Joki Cilik di Lintasan Berkuda, Tradisi atau Eksploitasi?

PERISTIWA | 21 November 2019 19:39 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - MSP, bocah 10 tahun di Bima, Nusa Tenggara mengalami kecelakaan saat menjadi joki kuda pada Oktober lalu. MSP mengalami luka di bagian kepala setelah kuda yang dia tunggangi menimpa tubuh kecilnya. Kejadian itu pula yang merenggut nyawa MSP.

Dewi Ratna Muchlisa, sebagai pemerhati budaya menceritakan secara singkat kehidupan masyarakat di Bima. Menurutnya, rata-rata masyarakat Bima bermata pencarian dengan bercocok tanam. Dan kuda, mereka jadikan kendaraan menuju ladangnya.

Kuda memang menjadi pilihan karena hewan berkaki empat asal Bima dinilai sangat tangguh, kuat dan tidak sudah untuk menghidupinya karena bisa makan apa saja.

"Memang orang Bima akrab dengan kuda, kehidupannya di kelilingi dengan budaya dan sumber kehidupan," kata Dewi dalam jumpa pers di Kementerian Sosial, Kamis (21/11). Jumpa pers ini sekaligus menyikapi insiden tewasnya MSP, joko cilik pacuan kuda asal Bima.

Dia menceritakan, pacuan kuda ada di Bima antara tahun 1925-1927. Dahulu, katanya, pacuan kuda digelar sebagai wujud syukur para petani setelah masa panen.

Namun saat itu, joki dikendalikan pria dewasa. Tapi seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan. Sekitar tahun 1970-1980, joki beralih menggunakan anak yang masih di bawah umur.

Dipilihnya anak-anak sebagai joki agar beban kuda menjadi lebih ringan dan dapat melaju dengan lebih cepat. Padahal lebih dari itu, keterlibatan anak sebagai joki kuda yang pada akhirnya akan mendapatkan imbalan uang, sebagai bentuk eksploitasi.

"Jadi kalau dibilang joki cilik adalah budaya, itu sangat keliru, budaya yang mana dulu. Ini kan berubah karena zaman, agar beban kuda menjadi lebih ringan dan sebagainya," sambungnya.

Profesi joki memang belakangan cukup diminati. Dewi menuturkan, kondisi itu karena uang yang didapat setelah mereka bertugas pada pacuan kuda.

"Rp50.000 - Rp150.000 tergantung pemilik kuda nya. Biasanya satu anak kalau dia jago, 1 hari bisa naik kuda 10 - 15 kali," tutupnya.

Reporter Magang:Abyan Ghafara Andayarie

Baca juga:
LPAI Sebut Joki Cilik Pacuan Kuda Langgar UU Perlindungan Anak
Ramainya Warga Berebut Foto Bareng Kuda Polisi di CFD Bundaran HI
Kuda Mengamuk Saat Perayaan Divas di India
Melihat Keseruan Pacuan Kuda Tradisional di Aceh
Perjuangan Koboi Gelut dengan Banteng di Calgary Stampede
Sempat Dilarang, Delman Hias Kembali Keliling Monas
Kuda Pustaka, Derap Literasi di Lereng Gunung Slamet

(mdk/lia)