Jenazah Pasien Covid-19 Ditangani Profesional, MUI Ingatkan Warga Tak Tolak Pemakaman

Jenazah Pasien Covid-19 Ditangani Profesional, MUI Ingatkan Warga Tak Tolak Pemakaman
PERISTIWA | 31 Maret 2020 19:32 Reporter : Wilfridus Setu Embu

Merdeka.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat agar tidak menolak jenazah pasien Covid-19. Imbauan ini menyusul adanya penolakan terhadap jenazah pasien Covid-19 ketika hendak dimakamkan.

Wakil Ketua Komisi Hukum MUI Pusat Anton Tabah menegaskan bahwa proses pemakaman pasien Covid-19 sudah memiliki prosedur tertentu yang dilakukan oleh petugas khusus. Oleh sebab itu, MUI meminta masyarakat agar tak menolak pemakaman jenazah pasien Covid-19.

"Masyarakat tidak boleh menolak pemakaman korban wabah Corona atau wabah penyakit apapun karena proses pemakaman korban wabah penyakit ditangani oleh petugas medis yang sangat profesional tidak oleh masyarakat umum," kata dia, kepada Merdeka.com, Selasa (31/3).

"Jangan takut tertular karena setelah dikuburkan masih disemprot cairan disinfektan pembasmi kuman virus Coronanya yang langsung hilang dalam hitungan menit," imbuhnya.

Dia pun menyesalkan jika ada penolakan warga terhadap jenazah pasien Covid-19. Lantaran kematiannya dianggap buruk sehingga dilarang mendekati jenazah.

"Berarti akan sedikit yang melayat yang menyolatkan jenazahnya bahkan keluarganya pun tak boleh dekat mayat tak boleh ikut menguburkan kecuali melihat dari jauh karena semua prosesi jenazah harus dilakukan tim medis pemerintah yang terlatih," jelas dia.

Dia pun menegaskan bahwa setiap orang yang wafat terkena wabah, ia wafat dalam keadaan syahid. Itu berarti kematian yang baik tanpa hisab.

Setidaknya, Anton menyebut tiga hadist yang menegaskan syahidnya orang yang meninggal karena wabah. Tiga hadist tersebut, yakni hadist riwayat Abu Daud Nomor 2704, Bukhory 615, dan Nasai 1846. "Nabi Muhammad SAW bersabda 'mati syahid selain gugur di jalan Allah (dalam majelis ilmu atau perang) ada 7 lagi, yaitu: meninggal karena terkena penyakit thaun (wabah), karena tenggelam," ujar dia.

"Mati karena sakit radang selaput dada, meninggal karena sakit perut, meninggal karena terbakar, wafat terkena reruntuhan dan wanita muslimat yang meninggal dalam keadaan hamil atau ketika melahirkan adalah syahid," lanjut Anton.

Selain itu, menurut dia, Nabi Muhammad SAW menambahkan orang yang wafat ketika berjamaah sholat Isak dan Subuh juga syahid. "Namun tidak termasuk mati syahid jika sengaja ingin mati dalam wabah penyakit tersebut. Ini artinya kita harus ikhtiar dengan sungguh-sungguh dan mentaati aturan dari ulama dan pemerintah yang otoritatif tentang masalah ini," tegasnya.

Karena itu, dia meminta semua elemen bangsa untuk memberi penjelasan yang intens pada masyarakat tentang proses pemakaman jenazah pasien Covid-19.

"MUI pusat sudah keluarkan fatwa dengan detil tanggal 16 Maret 2020, termasuk prosesi penanganan jenazah sampai pemakamannya. Terjadinya penolakan tersebut akibat kurangnya komunikasi dan informasi pada masyarakat," tandasnya. (mdk/gil)

Baca juga:
Pemuka Agama Sepakat Imbau Umat Hindari Kerumunan Cegah Covid-19, Termasuk Beribadah
MUI: Sebaik-baiknya Salat Adalah Salat yang Dilakukan di Rumah
Tausiyah MUI Sumut Hadapi Covid-19, Haramkan PDP ke Tempat Umum Termasuk Masjid
MUI Gelar Rapat Fatwa Ibadah Tenaga Medis dan Pengurusan Jenazah Terpapar Corona
MUI Keluarkan Fatwa Tata Cara Salat Bagi Tenaga Medis yang Tangani Corona
Wapres Ma'ruf Amin Minta MUI Keluarkan Fatwa Soal Jenazah Pasien Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami