Jejak Terakhir Maulana saat Demo Rusuh di Jakarta

PERISTIWA | 4 Oktober 2019 14:18 Reporter : Tim Merdeka

Merdeka.com - Maspupah (49), ibu Maulana Suryadi alias Yadi (23) tak miliki perasaan apapun sebelum anaknya meninggal dunia. Epa sapaan Maspupah, sempat dipijat oleh Yadi sebelum sang anak ikut aksi demonstrasi di Gedung DPR/MPR RI, Rabu (25/9) malam. Bahkan, Yadi sempat meminta maaf kepada sang ibu.

Hari itu, sekitar pukul 20.00 WIB, Epa tengah tertidur. Yadi pulang dari pekerjaannya sebagai juru parkir di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Saat tertidur, dia yang sama-sama berprofesi sebagai juru parkir dipijat oleh Yadi.

"Enggak biasanya dia begitu. Saya sempat bilang 'pasti ini ada maunya lu ye', nanti minta upah deh. Terus dia bilang nggak, ibu pasti kecapekan kan," kata Epa ditemui di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (4/10).

"Terus dia juga minta maaf sama saya, sampai dua kali. Emang dia sering minta maaf kalau dia salah," sambungnya.

Namun, Epa heran karena anak pertamanya itu dirasa tak berbuat salah. "Dalam hati saya ini anak tumben minta maaf mulu ada apaan ya," ujarnya.

Usai meminta maaf, Yadi pamit ingin ke sekitar Gedung DPR. Dia lantas menanyakan tas milik adiknya. Dia juga ingin mengenakan baju milik adiknya. Epa sempat melarang Yadi untuk melihat unjuk rasa di DPR.

"Mau ngapain ikut demo ntar celaka, sudah saya larang itu. Dia bilang mau nonton, bukan ikut demo," tegasnya.

Kemudian, Yadi pergi menuju rumah bibinya bernama Ningsih. Di sana Yadi sempat meminta uang sebesar Rp10.000 kepada adik ibunya itu.

"Dikasih dah itu duit Rp10.000, di sana dia juga makan lahap banget. Padahal di rumah itu dia baru selesai makan, terus di sana makan lagi," ungkapnya.

Usai meminta uang dan makan, Yadi pun bersama temannya Aldo (15) untuk melihat demo. Mereka menaiki sepeda motor menuju Slipi Jaya.

"Sampai sana katanya dia dipegang sama polisi, terus disuruh ikut. Aldo ini tidak tahu, karena dia pingsan dan dia tidak tahu kenapa Yadi meninggal," katanya.

Baca juga:
Janggal Kematian Maulana di Tengah Rusuh Jakarta
Korban Demo Rusuh, Maulana Tewas Karena Asma atau Tindak Kekerasan?
Dari Dalam Ambulans di Tengah Kerusuhan
Medis Jalanan di Malam Mencekam
Polisi Tangkap Penyebar Hoaks Mahasiswa Tewas Tertabrak Mobil Taktis
Mahasiswa Desak Jokowi Terbitkan Perppu KPK

1 dari 1 halaman

Kabar Kematian

Keesokan hari, Kamis (26/9) malam, Epa mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai polisi. DIa meminta alamat rumahnya.

Lalu ada dua mobil mendatangi rumahnya. Delapan orang polisi menghampiri rumahnya.

"Ngabarin Bu sabar ya Bu Maulana Suryadi sudah enggak ada. Saya langsung merasa nyesak sampai nangis. Terus saya diajak ke Rumah Sakit Polri. Tapi di jalan saya ditawari makan ke restoran, saya pikir sudah sampai, adiknya ini curiga, kok polisi bukan buru-buru anter ke rumah sakit," bebernya.

Sampai di rumah sakit, Epa melihat anaknya telah terbujur kaku. Dia dan adiknya melihat ada bekas luka lembar dari perut hingga ke kepala.

"Saya disuruh buat surat pernyataan kalau Yadi meninggal karena sakit asma dan kena gas air mata. Lalu dibawa pulang. Polisi yang tadi awalnya ikut, tapi tiba-tiba hilang. Saya dikasih duit katanya buat keperluan pemakaman, saya nggak hutang, sampai rumah itu ada Rp 10 juta," katanya.

(mdk/rhm)