Jejak Masyarakat Tionghoa di Pinggir Kali Bekasi

PERISTIWA » MALANG | 25 Januari 2020 08:03 Reporter : Adi Nugroho

Merdeka.com - Memasuki kawasan Jalan Kenari, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur, Kota Bekasi, mulai terasa suasa kental permukiman Tionghoa. Terdapat klenteng tertua diperkirakan usia bangunan lebih dari 350 tahun. Klenteng itu bernama Hok Lay Kiong, berdiri di atas lahan seluas 700 meter persegi, klenteng dikelola oleh Yayasan Pancaran Tri Dharma.

Ketua Yayasan Pancaran Tri Dharma, Ronny Hermawan mengatakan, belum diketahui kapan klenteng tersebut dibangun, namun diperkirakan pada abad ke-18.

"Zaman kakek saya masih kecil, klenteng itu sudah ada," katanya ketika berbincang dengan merdeka.com, Jumat (24/1).

Penamaan Hok Lay Kiong mengacu kepada dewa utama, di mana arcanya berada di altar utama. Di sisi kiri dan kanannya ada empat arca dewa pendamping, kemudian di belakangnya tujuh arca dewa pengawal. Menjelang perayaan Imlek, klenteng itu dirias, banyak ornamen khas Tionghoa mulai lilin hingga lampu lampion menghiasi lingkungan itu.

Menurut Ronny, seiring perkembangan zaman kleteng telah banyak mengalami perubahan. Namun yang masih utuh sampai sekarang adalah pintu masuk utama yang terbuat dari kayu. Fasilitas lain di sana yang menjadi ciri khas adalah dua tungku menyerupai pagoda, tempat pembakaran Fu.

Menurut Ronny, permukiman di sekitaran Klenteng terdiri cukup banyak masyarakat Tionghoa. Mereka sudah turun temurun. Alasan mereka bermukim di sana karena letaknya berdekatan dengan Kali Bekasi, kali alam yang hulunya berada di pegunungan kawasan Bogor, Jawa Barat.

"Air adalah sumber kehidupan, makanya, peradaban itu biasanya mulanya dekat air," kata dia.

Dia menuturkan, penyebaran masyarakat Tionghoa di Bekasi dimulai pada abad ke-17. Mereka merupakan imigran dari Batavia (sekarang Jakarta). Misi dagang eropa ke Indonesia lewat VOC membuat buruh Tionghoa kurang sejahtera, banyak tertekan, sehingga memberontak.

"Memberontak dilawan dengan represif oleh VOC, karena VOC punya senjata. Akhirnya kacau-balau, ratusan atau ribuan orang mati. Tapi ada yang lari ke Tangerang, Banten, Pandeglang, Bekasi, Cikarang, bahkan sampai ke Karawang," kata Ronny.

Karena itu di sepanjang jalur Pantai Utara Jawa (Pantura) berdiri klenteng, termasuk di Bekasi. Untuk bertahan hidup, masyarakat Tionghoa berdagang. Karena itu, di sekitar klenteng Hok Lay Kiong dulu ada pasar, menjadi yang terbesar di Bekasi. Tidak hanya masyarakat Tionghoa, etnis Sunda, Jawa, Arab dan lainnya pernah berdagang di sana.

Pasar itu sekarang berubah menjadi permukiman padat penduduk. Ini setelah dibangun pasar baru yang sekarang biasa disebut Pasar Proyek. (mdk/cob)

Baca juga:
Geger Pecinan, Saat Laskar Tionghoa-Jawa Bersatu Melawan VOC
Kebersamaan Komunitas Muslim Tionghoa Indonesia Sajikan Menu Berbuka Puasa
Hadiri Imlek Nasional 2019, Jokowi Ajak Warga Datang ke TPS 17 April
Kenapa Perayaan Imlek Identik dengan Warna Merah?
Gus Dur di Mata Tokoh Tionghoa Kota Malang

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.