Jelang New Normal, Pemerintah Bisa Belajar dari Provinsi Fujian

Jelang New Normal, Pemerintah Bisa Belajar dari Provinsi Fujian
PERISTIWA | 29 Mei 2020 10:12 Reporter : Henny Rachma Sari

Merdeka.com - Pemerintah tengah mewacanakan The New Normal di tengah Pandemi Covid-19. Beberapa sektor usaha yang sebelumnya ditutup pun, kini akan dibuka kembali.

New Normal sendiri telah diterapkan di Provinsi Fujian, Tiongkok. Arahan Presiden Xi Jinping, ada dua prioritas yang dilakukan. Yakni, Pertama, kesehatan dan pemulihan ekonomi dengan prinsip pencegahan ilmiah dan kedua, implementasi kebijakan yang tepat, mendorong normalisasi kegiatan ekonomi dengan tertib, baik perusahaan perdagangan dalam negeri maupun perdagangan luar negeri, dan PMA.

Hal tersebut diungkapkan Konsulat Departemen Perdagangan Pemerintah Provinsi Fujian Wu Fei dalam diskusi bersama Partai NasDem dengan tema 'Tukar Pengalaman Melawan Pandemi Covid-19 Antara Indonesia dan RRT'.

Wu Fei menceritakan bahwa hypermarket dan supermarket, toko dan pasar grosir pertanian telah kembali normal 100 persen. Adapun tingkat pembukaan pasar mencapai 99 persen normal.

"Pengalaman kami menunjukkan bahwa tim koordinasi dilakukan melalui kepemimpinan pemerintah provinsi. Pada Provinsi Fujian, ada 24 unit anggota dan sembilan kota serta satu kabupaten membentuk mekanisme kepemimpinan terkoordinasi dengan kerja sama horizontal yang erat dan hubungan antara provinsi dan kota. Ada lima gugus kerja di bawah tim tersebut, yaitu perdagangan luar negeri, investasi asing, perdagangan, layanan, dan pelabuhan. Masing-masing melakukan pekerjaan sesuai tugas pokok dan fungsinya," jelas Wu Fei dalam keterangannya, Jumat (29/5).

Gugus tugas tersebut melakukan rapat berkala setiap minggu untuk melakukan review permasalahan yang dihadapi setiap pekannya. Hasil dari rapat tersebut dibuatkan laporan dengan sistem informasi yang cepat. Apabila ada kesulitan yang dihadapi di luar lingkup provinsi, maka diserahkan ke tingkat Pusat.

"Hal yang tak kalah penting, kami meningkatkan kolaborasi antara departemen. Kami memperkuat kerja sama strategis dengan kantor perpajakan, bea cukai dan departemen-departemen yang lain untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk baru pengawasan perdagangan luar negeri dan inovasi layanan," tegasnya.

Martin Manurung selaku Ketua Bidang Hubungan Internasional DPP Partai NasDem yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR RI menyampaikan bahwa kiat-kiat pemulihan yang dilakukan Provinsi Fujian merupakan praktik terbaik yang dapat menjadi pelajaran bagi Indonesia. Bahkan, tidak menutup kemungkinan dalam konteks New Normal ke depan perlu dilakukan kerja sama yang baik antara Provinsi Fujian dengan provinsi di Indonesia.

Hal ini penting untuk membangun kepercayaan masing-masing negara dalam hubungan internasional pasca pandemi Covid-19. Di samping itu, upaya kerja sama mengingatkan konteks historis antara dua daratan besar di Asia.

"Berbagai peristiwa zaman mulai dari masa-masa kejayaan hingga masa-masa sulit seperti sekarang ini telah dilalui oleh kedua bangsa. Para leluhur bangsa Indonesia dan bangsa China juga telah terbiasa menghadapi segala tantangan zaman secara bersama-sama," katanya.

Kuatnya hubungan ekonomi kedua negara ini, terlihat dari besarnya investasi Tiongkok di Indonesia yang menempati peringkat dua teratas.

Menurut Wakil Ketua DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan, Rachmat Gobel, posisi investasi Tiongkok pada 2019 sebesar Rp70,5 triliun menempatkan Tiongkok di posisi kedua setelah Singapura dengan investasi sebesar Rp97,5 triliun, dan di atas Jepang yang mencapai Rp 64,5 triliun.

"Oleh sebab itu, kemitraan yang terjalin begitu mesra sejak beberapa tahun terakhir ini harus semakin ditingkatkan. Apalagi dalam situasi saat ini, khususnya pada masa pandemi Covid-19, Indonesia sangat membutuhkan masuknya investasi asing, baik dari mitra barunya, maupun negara mitra lama seperti Tiongkok," terangnya.

Wu Fei menyambut gembira peluang kerja sama ekonomi antara Provinsi Fujian dan provinsi potensial di Indonesia. Menurutnya, kebijakan pelonggaran ekonomi yang dilakukan masing-masing negara saat ini berpeluang untuk membentuk pola-pola baru dalam kerja sama.

"Epidemi telah mengakibatkan gangguan pada sektor hulu di semua lini industri hingga rantai industri di tingkat turunannya. Kita terus mencoba mengatasi berbagai permasalahan itu. Misalnya dengan terobosan platform cloud trade dengan pembentukan zona Fujian online. Kita bisa menginisiasi untuk mempromosikan komoditas unggulan kita, tanpa perlu pameran offline. Dan, itu menghemat anggaran perdagangan ekspedisi perdagangan," jelasnya.

Seminar virtual Experience Exchange Fighting Covid-19 Pandemic Between Indonesia and China atau Tukar Pengalaman Melawan Pandemi Covid-19 Antara Indonesia dan Tiongkok diikuti 100 orang peserta dari kedua negara. Seminar virtual ini diselenggarakan selama dua jam secara efektif. Melalui kegiatan tersebut Partai NasDem akan membuat laporan hasil diskusi sebagai bagian dari rekomendasi partai untuk mendukung percepatan pemulihan ekonomi pasca pelonggaran PSBB di berbagai daerah. (mdk/rhm)

Baca juga:
Polri: Kita Semua Harus Beradaptasi dengan New Normal
Ini Barang yang Wajib Ada di Tas Saat Beraktivitas Kala New Normal
Menantikan Kebijakan New Normal untuk Dunia Pendidikan
Jelang Wacana New Normal, Masjid Istiqlal Belum Gelar Salat Jumat
Bertemu Airlangga, Sufmi Dasco Sebut Persiapan New Normal Hampir Sempurna
Gubernur Sulsel Tegaskan Mal Tetap Ditutup: Kita Satu Komando dengan Pusat

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Putar Otak Bisnis Ritel Hadapi Corona

5