Joki Cilik Pacuan Kuda Beresiko Tinggi, Budaya yang Harus Dikoreksi

PERISTIWA | 21 November 2019 22:43 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menyoroti tradisi joki cilik pacuan kuda. LPAI berencana akan mengunjungi Bima, Nusa Tenggara Barat, pada bulan Januari.

Ketua Umum LPAI, Seto Mulyadi, menilai adanya budaya maupun tradisi yang harus dikoreksi terkait joki cilik di lintasan berkuda itu. Dari pandangannya, perlombaan itu sebetulnya masuk kategori orang dewasa.

"Memang ada beberapa budaya yang harus di koreksi. Joki cilik sebetulnya perlombaan kuda untuk orang dewasa," kata Seto Mulyadi saat ditemui di Kantor LPAI, Jakarta Pusat, Kamis (21/11).

Seto menambahkan adanya bakat yang disalahgunakan dalam tradisi pacuan kuda oleh joki cilik.

"Kita juga memahami seorang anak mempunyai minat dan bakat, tapi kalo bakat ini disalahgunakan tentu juga tidak layak untuk kegiatan yang beresiko tinggi. Jadi ini tentu sangat bertentangan dengan UU perlindungan anak," kata dia.

1 dari 1 halaman

LPAI Desak Pemda Bima Setop Perlombaan Joki Cilik Pacuan Kuda

LPAI menilai perlombaan pacuan kuda dengan menggunakan anak di bawah umur sebagai joki mengandung resiko yang sangat tinggi.

"Anak sebagai joki mengandung resiko yang tinggi dari tubuh, jiwa untuk tumbuh kembang, organ tubuh yang beresiko dan juga peralatannya yang sederhana sehingga memungkinkan mereka menjadi korban eksploitasi. Karena itu penting untuk dilindungi," ujar dia.

Seto menyatakan bahwa LPAI bukan menghentikan tradisi pacuan kuda, tetapi menghentikan eksploitasi anak terhadap joki pacuan kuda. Menangani kasus ini, LPAI segera menindaklanjuti untuk menghentikan eksploitasi pada anak.

"Kita sudah berkoordinasi dengan Kementerian KPPA dan juga Pemda, sehingga kita bisa mengukur langkah kita untuk bisa mencegah eksploitasi terhadap anak Indonesia khususnya joki anak di pacuan kuda," ujar dia.

Seto juga mendesak Pemda Bima untuk menghentikan eksploitasi anak. "Segara dihentikan, merehabilitasi korban, menjamin masa depannya. Kami juga akan ke sana untuk melihat langsung situasi, mungkin sekitar bulan Januari," tutup Seto.

Reporter Magang: Abyan Ghafara Andayarie (mdk/gil)

Baca juga:
Joki Cilik di Lintasan Berkuda, Tradisi atau Eksploitasi?
LPAI Sebut Joki Cilik Pacuan Kuda Langgar UU Perlindungan Anak
Teka Tambora Akan Meriahkan Festival Pesona Tambora 2019
Pemburu Ratusan Rusa dan Kerbau di Pulau Komodo Diringkus
Tingkatkan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Pemerintah Resmikan LTSA di Bima
Selundupkan 19.800 Bibit Lobster, Tiga Pelaku di Bima Dibayar Rp 5 juta
Gubernur Minta Bayi Komodo yang Dijual Ke Luar Negeri Dipulangkan ke NTT