaliman.

Meski begitu, masih ada acara adat yang digelar seperti prosesi Jaro Rojab di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon pada 22 Maret lalu. Namun, ritual mengganti pagar di sekitar Masjid Saka Tunggal dilangsungkan terbatas, hanya melibatkan masyarakat adat setempat.

"Saat ganti pagar, masyarakat adat melakukan tapa bisu tanpa berbicara satu sama lain," kata Mispan. (mdk/ray)

Baca juga:
RS Darurat Corona Wisma Atlet Hanya Bisa Terima Pasien 15 Tahun ke Atas
Secuil Doa di Masker Plastik Buatan Biksu Buddha Thailand
Tekan Penyebaran Corona, Polda Metro Tutup Pengurusan SIM Hingga 29 Mei 2020
Tata Cara Bila Ingin Periksa ke RS Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran
Pangdam Jaya: Skenario Terburuk Kasus Corona di DKI Bisa Mencapai 8.000 Orang

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami