Jogo Siswa, Kisah Solidaritas Sosial di Lereng Gunung Slamet

Jogo Siswa, Kisah Solidaritas Sosial di Lereng Gunung Slamet
PERISTIWA | 3 November 2020 05:05 Reporter : Abdul Aziz

Merdeka.com - Fitri Safarani (12), menyalakan Handy Talky (HT). Di ruang depan di kediamannya di Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, ia duduk melantai ditemani Nawang Hilda Risma, 13 tahun. Keduanya pelajar kelas VII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis, Desa Gununglurah. Pagi itu, Selasa (27/10), mereka tengah mengikuti pembelajaran jarak jauh memanfaatkan frekuensi radio.

Nawang dan Rani menyimak dengan seksama keterangan guru yang mereka dengar dari HT. Terkadang mereka memutar kenop volume HT, untuk mengatur besar kecilnya suara dari radio transmitter. Setiap penjelasan guru, mereka salin di lembaran buku tulis.

Alat komunikasi HT yang berbentuk mirip telepon genggam itu, adalah buah solidaritas sejumlah individu dan komunitas yang bahu membahu untuk meringankan dampak pandemi Covid-19 yang dialami siswa-siswi MTs Pakis. Kisah solidaritas ini, dimulai pada Agustus 2020 lalu. Latar belakangnya, siswa-siswi MTs Pakis mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring. Pasalnya, lokasi mereka bermukim maupun lokasi sekolah yang terpencil di lereng Gunung Slamet tak didukung oleh sinyal atau jaringan internet.

Gerakan solidaritas tersebut berjalan dengan basis budaya gotong royong atau keikutsertaan berbagai pihak mulai dari Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari), pers, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas, Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) SAI, juga akademisi. Kepedulian berbagai pihak ini, mensinergikan sikap saling peduli untuk meringankan beban satu sama lain di situasi sulit pandemi Covid-19.

Baca Selanjutnya: Jogo Siswa...

Halaman

(mdk/cob)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami