Hot Issue

Jejak JAD di Merauke

Jejak JAD di Merauke
Ilustrasi penangkapan terduga teroris oleh Densus 88. ©2021 Merdeka.com/tribratanews.polri.go.id
PERISTIWA | 6 Juni 2021 07:43 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah

Merdeka.com - Serangkaian penangkapan dilakukan aparat terhadap jaringan Jamaah Anshor Daulah (JAD) tak lantas membuat kelompok teroris tersebut meredup. Sel-sel organisasi yang dibekukan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam sidang pada 2018 silam itu masih aktif dan menyebar hampir merata di Indonesia.

Eksistensi JAD teranyar terendus aparat di Merauke, Papua. 13 terduga teroris ditangkap tim Densus 88 Anti Teror. Dari 13 terduga teroris yang diamankan, baru 11 orang yang identitasnya terungkap. Mereka adalah AK, SB, ZR, UAT, DS, SD, SR, YK dan SW serta pasangan suami istri AP dan IK.

Kapolres Merauke, AKBP Untung Sangaji menyebut belasan terduga teroris itu bukan warga asli Papua. Mereka terendus datang sebelum tahun 2010. Aktivitas kelompok ini dikenal tertutup sejak tiba di bumi cendrawasih. Belakangan hasil penyelidikan tim Densus 88 Anti Teror, jejak teror mereka tergabung dalam kelompok menggunakan grup WhatsApp atau Telegram yang isinya mengandung unsur radikal.

Keberadaan kelompok ini kemudian diawasi aparat setelah sebelumnya terdeteksi hendak melakukan pengeboman, namun gagal. Menurut dia, karena saat itu belum cukup bukti, sehingga tak dilakukan penangkapan.

"Kemudian dari situlah urut kasus itu. Jangan-jangan akan terjadi ketika mau natal dan sebagainya dan itu emang ingin terjadi, bersamaan dengan itu pelaku makar bintang kejora dan lain sebagainya ingin mengumandangkan referendum anti otsus jilid 2 dan referendum tapi tiba-tiba dari sana membuka kasus lain yang ada kaitannya dengan kasus ini," kata Untung saat dihubungi merdeka.com, Sabtu (5/6).

Pengawasan terhadap kelompok ini semakin diperketat setelah insiden bom bunuh diri dilakukan pasutri di Gereja Katedral, Makassar, awal tahun lalu. 10 orang terduga teroris kemudian ditangkap tim Densus 88 Anti Teror setelah merencanakan aksi teror di Gereja Merauke, Polres Merauke dan Satlantas Merauke.

Mereka ditangkap di pelbagai titik seperti di Distrik Kurik, Tanah Miring, Jagebob, Marauke sejak Jumat (28/5) hingga Minggu (30/5). Pengungkapan kasus ini merupakan rentetan dari pada penangkapan terduga teroris dilakukan di Sulawesi Selatan. Anggota kelompok ini juga merupakan pelarian dari aksi teror Thamrin pada Januari 2016 dan jaringan Poso.

"Itu kan nama-nama target operasi, sudah ada cuma siapa yang mau mulai aja. Kita enggak mau kecolongan kan seperti ya di Thamrin sebelum bom besar meledak ditangkap," kata Untung.

Sejumlah barang bukti seperti senapan angin, senjata tajam, peralatan panah, beberapa cairan dan peralatan serta bahan kimia disita tim Densus 88 Anti Teror saat melakukan penangkapan. Semua barang bukti tersebut masih dalam pendalaman mencari tahu isi kandungannya.

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius Fakhiri mengatakan, kelompok terduga teroris di Merauke ini direkrut empat orang, termasuk pasangan suami istri AP dan IK. Empat orang menjadi perekrut terduga teroris yang tergabung dalam JAD Papua itu yakni YK dan SW serta pasutri AP dan IK.

Dia menambahkan hingga kini belum dipastikan kapan ke 11 terduga teroris dibawa ke Jayapura, termasuk dua balita anak dari pasutri AP dan IK. Para terduga teroris itu akan ditahan di tahanan Brimob Kotaraja, sedangkan IK ditahan terpisah di luar Mako Brimob.

"Densus 88 dan anggota Polda Papua masih terus melakukan penyelidikan agar Papua bebas dari terorisme," kata Fakhiri di Jayapura, Rabu (2/6).

Baca Selanjutnya: JAD Ingin Kembangkan Konflik di...

Halaman

(mdk/gil)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami