Jangan Anggap Enteng Akses ke Ciparengpeng

PERISTIWA | 24 Januari 2020 05:05 Reporter : Rasyid Ali

Merdeka.com - Ciparengpeng merupakan salah satu dari tiga kampung terisolir di Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor. Jangan harap menjangkau kampung ini dengan kendaraan. Berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 3 jam adalah satu-satunya opsi.

Jarak tempuh ke Ciparengpeng, sebenarnya hanya sekitar 4-5 kilometer dari titik akhir jalan yang bisa dilalui kendaraan. Namun medan yang harus dilalui merupakan jalan pegunungan dengan menanjak, menurun dan berkelok dengan permukaan batu kali, untuk memperkeras tanah merah.

Berjalan kaki ditempuh dari Kampung Cileuksa Kaler. Kendaraan roda dua pun harus titipkan lebih dulu ke rumah warga sekitar, karena akses jalan tertutup longsoran tanah yang sedang diupayakan dibuka menggunakan excavator.

Karena akses jalan yang tertutup longsor dan cukup tebal, warga sekitar mengarahkan untuk memilih jalan lain. Yakni melewati belakang rumah yang tertutup longsor, dengan menyusuri pinggir sawah sebelum kembali ke jalan utama.

Setelah melewati rintangan pertama, jalan aspal datar masih cukup mudah untuk ditempuh. Kemudian ada satu jembatan putus karena diterjang banjir bandang di Kampung Cileuksa Desa. Untuk menyeberang, warga membuatkan jembatan darurat dari batang bambu dan kayu kelapa.

1 dari 4 halaman

Jalan Gunung Berbatu Kali

Usai jembatan itu terlewati, kembali jalan aspal yang ditemui menyusuri sawah serta berpemandangan lereng-lereng gunung yang terlihat berwarna cokelat akibat longsor di tengah hutan hijau.

Jalan menurun tajam dan berbatu telah menanti di depan. Berjarak sekitar 500 meter, sebelum akhirnya jalan terputus karena adanya jembatan hancur yang biasa digunakan warga Kampung Ciparengpeng untuk menyeberangi Sungai Cibentang.

Karena akses jalan sama sekali tidak ada, relawan dari komunitas flying fox pun membentangkan kabel seling sepajangnya 200 meter dari atas jalan berbatu ke seberang Sungai Cibentang untuk mendorong logistik yang sangat terbatas ke kampung itu.

2 dari 4 halaman

Merayap di Dinding Sungai

Sementara untuk pejalan kaki, dalam upaya menyeberangi sungai itu, harus turun dahulu ke bibir sungai dengan merembet menggunakan seling kabel listrik dari tiang-tiang listrik yang roboh. Beruntung kabel itu cukup kuat untuk dijadikan tumpuan.

Tiba di bibir sungai, untuk menyeberang telah ada jembatan terbuat dari beberapa batang bambung yang tersangkut dari batu besar satu ke batu besar diseberang sungai dan diperkuat dengan ikat seling-seling kabel listrik yang hanya satu utas.

Sukses menyeberang, tantangan belum berhenti. Karena untuk menuju pemukiman warga masih sangat jauh. Karena masih ada di bibir sungai, tepatnya di batuan alam yang menjadi dinding sungai, agar sampai di tujuan maka harus memanjat kembali.

Bukan memanjat. Tepatnya merayap dengan posisi vertikal dengan berpegangan pada seling listrik yang ada serta membelakangi aliran sungai. Tidak jauh memang tadi cukup membuat deg-degan. Salah berpijak, tercebur sungai satu-satunya pilihan yang harus diterima.

Seling itu bukan membawa ke atas, tapi agak bergeser dari jembatan menuju titik yang agak lantai untuk dipanjat. Kembali, ada seling listrik harus dipegang untuk menarik diri ke atas. Beruntung cuaca saat itu sedang cerah dan batu tidak terlalu licin.

3 dari 4 halaman

Tanjakan 75 Derajat

Sukses memanjat menggunakan seling, memanjat harus kembali dilakukan. Curam, namun ada ranting-ranting pohon yang ditidurkan membentuk anak tangga. Jalan menjak curam hampir 75 derajat itu mungkin ketinggiannya 80 meter.

