Ini yang Harus Disorot Pemerintah saat Penerapan New Normal Menurut Tenaga Medis

Ini yang Harus Disorot Pemerintah saat Penerapan New Normal Menurut Tenaga Medis
PERISTIWA | 2 Juni 2020 01:33 Reporter : Bachtiarudin Alam

Merdeka.com - Tatanan kehidupan normal gaya baru bakal diterapkan di Indonesia. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kriteria dan mengeluarkan data 102 yang memasuki zona hijau, atau terbebas dari penyebaran Covid-19.

Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI) Mahesa Paranadipa menyebutkan dalam penerapan new normal pemerintah harus secara ketat memutuskannya sesuai kriteria WHO (Organisasi Kesehatan Dunia).

"Pertama penularan penyakit terkendali. Dua Sistem kesehatan dapat mendeteksi, menguji, mengisolasi, serta menangani setiap kasus dan melacak setiap kontak. Tiga, Risiko zona merah diminimalkan untuk tempat rentan, seperti panti jompo, untuk sekolah, tempat kerja dan ruang publik wajib terapkan langkah pencegahan," sebut Mahesa kepada merdeka.com, Senin (1/6).

Selanjutnya, dia menyebutkan keempat adalah kemampuan mengelola kasus baru dan masyarakat harus diedukasi, libatkan, dan diberdayakan selama new normal.

1 dari 2 halaman

Terkait Sarana Kesehatan

Sementara itu, dia mengatakan selain kesiapan sektor publik, ekonomi maupun pendidikan. Pemerintah juga harus menyiapkan fasilitas kesehatan di setiap daerah, dengan langkah antisipasi lonjakan kasus yang ada.

"Dengan tidak berimbangnya lonjakan kasus dengan kesiapan fasilitas kesehatan akan berdampak kepada tidak optimalnya pelayanan. Resikonya angka kematian atau perpanjangan masa perawatan pasien akan meningkat," terang Mahesa.

"Ditambah dengan risiko kelelahan dan terpaparnya petugas kesehatan. Harus dilihat support pemerintah dalam memenuhi standar perlindungan petugas kesehatan," lanjutnya.

Termasuk lokasi isolasi mandiri bagi tenaga kesehatan untuk melindungi dirinya dan keluarga supaya tidak menularkan virus.

"Jadi banyak perhitungan dan persiapan yang wajib dilakukan pemerintah kalau memang akan menerapkan new normal," katanya.

"Sekali lagi saya sampaikan harusnya new normal sebagai habit dilakukan di awal ketika wabah sudah berpotensi masuk ke Indonesia. Habit tidak hanya pada individu masyarakat, tapi pada pelaku kebijakan dan aparat-aparat negara lainnya," tegasnya.

2 dari 2 halaman

Kebutuhan APD Mutlak

Saat new normal, Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jakarta, Jajang Rahmat menggambarkan jika memasuki new normal kebutuhan APD adalah hal yang mutlak bagi seluruh layanan kesehatan, sebagai antisipasi perlindungan bagi para tenaga medis.

Sebagai tenaga medis, dia tidak menampik kemungkinan terjadinya lonjakan saat new normal disusul dengan kembali beroperasinya seluruh layanan kesehatan secara bertahap. Oleh karena itu kebutuhan APD menjadi hal terpenting bagi tenaga medis selama bertugas.

"Tentang pelayanan kesehatan seperti halnya di Amerika itu saat new normal telah membuka pemeriksaan seperti poliklinik dengan protokol kesehatan dan antrian yang dibatasi, kalau itu kita sudah. Nah untuk mempersiapkan itu, ketersediaan alat pelindung diri APD itu mutlak saat new normal nanti. Para tenaga medis harus dibekali dengan hazmat tidak hanya masker saja," tutur Jajang saat dihubungi merdeka.com, Senin (1/6).

Dia mengingatkan jangan sampai saat memasuki new normal para tenaga medis masih mengeluhkan ketersediaan APD yang tidak tersedia, karena itu bisa membahayakan para tenaga medis.

"Kalau kemarin kita lihat pemberitaan di daerah itu ada tenaga kesehatan, yang dianggap menolak melayani kira-kira begitu. Ternyata alasan tenaga kesehatan itu karena APD-nya tidak tersedia. Nah ini yang harus diperhatikan oleh pemerintah saat new normal, jangan sampai terjadi kekurangan APD," pintanya.

"Saat new normal keterbatasan masker berstandar dan APD yang dihemat-hemat bagi tenaga kesehatan tertentu, sudah tidak ada lagi saat new normal. Karena, new normal itu layanan kesehatan dibuka seperti semula seperti layanan poliklinik, imunisasi maka kebutuhan APD bagi tenaga medis semakin banyak dan harus tercukupi," sambungnya

Selain kebutuhan APD, lanjut Jajang, pada saat new normal penerapan protokol kesehatan juga harus berjalan dengan baik secara bertahap. Termasuk manajemen rumah sakit yang harus mempersiapkan inovasi dalam pelayanan kesehatan beradaptasi dengan teknologi.

"Selain APD, memang dari layanan kesehatan harus melakukan inovasi-inovasi seperti sarana pelayanan kesehatan berbasis virtual, kemudian pengembangan layanan secara drive thru. Termasuk kita dari tenaga medis mengembangkan webinar untuk pelatihan bagi tenaga medis untuk menghindari kontak langsung," katanya. (mdk/rhm)

Baca juga:
Penerapan Protokol Kesehatan New Normal di Pusat Perbelanjaan
Adaptasi Kebiasaan Baru, Banyak Warga Garut Abai Gunakan Masker
Memasuki New Normal, Tenaga Medis Minta Kebutuhan APD Mutlak Tersedia
Ketua DPRD DKI Minta Rumah Ibadah di Jakarta Dibuka Kembali saat New Normal
Melihat New Normal Bioskop di Thailand
Belum Layak New Normal, Wali Kota Palembang Isyaratkan Perpanjang PSBB

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5