Ironi Pasien Covid-19 di Ambon, Telat Makan Hingga Buka Puasa Pakai Doa

Ironi Pasien Covid-19 di Ambon, Telat Makan Hingga Buka Puasa Pakai Doa
PERISTIWA | 27 Mei 2020 04:32 Reporter : Henny Rachma Sari

Merdeka.com - Sudah jatuh tertimpa tangga. Ungkapan itu terasa tepat bagi sejumlah pasien positif Covid-19 yang sedang dikarantina di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Maluku di Desa Rumah Tiga, Kecamatan Teluk Ambon.

Betapa tidak, bukannya kesehatan mereka dijamin saat masa karantina, yang terjadi malah sebaliknya. Mereka harus kelaparan lantaran pelayanan makan dan minum yang tidak teratur. Saking tidak teraturnya, saat bulan Ramadan, sejumlah pasien harus berbuka puasa hanya memakai doa lantaran makanan baru diantar pukul 19.00 Wit malah kadang terlambat.

"Makan selalu terlambat, tidak ada air minum yang disediakan di sini, kami hanya mendapatkan satu gelas setiap kali makan," kata IR (54) salah satu pasien Covid-19 melalui sambungan telepon seluler, Selasa (26/5).

IR merupakan pasien tanpa gejala atau orang tanpa gejala (OTG) yang dikarantina di BPSDM Provinsi Maluku sejak 17 Mei 2019, karena bersentuhan langsung dengan pasien positif Covid-19 saat menjalankan tugasnya.

Sebelum dikarantina IR menjalani rapid test pada 8 Mei 2020 dan menunjukkan gejala reaktif, ia lalu menjalani tes polymerase chain reaction (PCR) atau swab test pada 12 Mei dan hasilnya positif Covid-19.

IR juga dua kali mendapatkan swab test pada 20 dan 21 Mei 2020, hasilnya yang dirilis pada 25 Mei 2020 masih menunjukkan positif virus corona.

Menurut IR, selama 10 hari berada di lokasi karantina, makan siang selalu disediakan antara jam 14.00 - 15.00 Wit, begitu pun makan malam diantar di atas pukul 19.00 Wit. Selain itu, air minum hanya dijatahi satu gelas air minum dalam kemasan setiap kali makan.

Ia berharap makanan bisa disediakan tepat waktu agar dirinya dan pasien lain juga bisa minum obat secara teratur, dan segera sembuh dari infeksi corona.

"Tadi teman tetangga kamar datang minta makan, dia belum lama dirawat di rumah sakit dan tidak bisa menahan lapar, tapi kami juga tidak punya makanan," ucapnya.

Selain makan dan minum yang tidak teratur, IR juga mengeluhkan tidak tersedianya air hangat yang bisa digunakan untuk mandi, sementara saat ini suhu udara di Ambon cenderung lebih dingin dari biasanya karena sedang musim penghujan.

Sebagai orang tua yang berusia di atas 50 tahun, IR merasa kesulitan kalau harus terus-terusan mandi air dingin di kala udara dingin, ia akan mudah terserang pilek dan demam.

"Saya dan teman-teman yang sudah umuran rasanya sulit sekali. Jangankan untuk mandi, kami minta air hangat untuk minum saja, katanya minta sama keluarga untuk membawakannya," ujar IR.

1 dari 1 halaman

Sejak Dikarantina Malah Sakit Lambung

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh LL (23), pasien Covid-19 yang sementara dirawat di BPSDM. Ia sudah mulai merasakan sakit lambung akibat sering terlambat makan, padahal sebelumnya tidak pernah mengalami gejala tersebut.

"Mungkin karena sering makan terlambat dan kurang minum. Kalau terus-terusan begini, saat masuk karantina dengan kondisi tubuh sehat lama-lama bisa mati dan dibilang mati karena corona," keluhnya.

LL dikarantina di BPSDM pada 17 Mei 2020. Sebelumnya dia mendapatkan perawatan antibiotik di RST Tk. II Prof. dr. JA Latumeten selama lebih dari sepekan, tapi hasil tes PCR-nya pada 20 dan 21 Mei 2020 masih menunjukkan tanda positif corona.

Di BPSDM, LL ditempatkan sekamar dengan pasien positif Covid-19 lainnya yang belum mendapatkan perawatan antibiotik, hanya diberi obat Oseltamivir dan Becom-Zet untuk diminum sekali sehari sesudah makan.

LL merasa khawatir dengan penggunaan kamar mandi yang tidak dipisahkan, dan memungkinkan dirinya masih terus terinfeksi corona.

"Saya khawatir dari kamar mandi karena saya sudah perawatan antibiotik, teman sekamar saya belum, tapi tes swab kami di waktu yang bersamaan hasilnya sama-sama positif," tandas LL.

Hingga berita ini diturunkan, Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Maluku Kasrul Selang ketika dikonfirmasi melalui sambungan telepon, pesan singkat maupun aplikasi WhatsApp sama sekali tidak memberikan keterangan apapun. Seperti diberitakan Antara. (mdk/rhm)

Baca juga:
New Normal, Ridwan Kamil Batasi Jumlah Pengunjung di Mal & Restoran
Ridwan Kamil Sebut saat New Normal, TNI-Polri Bakal Jaga Pasar & Mal
10 Pasien Sembuh Covid-19 di Riau, 2 Hari Tak Ada Penambahan Kasus Positif
109 Orang di Ogan Ilir Dipecat, Gubernur Sumsel Pastikan Tak Kekurangan Tenaga Medis
Wisma Karantina Pademangan Siapkan Dua Tower untuk Isolasi WNI dari Luar Negeri

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Agar Jiwa Tak Terguncang Karena Corona

5