James Riyadi Akui Pernah ke Rumah Bupati Bekasi, Tapi Tak Bahas Meikarta

PERISTIWA | 6 Februari 2019 18:03 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - CEO Lippo Group, James Riady hadir sebagai saksi dalam sidang kasus dugaan suap proyek Meikarta di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LL.RE Martadinata, Kota Bandung, Rabu (6/2). Dia mengakui pernah menemui Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin bersama Billy Sindoro dan Bortholomeus Toto.

James yang merupakan pengusaha dalam sidang tersebut mengatasnamakan diri sebagai ketua yayasan pendisikan Pelita Harapan. Meski mengakui terkait adanya pertemuan, namun ia berkilah tidak mengenal Neneng Hasanah Yasin.

Ia mengaku diajak oleh koleganya, Toto dan Billy untuk bertemu Neneng yang baru melahirkan. Toto dan Billy ia sebut dikenal sudah lama dan juga mereka aktif dalam yayasan yang dibinanya. Anak Billy dan Toto sekolah di Pelita Harapan.

"Pak Toto‎ saat itu mengajak saya. Saya sempat mengelak tapi pak Toto terus mengajak bertemu dengan ibu bupati karena beliau baru melahirkan. Akhirnya saya ikut ke kediaman bupati," ujar James.

Dalam dakwaan jaksa, disebutkan James Riyadi membahas soal perizinan IMB bahkan menunjukan gambar terkait Meikarta. Namun, James menyanggah adanya pembahasan proyek Meikarta maupun pemberian uang. Ia berkilah, dirinya dan Neneng Hasanah Yasin membahas terkait dunia pendidikan.

Keterangan James bertolak belakang dengan dakwaan jaksa untuk terdakwa Billy Sindoro yang menyebut bahwa Neneng menerima suap senilai total Rp 16 miliar. Uang itu diberikan untuk mempermudah perizinan IPPT dan IMB proyek Meikarta.

Dalam fakta persidangan sebelumnya pun Billy disebut membuat tim untuk mengurus izin tersebut dengan melibatkan Fitradjaja Purnama, Henry Jasmen dan Taryudi. Keempatnya dalam kasus ini ditetapkan sebagai terdakwa.

Menanggapi hal itu, James lagi-lagi menyangkalnya. Ia mengaku tidak tahu terkait proses perizinan dari proyek Meikarta. Alasannya, ia tidak punya kaitan dengan pengembang

Jaksa kemudian menanyakan PT Inti Anugerah Propertindo (IAP). Ia menjelaskan perusahaan yang bergerak dalam investasi itu adalah warisan orang tuanya untuk dirinya dan adiknya.

"PT IAP merupakan pemegang saham di PT Lippo Karawaci dan PT Lippo Cikarang. Tapi saya tidak pernahg mendapatkan laporan dari PT IAP," ujar James.

Lebih lanjut ia mengungkapkan ada ketidakjelasan dalam penyebutan jabatan Billy Sindoro sebagai Ditektur Operasional Lippo Group. Pasalnya, menurutnya tidak ada badan hukum Lippo Group dan tidak ada jabatan direktur operasional.

Persidangan untuk kesaksian James Riady hanya berlangsung sekitar 60 menit. Sebelumnya James meminta ijin untuk menyatakan kesaksiannya karena ada jadwal perayaan Imlek di luar negeri bersama keluarga.

Diberitakan dalam persidangan sebelumnya, saksi kasus suap Meikarta, Acep Eka Pradana mengungkap adanya pertemuan antara Bupati Bekasi nonaktif Neneng Hasanah Yasin dengan James Riady.

Pria yang dahulu bekerja sebagai ajudan Bupati itu mengatakan pertemuan antara James dan Neneng terjadi pada awal 2018. Pertemuan itu berlangsung siang hari selama 30 menit.

"Saya dapat telepon pak James Riady mau menghadap ibu. Saya langsung sampaikan ke ibu, pak James mau menghadap," ujar Acep saat ditanya Jaksa KPK dalam sidang kasus suap perizinan Meikarta di Pengadilan Tipikor Bandung, Rabu (16/1).

Setelah pertemuan itu, anak buah Billy Sindoro, yang merupakan konsultan pengembang Meikarta, Fitradjaja Purnama dan Henry P Jasmen sering bertemu dengan Neneng.

Dalam surat dakwaan jaksa penuntut umum, pertemuan James Riady dengan Neneng tersebut diduga berkaitan dengan proyek Meikarta. Dalam surat dakwaan, James sempat memperlihatkan gambar proyek pembangunan Meikarta kepada Neneng.

Selepas pertemuan tersebut, pengembang Meikarta mengajukan permohonan IMB untuk 53 apartemen dan 13 basement dalam proyek Meikarta. Permohonan tersebut dilayangkan pada Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Kabupaten Bekasi. KPK pun menyebut serangkaian suap terjadi dalam proses penerbitan IMB tersebut.

Selain Acep, KPK menghadirkan empat orang saksi lainnya yakni Kusnadi Hendra Maulana, Agus Salim, Marfuah Affan, dan Asep Effendi. Mereka dihadirkan untuk diperiksa sebagai saksi pada sidang terdakwa kasus suap perizinan Meikarta.

Keempat terdakwa disebut jaksa telah menyuap Bupati Bekasi Neneng Hasanah dan pejabat pemerintah Kabupaten Bekasi. Pemberian uang senilai Rp 16,1 miliar dan 270 ribu dolar Singapura tersebut diyakini terkait pengurusan sejumlah izin proyek Meikarta.

Baca juga:
Sidang Suap Meikarta, DPRD Bekasi Akui Terima Duit Rp 3 Miliar
Sidang Proyek Meikarta, Keterangan Saksi Akan Dikonfrontir
Muluskan IMB Proyek Meikarta Diduga Pakai Duit Suap Rp 3,5 M
Kesaksian Pengembang Meikarta Dianggap Palsu Hingga Bikin Geram Jaksa KPK
Jenguk Habib Bahar, Fadli Zon Tak Lihat Billy Sindoro di Sel Polda Jabar
Jaksa Bongkar Peran Keponakan Billy Sindoro Dalam Kasus Suap Meikarta

(mdk/rnd)