Hot Issue

Jalan Mulus Jenderal Andika Perkasa

Jalan Mulus Jenderal Andika Perkasa
Calon Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa. ©2021 Liputan6.com/Faizal Fanani
NEWS | 6 November 2021 06:01 Reporter : Raynaldo Ghiffari Lubabah

Merdeka.com - Tongkat komando Panglima TNI selangkah lagi bakal jadi milik Jenderal Andika Perkasa. Satu tahap lagi harus dilalui. Mengantongi paripurna para anggota dewan lewat uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test), Sabtu (6/11) hari ini.Jenderal Andika dipilih jadi calon tunggal Panglima TNI oleh Jokowi.

Perjalanan Andika menuju kursi Panglima TNI sangat mulus. Dukungan mengalir dari banyak pihak. Para pejabat negara seperti melempar 'kode' Jenderal Andika jadi pilihan Jokowi.

Pertama, pada HUT TNI 5 Oktober 2021 lalu. Saat itu, Presiden Jokowi ditemani ibu negara Iriana berkeliling melihat alutsista TNI yang mejeng di depan Istana. Jokowi melontarkan guyonan kepada Ibu Negara Iriana Jokowi untuk menaiki Alutsista dengan disopiri Jenderal Andika Perkasa.

Momen kedua adalah ketika Mensesneg Pratikno mengunjungi Mabes TNI AD. Pertemuan Pratikno dan Andika itu diunggah di channel Youtube resmi TNI AD sebuah video diunggah pada 11 Oktober 2021. Pratikno dipersepsikan banyak pihak sebagai 'utusan' Istana untuk menyampaikan restu Jokowi terhadap Andika. Namun, Pratikno buru-buru membantah opini tersebut.

Terakhir, ketika Andika mendampingi Presiden yang hendak terbang ke tiga negara untuk menghadiri pertemuan pemimpin dunia pada 29 Oktober 2021 lalu.

Kabar Jenderal Andika jadi calon kuat Panglima TNI bukan gosip baru. Bergulir sejak pertengahan tahun 2021. Kans calon Panglima TNI sesungguhnya bukan hanya milik Andika Perkasa. Ada dua kepala staf TNI lainnya yang layak dipertimbangkan, yakni Kasal Laksamana Yudo Margono dan Kasau Marsekal Fadjar Prasetyo.

Jika merujuk pada UU Nomor 34 Tahun 2004, pasal 13 ayat 4, jabatan Panglima TNI dilakukan secara bergantian oleh perwira aktif di tiap angkatan yang sedang atau pernah menjabat Kepala Staf Angkatan.

Saat ini, jabatan Panglima TNI diisi oleh dari matra Angkatan Udara. Sebelum Marsekal Hadi Tjahjanto, Panglima TNI diisi Jenderal Gatot Nurmantyo serta Jenderal Moeldoko yang keduanya berasal dari matra Angkatan Darat.

Anggota Komisi I DPR Effendi Simbolon pada awal September lalu blak-blakan meyakini bahwa Jenderal Andika yang bakal menjadi Panglima TNI. Dia menyebut Jenderal Andika paling menonjol di antara dua kepala staf TNI lainnya. Apabila jika dilihat dari latar belakang pendidikan dan prestasi.

"Insha Allah, Jenderal Andika Perkasa menjadi Panglima TNI," ujar Effendi kepada merdeka.com.

Bocoran dari Effendi itu diamini oleh sumber merdeka.com di lingkaran Jokowi. Sumber ini mengungkapkan Andika paling besar peluangnya dipilih jadi Panglima TNI. Meskipun, sumber tersebut tak mau membeberkan alasan Andika sebagai sosok paling potensial.

Dia membenarkan kehadiran Hendropriyono di Istana pada 7 Mei 2021. Tapi, dia menegaskan, Hendro tidak secara khusus datang ke Istana untuk membahas masalah calon Panglima TNI. Dalam kesempatan itu, Hendro memberikan undangan pernikahan salah satu keluarganya.