Tiba di atas, di mana terdapat sepeda motor warga kampung menunggu kiriman logistik dari flying fox tadi. Di depannya, hanyalah tinggal jalan menanjak berbatu kali dengan bertepikan longsor dan hanya bisa dilintasi sepeda motor.

Dari titik sepeda motor yang ditandai dengan adanya tiang listrik roboh itu, berjalan kaki menanjak berbatu harus ditempuh sekitar 3 kilometer untuk ke Kampung Ciparempeng, melintas kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Sepanjang perjalanan, lebih dari 5 tiang listrik roboh sehingga memutus aliran listrik di kampung ini.

4 dari 4 halaman

Pergi Belanja Butuh Seharian

Salah seorang pemilik warung di Kampung Ciparengpeng mengungkap, untuk kebutuhan warungnya. Suami dari ibu itu harus berjalan kaki ke Pasar Cigudeg untuk berbelanja kebutuhan. Berangkat pukul 05.00 WIB dan baru sampai di rumah kembali pukul 18.00 WIB di hari yang sama.

"Jalan kaki. Barangnya dipanggul. Cigudeg itu pasar paling dekat dari sini ya Cigudeg. Kalau udah sampai bawah mah mungkin bisa naik angkot. Tapi kalau belanja, berang jam 5 pagi, sampai rumah lagi jam 6 sore," kata dia.

Tidak listrik di kampung ini. Jangankan listrik, kendaraan saja sulit untuk masuk ke kampung ini. Sebenarnya, jika dilihat dari skala kerusakan akibat bencana, tidak terlalu parah, hanya ada satu sekolah sedikit ambles tanah di halamannya dan 25 rusak serta sawah hilang sama sekali tertimbun longsor.

Namun, akses jalan yang terputus jadi kendala utama di kampung. Logistik yang masuk hanya bisa dibawa menggunakan sepeda motor bolak balik. Itu jika ada yang menjemput sebelum didorong menggunakan flying fox lagi.

Dengan medan seperti itu, berapa banyak logistik yang bisa masuk? Sangat minim. Ketua RW 06 Kampung Ciparengpeng, Jamar mengatakan logistik yang ada sangat minim. Warga pun masih banyak mengonsumsi mie instan. Tidak seperti pengungsi lain yang mulai kebagian ikan asin di pengungsian.

"Ya mudah-mudahan cepat diperbaiki soalnya susah kalau enggak ada jalan mah. Susah. Mobil kan juga emang enggak masuk ke sini mah. Listrik juga belum ada," kata Jamar yang juga mengungkap ada 785 jiwa terisolir di kampung ini dari 245 Kepala Keluarga.

Jika ke Kampung Ciparengpeng sudah sulit, masih ada dua kampung yang memiliki akses sama, yakni Kampung Cijairin dan Kampung Ciear. Menurut warga sekitar Ciparengpeng, untuk menuju ke Kampung Cijairin dengan berjalan kaki memakan waktu dua jam. Kemudian dari Kampung Cijairin ke Kampung Ciear juga memakan waktu dua jam.

Tidak ada tim dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor di kampung ini. Relawan medis pun hanya terlihat dari Universitas Negeri Sebelas Maret sebanyak tiga orang dan langsung dikerubungi warga yang mulai mengeluhkan kondisi kesehatan. (mdk/cob)

Baca juga:
Data BNPB: Bencana Alam di Awal 2020 Renggut Nyawa 80 Orang
Pascalongsor & Banjir, Mensos Prediksi Angka Kemiskinan di Kabupaten Bogor Meningkat
Usai Longsor & Banjir, Perbaikan Infrastruktur di Bogor Tidak Cukup 1 Tahun
2 Desa di Sukajaya Bogor Masih Terisolir, Status Tanggap Bencana Diperpanjang
Bantu Warga Terdampak Banjir, IIPG Bawa Mobil Pengeruk Lumpur dan Sampah
Longsor Tutup Akses Jalan dan Rusak 2 Rumah di Kediri

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.