Ini Empat Tokoh Nasional yang Jadi Target Pembunuh Bayaran Aksi 22 Mei

PERISTIWA | 28 Mei 2019 14:39 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Polisi telah menangkap kelompok penyusup dalam aksi damai di Jakarta 21-22 Mei yang berakhir dengan kerusuhan. Enam ditetapkan sebagai tersangka yang melakukan jual beli senjata api (senpi) ilegal. Mereka juga berencana membunuh tokoh nasional dan pimpinan lembaga survei.

Polisi menyebut empat tokoh nasional tersebut merupakan pejabat negara. Kapolri Jenderal Tito Karnavian membeberkan nama empat tokoh yang jadi target para pembunuh bayaran ini. Pertama, Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan dan terakhir adalah staf khusus presiden bidang intelijen dan keamanan, Goris Mere.

"Pak Wiranto, Pak Luhut, yang ketiga Kabin (Budi Gunawan), Keempat Pak Goris Mere," ujar Tito di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (28/5).

Selain menargetkan empat tokoh nasional, kelompok ini juga berencana membunuh pimpinan lembaga survei. Namun Tito tidak menyebutkan nama pimpinan lembaga survei yang dimaksud.

"Yang survei saya tidak mau sebut," singkatnya.

Di tempat sama, Menko Polhukam Wiranto menuturkan, rencana pembunuhan terhadap pejabat negara dimaksudkan untuk menghadirkan rasa takut. Sehingga pejabat yang dimaksud mengurangi aktivitasnya dan menjadi lemah.

"Tetapi kita tidak seperti itu. Meski diancam pembunuhan, kita tetap bekerja keras. Karena orientasi kami keselamatan negara," kata Wiranto.

Mantan Panglima ABRI ini tidak gentar dengan ancaman pembunuhan terhadapnya. Dia percaya pada pemilik kehidupan.

"Kita tidak surut. Nyawa di tangan Tuhan yang Maha Kuasa, Allah SWT," tegasnya.

Meski demikian, Wiranto menginstruksikan pada Polri untuk mengusut tuntas skenario dan kelompok pembunuh bayaran ini.

"Mudah-mudahan dari kepolisian bisa mengusut tuntas rencana pembunuhan serius. Tidak hanya empat orang tapi pejabat lain. kita teguh tegakkan kebenaran."

Sebelumnya, polisi menangkap kelompok penyusup dalam aksi damai di Jakarta 21-22 Mei yang berakhir dengan kerusuhan. Enam ditetapkan sebagai tersangka yang melakukan jual beli senjata api (senpi) ilegal. Mereka juga berencana membunuh tokoh nasional dan pimpinan lembaga survei.

"(Tokoh nasional yang akan dibunuh) itu pejabat negara, tapi bukan presiden," ujar Kadiv Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal di Kantor Kemenkopolhukan, Jakarta, Senin (27/5).

Para tersangka, ungkap Iqbal, telah melakukan sejumlah survei sebelum membunuh targetnya.

"Sudah digambar, di-mapping oleh mereka. Setting-nya negara ini akan goyang, tapi Allah sayang sama negara ini, kami akhirnya mengungkap kasus ini," kata dia.

"Tersangka diminta membunuh dua orang tokoh nasional. Kemudian tersangka mendapat perintah membunuh dua tokoh nasional lainnya. Jadi empat target kelompok ini menghabisi nyawa tokoh nasional," ungkap Iqbal.

Selain berencana membunuh empat tokoh nasional, sambungnya, kelompok ini juga menargetkan pembunuhan terhadap pimpinan lembaga survei.

"Pada April 2019, selain ada perencanaan membunuh target ada juga perintah lain untuk membunuh seorang pimpinan satu lembaga swasta, lembaga survei. Tersangka sudah mensurvei rumah orang tersebut dan diperintahkan untuk mengeksekusinya," kata Iqbal.

Reporter: Putu Merta Surya Putra

Baca juga:
Soal Travel Advice Pasca-22 Mei, Kapolda Tegaskan Tak Ada Potensi Kerusuhan di Bali
Di Paripurna DPR, Fraksi NasDem Minta Dalang Kerusuhan 22 Mei Diungkap
6 Tersangka Pemilik Senpi Target Bunuh Tokoh Nasional Dibayar Dolar Singapura
Usut Kekerasan Aparat di Aksi 22 Mei, Gerindra Usulkan Bentuk TGPF
Ditutup saat Demo 21-22 Mei, Lalu Lintas di Sekitar Bawaslu dan KPU Mulai Dibuka
Pascademo 22 Mei, Semua Rute Transjakarta Kembali Beroperasi Normal

(mdk/noe)