"Dalam rangka memberikan undangan," singkat sumber ini.

Hendro telah keras menyangkal kehadirannya di Istana untuk 'berbisik' kepada Presiden Jokowi agar menantunya, Andika Perkasa menjadi Panglima TNI.

Wakil Koordinator Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Rivanlee Anandar juga mendengar bisik-bisik dan lobi kencang soal kursi calon Panglima TNI. Dari informasi yang diterimanya, kursi orang nomor satu di TNI tersebut menguat pada sosok Andika Perkasa. Namun dia juga tidak menyebutkan detil lobi yang dilakukan untuk menggolkan sosok calon Panglima TNI.

"Kalau melihat kontestasi yang muncul belakangan AD cukup menguat, dari kelihatan beberapa lobi yang mungkin dilakukan beberapa orang untuk meloloskan angkatan darat," kata Rivanlee.

2 dari 5 halaman

Parpol Bulat Dukung Andika

Surpres dari Presiden Jokowi berisi nama calon Panglima TNI sudah lama dinanti DPR. Bahkan 7 hari sebelum Marsekal Hadi memasuki masa pensiun di usia 58 tahun pada 8 November 2021, surat tersebut belum juga tiba.

Sesuai pasal 53 UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, menyatakan, prajurit melaksanakan dinas keprajuritan sampai usia paling tinggi 58 tahun bagi perwira, dan 53 tahun bagi bintara dan tamtama.

Surat itu akhirnya tiba di DPR pada Rabu, 3 November 2021. Diantar oleh Mensesneg Praktikno kepada Ketua DPR Puan Maharani. Nama Jenderal kelahiran 21 Desember 1964 itu diserahkan ke DPR ketika Jokowi sedang berada di Roma, Italia.

Presiden Jokowi memilih Andika sebagai Panglima TNI sebelum berangkat ke luar negeri. Jokowi diketahui sedang menghadiri konferensi tingkat tinggi ke 3 negara di Eropa.

"Sebelum berangkat ke luar negeri," kata Pratikno.

Partai politik di DPR pun tak ada yang keberatan dengan keputusan Presiden Jokowi memilih Andika Panglima TNI yang baru. Mayoritas anggota dewan menganggap Andika mumpuni, punya rekam jejak apik dan laik memegang tongkat estafet dari Marsekal Hadi.

Anggota Komisi I DPR Sukamta mengatakan bahwa tak ada fraksi di DPR yang keberatan untuk menjadikan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa sebagai Panglima TNI. Dia memandang Andika memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menduduki posisi tersebut.

"Rasanya, tidak ada fraksi-fraksi yang keberatan dengan Jenderal Andika karena memang beliau ini kemampuannya bagus, track recordnya meyakinkan dan pintar menjaga silaturahmi," kata Sukamta saat dihubungi.

Dia melihat, Andika memenuhi unsur kelayakan untuk menghadapi beragam tantangan pertahanan dan keamanan di Tanah Air.

"Jenderal Andika cocok dengan tantangan situasi pertahanan keamanan saat ini, baik tantangan dalam negeri maupun luar negri," ucap dia.

3 dari 5 halaman

Pertimbangan Jokowi

Penasihat senior Kantor Staf Presiden (KSP) Andi Widjajanto alasan Presiden Jokowi memilih Andika karena lebih senior dibandingkan dua staf angkatan lainnya.

Andika diketahui merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1987, sementara Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono lulusan Akademi Angkatan Laut tahun 1988. Adapun Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Maesekal Fadjar Prasetyo lulus Akademi Angkatan Udara pada 1988.

"Senioritas, Andika Perkasa yang paling senior diantara para Kepala Staf Angkatan," ujar Andi Widjajanto.

Selain itu, kata dia, Andika memiliki kedekatan personal dengan Presiden Jokowi. Sebab, Andika pernah menjabat sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) pada 2014 dan menjabat sekitar dua tahun.

Andi menyebut dipilihnya Andika karena memiliki kendali operasi militer, khususnya untuk menangani pandemi Covid-19 hingga konflik di Papua. Menurut dia, TNI AD memiliki kedalaman gelar teritorial menangani masalah tersebut.

Dia juga menilai masa jabatan Andika Perkasa sebagai Panglima TNI ideal untuk kerangka Pemilu 2024. Pasalnya, Andika diperkirakan akan pensiun pada Desember 2022 sehingga nantinya presiden dapat memilih Panglima TNI baru sebelum tahapan Pemilu dimulai di Maret 2023.

4 dari 5 halaman

Rangkaian fit and proper test

DPR menyatakan berkas administrasi calon Panglima TNI lengkap jelang uji kelayakan dan kepatutan. Adapun verifikasi administrasi Calon Panglima TNI, terdiri dari Bukti Penyerahan Laporan Kekayaan Penyelenggara Negara ke KPK, NPWP, SPT Pajak tahun terakhir, Daftar Riwayat Hidup dan Surat Keterangan Berbadan Sehat.

Selanjutnya, Fit and Proper Test atau Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan calon Panglima akan digelar pada Sabtu, 6 November pukul 10.00 WIB.

Sifat terbuka untuk visi misi, kecuali untuk hal-hal strategis. Kehadiran fisik. Dilanjutkan rapat internal komisi 1 untuk pemberian persetujuan pukul 13.00.

Selanjutnya, Komisi I akan menyerahkan hasil Fit And Proper Test kepada pimpinan DPR untuk dibawa ke Rapat Paripurna pada 8 November 2021.

Sejumlah isu bakal ditanyakan kepada Jenderal Andika. Diantaranya, strategi Andika mengenai kondisi keterbatasan Angkatan Laut (AL) untuk menjaga lautan NKRI, kesejahteraan prajurit TNI, konflik di Papua, Poso dan Aceh hingga penghapusan tes keperawanan TNI.

5 dari 5 halaman

Profil Jenderal Andika

Jenderal Andika merupakan lulusan akademi militer pada 1987 dengan pangkat Letnan Dua. Pria kelahiran Bandung pada 21 Desember 1964 ini merupakan menantu dari mantan Kepala Badan Intelijen Negara A.M Hendropriyono.

Andika ternyata pernah mengenyam pendidikan S1 jurusan Ekonomi di dalam negeri. Selain itu, gelar S2 dan S3 nya ia dapatkan dari The George Washington University, National Defense University, serta Harvard University.

Andika pernah ditugaskan di satuan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) selama berdinas di militer. Misalnya, dia pernah menjabat Dansub Tim 2 Detasemen 81 Kopassus, Den 81 Kopassus, Danden-621 Yon 52 Grup 2 Kopassus, Pama Kopassus, hingga Pamen Kopassus (1998).

Berbagai posisi sempat diemban Andika sebelum menjabat Kepala Staf Angkatan Darat TNI, antara lain:

2014
Komandan Pasukan Pengaman Presiden (Danpaspampres)
2016
Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad)
2018
Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Darat (Dankodiklatad). Hingga ia menjadi Kepala Staf Angkatan Darat.

Suami dari Diah Erwiany ini pun memiliki kekayaan yang mencapai Rp179 miliar. Andika juga gemar berolahraga gym untuk meningkatkan kebugaran tubuhnya. (mdk/ray)

Baca juga:
Moeldoko: Para Kepala Staf Semuanya Siap Menjadi Panglima TNI
Ketua DPR Ingatkan Calon Panglima: Tantangan TNI Makin Besar Perang Fisik dan Siber
PKS Harap Andika Perkasa dapat Tuntaskan Konflik Papua
Moeldoko Yakin Andika Bisa Optimal Jalankan Tugas Panglima TNI Meski Hanya 1 Tahun
Komisi I Nyatakan Berkas Calon Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa Lengkap

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami