Jalur evakuasi pendaki Gunung Slamet sulit, 80 personel diturunkan

Jalur evakuasi pendaki Gunung Slamet sulit, 80 personel diturunkan
Ilustrasi Pendaki Gunung. ©2015 Merdeka.com
NEWS | 18 April 2016 13:01 Reporter : Chandra Iswinarno

Merdeka.com - Upaya evakuasi pendaki dari Gunung Slamet dilakukan sekitar 80 personel melalui jalur Baturraden, Jawa Tengah.

Kini, petugas gabungan yang mengevakuasi korban sedang perjalanan turun.

"Kabar terakhir sedang dievakuasi dan dalam perjalanan turun di antara pos 3 dan pos 4 jalur Baturraden. Klarifikasi juga, kalau korban bukan dari Mapala UI tapi (pendakian) pribadi-pribadi saja," kata Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banyumas, Ady Candra, Senin (18/4).

Korban bernama Irfan (19), mahasiswa UI yang sehari-hari idekos di daerah Beji, Depok ini melakukan pendakian bersama rombongan berjumlah 13 orang (sebelumnya ditulis 12 orang), terdiri dari 9 laki-laki dan 4 perempuan. Jalur pendakian Baturraden sendiri tidak begitu dikenal luas.

"Medan dari jalur Baturraden cukup sulit karena banyak akar dan membuat sulit evakuasi dengan menggunakan tandu," jelasnya.

Untuk memudahkan proses evakuasi, personel SAR gabungan yang terdiri dari berbagai elemen pendaki dari wilayah Tegal, Brebes, kemudian Tagana Banyumas, Polisi, TNI dan Raden Pala ditempatkan di beberapa pos pendakian jalur Baturraden.

"Jadi tidak semuanya naik, personel membagi di beberapa pos agar tidak kelelahan di jalan," ucapnya.

Sebelumnya dilaporkan, seorang pendaki dikabarkan alami kecelakaan saat pendakian di Gunung Slamet. Pendaki bernama Irfan (19) tercatat sebagai mahasiswa UI tersebut terpeleset tak jauh dari puncak Gunung Slamet dan alami luka parah di beberapa bagian tubuh. Korban terpeleset di areal berpasir puncak Gunung Slamet.

Baca juga:

Pendaki yang jatuh di Gunung Slamet bukan anggota Mapala UI

Seorang pendaki dari UI dikabarkan kecelakaan di Gunung Slamet

Tips Mendaki Gunung Bagi Para Pemula

Pendaki wanita hipotermia dan pingsan saat turun Gunung Lawu

Lima pendaki tersesat di Gunung Marapi

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami