Ini Skenario Prioritas Penerima 9 Juta Vaksin Covid-19 Impor

Ini Skenario Prioritas Penerima 9 Juta Vaksin Covid-19 Impor
PERISTIWA | 22 Oktober 2020 20:44 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Pemerintah Pusat berencana mengimpor vaksin Covid-19 tipe satu untuk wilayah Jabodetabek. Warga yang berada di zona rawan menjadi prioritas terakhir setelah tenaga kesehatan atau anggota TNI/Polri.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan vaksin yang diimpor pemerintah pusat jumlahnya untuk sekitar 9 juta orang. Namun, sebelum disuntikan, vaksin tersebut harus lolos uji BPOM.

"Arahnya memang (untuk warga di kawasan) Jabodetabek," ucap dia usai melakukan tinjauan simulasi vaksin di Puskesmas Tapos Depok, Kamis (22/10).

Penentuan pembagian jumlah vaksin tersebut merupakan kewenangan dari pemerintah pusat. Pemerintah Daerah hanya bertugas untuk mengamankan dan mendistribusikan vaksin yang sudah diberikan.

Meski belum ada jawaban dan keputusan, Ridwan Kamil mengaku sudah mengusulkan sepertiga dari jumlah vaksin yang diimpor diberikan kepada wilayah Bodebek yang merupakan salah satu episentrum penyebaran virus Covid-19 di Indonesia.

"Karena bodebek jumlah penduduknya 16 juta jiwa. Sepertiga dari 9 juta (vaksin yang diimpor) kan 3 jutaan atau 20 persen dari jumlah penduduk bodebek. Depok penduduknya 2,4 juta. Kita minta 300 ribu-an. Apakah disetujui? Saya tidak tahu," ucap dia.

Namun, jika usulan untuk wilayah Bodebek disetujui pemerintah pusat, ia sudah menentukan siapa saja yang bisa mendapatkan fasilitas vaksin tersebut. pertimbangannya adalah kelompok yang rawan tertular dari virus.

"Siapa yang 300 ribu itu? Nakes, TNI/Polri, kemudian profesi yang interaksi rawan di stasiun terminal petugas yang melayani. Baru warga yang di zona rawan. Depok dilihat dulu, kalau zonanya banyak kuning hijau berarti prioritas terakhir, karena berhasil mengendalikan. Kira kira begitu urutannya," jelas dia.

"Berdasarkan hasil kajian, yang diberi vaksin itu adalah yang berusia 18 sampai 59 tahun. Itu total 60 persen dari warga Indonesia. Yang kurang (umur) atau lewat, harus punya rekomendasi dokter. Karena, relawan (vaksin sejauh ini) tidak ada balita," ucap Ridwan Kamil.

Prediksi Normal tahun 2022

Ia memprediksi kehidupan normal sebelum ada pandemi Covid-19 bisa terjadi pada tahun 2022. Ia menilai, tahun 2021 masih menyertai kehidupan sosial dengan segala dinamika seperti yang terjadi di tahun 2020.

"Kalau disampaikan normal 2021 normal, terlalu optimis. Saya berharap itu terjadi tapi kalau mau realistis baru tahun 2022 lah (normal). Karena 2021 adalah tahun kita menyuntik vaksin. Kan ada yang sudah disuntik ada yang belum protokol harus tetap dilakukan," kata pria yang akrab disapa Emil itu. (mdk/rhm)

Baca juga:
Satgas Covid-19 Ungkap Penyebab Vaksin Covid-19 Tak Bisa Gratis Sepenuhnya
JK Sebut Penemu Vaksin dan Obat Covid-19 Layak Dapat Penghargaan Kemanusiaan
Ridwan Kamil Siapkan Opsi Relawan dan Tempat Alternatif untuk Penyuntikan Vaksin
Satgas Beberkan Perkembangan Vaksin Covid-19
Uji Coba Vaksin Covid-19 di Brasil Berlanjut Setelah Seorang Sukarelawan Meninggal

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami