Jejak Markas Freemason di Kota Malang

Jejak Markas Freemason di Kota Malang
Hotel Heritage Bekas Markas Freemason di Kota Malang. ©2021 Merdeka.com/Darmadi Sasongko
PERISTIWA | 24 Februari 2021 01:02 Reporter : Darmadi Sasongko

Merdeka.com - Konsep heritage perpaduan antara unsur budaya Jawa dan Belanda begitu kental di The Shalimar Boutique Hotel, Kota Malang, Jawa Timur. Arsitektur bangunannya juga masih menonjolkan bentuk asli sebagai cagar budaya warisan zaman Hindia Belanda.

Hotel Shalimar dibangun pada tahun 1930-an dan resmi digunakan tahun 1933. Gedung tersebut awalnya bernama Macconieke Lodge yang sengaja dibangun sebagai markas komunitas Freemason.

Gedung tersebut dirancang oleh Ir. Mulder menggunakan gaya arsitektur Niewe Bowen, dengan ciri utama berbentuk kubus dan beratap lurus.

"Dibangun sekitar tahun 1930-an oleh Ir Muller, seorang arsitek Belanda untuk Freemason, dibuka pertama kali pada tahun 1933," kata Kartika Chandra Hapsari, Marketing Comunication di The Shalimar Boutique Hotel Kota Malang.

Tidak lama bangunan berada di Jalan Cerme 16 itu menjadi markas Freemason, sebelum kemudian menjadi societeit atau tempat dansa dan menyanyi bagi orang Belanda. Petinggi Belanda menjamu kolega, khususnya bangsa Eropa untuk mendapatkan hiburan dan berkumpul.

Lokasi Macconieke Lodge sendiri memang berada di lingkungan kompleks hunian mewah para pejabat Hindia Belanda kala itu. Kawasan tersebut berada di Boulevard Idjen yang hingga saat ini menjadi hunian mewah masyarakat Malang.

"Setelah menjadi Markas Freemason, bangunan ini digunakan sebagai Societeit di mana para bangsawan Belanda bertemu dengan teman atau komunitasnya untuk berpesta," sambungnya.

Bukti sebagai Markas Freemason di bangunan The Shalimar Boutique Hotel Kota Malang ditunjukkan lewat sebuah foto lawas yang menampilkan logo Freemason. Logo berbentuk jangka dan penggaris siku berhadapan dengan huruf G di tengah-tengah tertempel di depan gedung tersebut.

Foto tersebut bertuliskan nama gedung tersebut yakni Malang-Maconieke Lodge. Sementara tembok kotak bingkai di mana logo tersebut tertempel hingga saat ini masih dapat disaksikan sebagai wajah gedung tersebut.

Sejumlah sumber menyebutkan organisasi Freemason mempunyai nomor pendirian dan berhubungan satu dengan lainnya. Markas Freemason di Malang dikenal sebagai loge nummer 89 Malang.

Sebelum menjadi Hotel Shalimar, bangunan tersebut difungsikan sebagai stasiun pemancar milik Belanda yang kemudian dialihfungsikan sebagai Gedung RRI Malang pada 1964. Gedung tersebut kemudian diambilalih dengan proses tukar bangun dengan Gedung RRI di Jalan Candi Panggung sekarang ini pada 1993.

Awal saat tukar guling, diberi nama Malang Inn, kemudian berganti nama menjadi Hotel Graha Cakra pada 1995. Pertengahan 2014, Graha Cakra tutup dan renovasi bangunan, dan 10 Desember 2015, resmi berubah menjadi The Shalimar Boutique Hotel.

Gedung aslinya memang tidak terlalu besar, tidak sebesar sekarang dengan luas 3.800 meter persegi. Bangunan aslinya saat ini difungsikan sebagai ruang makan dan restoran.

Bentuk dan lantai porselinnya tidak pernah mengalami perubahan dan masih asli. Selain juga memiliki bagian lebih tinggi yang diduga merupakan altar atau sejenisnya.

Pengelola gedung dan Hotel Shalimar hingga sekarang menjaga bangunan tersebut sebagai bagian dari cagar budaya Kota Malang.

"Kita tidak boleh mengubah strukturnya. Hanya aksesorisnya yang diubah dan ditambah. Hingga sekarang masih dipertahankan di beberapa bagian," katanya.

The Shalimar Boutique Hotel sebagai hotel bintang 5 memiliki 44 kamar dengan 5 tipe yakni Deluxe, Superior Deluxe, Executive, Royal Suite dan Presiden Suite.

Lokasinya berada tengah Kota Malang yang hanya butuh waktu 45 Menit dari Bandara Abdulrahman Saleh dan 10 menit dari Stasiun Malang. (mdk/cob)

Baca juga:
Digitalisasi sebagai Upaya Pelestarian Manuskrip Kuno Keraton Yogyakarta
Sejarah 22 Februari 1978: Peresmian Istiqlal, Masjid Terbesar di Asia Tenggara
Jejak Sejarah Inggit Garnasih yang Terlewatkan
Mengenang Peristiwa 18 Februari Kerusuhan Sampit, Pertikaian Suku Dayak dan Madura
Memahami Faktor Penyebab Keberagaman Masyarakat Sekitar di Indonesia
Menko Luhut Ingin Semua Pengelolaan Bangunan Bersejarah di Bawah Kemendikbud

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami