Jejak Perkara Dugaan Pelecehan Seksual oleh Biarawan di Depok

Jejak Perkara Dugaan Pelecehan Seksual oleh Biarawan di Depok
PERISTIWA | 28 Agustus 2020 13:32 Reporter : Nur Fauziah

Merdeka.com - Penanganan kasus pelecehan seksual yang diduga dilakukan biarawan berinisial LL di Kota Depok, Jawa Barat, dihentikan polisi. Pasalnya, pelapor telah mencabut laporan tersebut sehingga dikeluarkan surat penghentian penyidikan dan penuntutan (SP3).

Penyidik melakukan penangguhan penahanan terhadap tersangka karena laporan tersebut dicabut. "Dilakukan penangguhan penahanan dan dijamin oleh keluarga. Dengan dicabutnya laporan maka kasusnya pun SP3," kata Kasat Reskrim Polres Metro Depok Kompol Wadi Sa'bani, Jumat (28/8).

Peristiwa pelecehan seksual tersebut terjadi pada akhir 2019, tepatnya pada bulan September, dengan korban yaitu FSG. Saat itu korban sedang tidur dan merasa ada yang mencium anggota tubuhnya.

"Korban FSG kemudian cerita pada temannya yaitu RS. Ternyata RS juga pernah mengalami hal yang sama pada Juli 2019," ungkapnya.

Cerita tersebut lalu didengar oleh salah seorang pekerja sosial yang kemudian melaporkan kasusnya ke polisi. Laporan diterima penyidik pada 13 September yang didalami oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Depok.

"Lalu polisi melakukan penyelidikan dan penyidikan atas perkara yang dilaporkan. Pelaku berhasil diamankan dan ditahan. Namun penyidik saat karena dari pihak korban justru keberatan untuk masalah ini dilanjutkan dengan alasan mereka sudah diasuh dan dirawat oleh pelaku sejak kecil," tukasnya.

Keterangan mereka, jika pelaku ditahan maka tidak ada yang menanggung biaya hidup anak-anak lainnya di panti. Namun penyidik tetap melakukan penahanan terhadap pelaku.

"Selama tersangka ditahan, anak-anak panti tidak ada yang merawat, mengurus makan dan lainnya. Sehingga anak itu bubar terpencar. Termasuk korban pulang ke daerah asal dan sampai saat ini penyidik belum tahu alamat pasti korban," ucapnya.

Dalam proses hukumnya, berkas perkara sudah pada tahap 1 di Kejaksaan Negeri Depok. Namun dari jaksa dikembalikan karena harus dilengkapi kembali, dan mendalami kembali pemeriksaan terhadap korban dan saksi.

"Hambatannya keberadaan korban dan saksi yang sudah mencar karena tidak ada di tempat, sudah koordinasi dengan pihak panti tapi mereka tidak tahu alamat pasti korban," katanya.

Penyidik sudah melakukan penambahan masa tahanan. Namun hingga masanya habis, penyidik masih kesulitan mencari saksi korban. "Waktu penahanan sudah habis. Pelapor juga kesulitan mencari korban. Waktu tahanan sudah habis jadi ditangguhkan," pungkasnya. (mdk/cob)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami