Jokowi-Ahok menuju DKI 1

Jokowi-Ahok menuju DKI 1
PERISTIWA » MALANG | 20 Maret 2012 06:31 Reporter : Mohamad Hasist

Merdeka.com - Wajah Joko Widodo semringah. Dengan berbalut kemeja motif kotak-kotak berwarna merah-hitam ia menaiki Kopaja untuk mendaftar ke KPUD DKI Jakarta sebagai calon gubernur.

Jokowi, panggilan akrab Joko Widodo, tidak banyak bicara setelah PDIP dan Partai Gerindra resmi mengusungnya. Ia maju sebagai cagub disandingkan dengan putra Bangka Belitung, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Keputusan PDIP untuk mengusung Jokowi cukup mengejutkan. Sebab, jauh-jauh hari pentolan PDIP Taufiq Kiemas sudah menyatakan dukungannya ke Fauzi Bowo.

Tapi keputusan partai berkata lain. Lewat rapat pengurus daerah Jakarta dan restu Megawati, Jokowi akhirnya mendapatkan tiket untuk mencalonkan diri.

Jokowi memang bukan warga Jakarta. Tapi PDIP mempercainya bisa mengalahkan calon lain.

Politik Jokowi

Jokowi tahun ini usianya sudah 50 tahun. Ia memulai karier politiknya saat terjun mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo. Awalnya banyak warga Surakarta tidak mengetahuinya.

Dia hanya pedagang mebel dan taman. Tapi PDIP berani mencalonkannya.

Secara mengejutkan ia terpilih menjadi Wali Kota Solo tahun 2005. Di masa awal kepemimpinannya Jokowi sempat disanksikan bisa memimpin Solo.

Namun Jokowi tidak menutup telinga dengan kritik yang dialamatkan kepada dirinya. Satu tahun berjalan, ia langsung membuat gebrakan dengan mengubah tata kota Solo. Pengalamannya dari Eropa saat berbisnis ia terapkan di Solo.

Dengan slogan "Solo: The Spirit of Java", lulusan UGM tahun 1985 itu mengubah Solo dalam waktu cepat. Yang paling tersohor dan terkenal sampai sekarang adalah saat ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari. Relokasi itu tidak biasa. Relokasi itu tanpa gejolak.

Dan yang paling anyar adalah konsepnya mewujudkan mobil nasional buatan Esemka. Konsep Jokowi ini membuat geger se nusantara. Mulai menteri sampai rakyat ikut membicarakan tekad Jokowi tersebut.

Sayang, niat Jokowi menjadikan Esemka sebagai mobil nasional masih tertunda setelah mobil itu gagal lulus uji emisi di Serpong, Tangerang.

Basuki Tjahaja Purnama = Ahok

Sama halnya Jokowi, Ahok adalah putra daerah yang sukses saat memimpin Belitung Timur periode 2005-2010. Namanya juga tersohor di daerahnya.

Setelah gagal di pemilihan gubernur Belitung, ia berkiprah di Senayan. Ia duduk di Komisi II dari kendaraan Partai Golkar.

Sebelum terjun ke dunia politik, Ahok pernah malang-melintang sebagai pengusaha. Di kampung halamannya Belitung, ia mendirikan perusahan CV Panda. Perusahaan ini bergerak di bidang kontraktor pertambangan PT Timah.

Namun, usaha pertamanya tidak berjalan dengan mulus. Setelah dua tahun menjadi kontraktor, Ahok kurang modal. Sebab, untuk mengelola perusahaannya butuh modal besar dari investor.

Setelah usaha pertama gagal, pada 1992 Ahok mendirikan PT. Nurindra Ekapersada sebagai persiapan membangun pabrik Gravel Pack Sand (GPS) pada tahun 1995.

Pabrik di Dusun Burung Mandi, Desa mengkubang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur itu awalnya akan menjadi proyek percontohan untuk memberikan konstribusi bagi Pendapatan Asli Daerah Belitung Timur.

Pada akhir tahun 2004, bisnisnya mulai tumbuh setelah investor dari Korea melirik konsepnya. Ia akhirnya membangun Tin Smelter (peleburan bijih timah) di KIAK. Bisnis ini terus berkibar.

Sukses menjadi pengusaha, pada tahun yang sama Ahok terjun ke dunia politik. Partai pertamanya adalah Partai PIB (PPIB). Ia saat itu didaulat sebagai ketua DPC Kabupaten Belitung Timur.

Awal kariernya langsung berjalan dengan mulus. Pada pemilu 2004, ia mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur periode 2004-2009.

Satu tahun menjadi anggota dewan di daerah, pada tahun 2005, Ahok mengikuti pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Belitung Timur. Ahok saat itu berpasangan dengan Khairul Effendi.

Ia menggunakan kendaraan dari Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan (PNBK) untuk maju sebagai calon Bupati-Wakil Bupati Belitung Timur periode 2005-2010. Pertama kali mencalonkan diri, ia langsung mengantongi 37,13 persen suara dan menang.

Pada tahun 2007, Ahok mencoba keberuntungan dengan menjadi calon gubernur dalam Pilkada Bangka Belitung. Waktu itu ia mendapat dukungan dari Mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Sayang, Ahok gagal.

Tahun ini, ia maju sebagai cawagub mendampingi Jokowi. Bisakah dia sukses memimpin Jakarta seperti saat memimpin Belitung Timur? (mdk/has)

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan
TOPIK TERKAIT
more tag

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami