Jokowi dan Solo Batik Carnival
PERISTIWA | 14 Oktober 2012 14:28 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Kesuksesan Wali Kota Solo Joko Widodo (Jokowi) menjadi gubernur DKI nampaknya juga akan diikuti oleh kesuksesan Solo Batik Carnival (SBC). Acara akbar yang didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kota Solo melalui kebijakan Jokowi tersebut semakin mendunia.

Tak lama lagi Solo Batik Carnival akan mengikuti sebuah even di Marina Bay Sands Singapura. SBC ditunjuk oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai salah satu delegasi yang akan mewakili Indonesia.

"Kita ditunjuk Kementerian untuk mewakili Indonesia," ujar Susanto pengagas sekaligus pembina yayasan SBC kepada merdeka.com, di Solo, Sabtu (13/10).

Tema yang akan diangkat dalam acara tersebut adalah 'Topeng Indonesia' dan akan dipresentasikan dalam bentuk pagelaran dan karnaval pada 17 hingga 21 Oktober 2012 mendatang.

SBC digelar sejak tahun 2008. Lewat acara ini Kota Solo ingin lebih mengenalkan batik sebagai salah satu warisan budaya yang keberadaannya masih terjaga ke mata duniam, sekaligus menegaskan Solo sebagai kota batik. Sebuah perhelatan akbar yang mengkampanyekan keindahan dan keagungan batik khas Solo.

SBC merupakan sebuah karnaval yang awalnya dikelola oleh swasta dengan dukungan Pemerintah Kota Solo. Seiring perkembangan SBC dikelola oleh sebuah yayasan bernama Yayasan Solo Batik Carnival.

Terinspirasi dari Jember Fashion Carnaval (JFC), sebuah parade peragaan busana di jalanan, tak heran jika konsep SBC tak berbeda jauh dengan JFC. Perbedaannya hanya terletak pada bahan utama pembuatan kostum.

Jika kostum JFC lebih beragam dan berasal dari bahan-bahan yang ditemukan di sekitar, seperti kain perca atau tutup botol, maka SBC sesuai dengan namanya lebih mengutamakan kain batik sebagai bahan utama penciptaan kostum karnaval yang spektakuler. SBC juga dikenal lebih memberdayakan masyarakat yang kelak diharapkan akan tampil mandiri.

Tak semudah mengikuti karnaval lainnya. Pada pagelaran akbar SBC, sebelum mengikuti karnaval, untuk bisa merancang kostum setiap peserta diwajibkan mengikuti workshop hingga berbulan bulan lamanya. Dengan biaya sendiri kostum karnaval yang dirancang kemudian dipakai sendiri oleh para peserta dalam puncak acara Solo Batik Carnival yang berlangsung di sepanjang Jalan Slamet Riyadi hingga Kantor Balai Kota Solo, sepanjang kurang lebih 4 kilometer.

SBC digelar pertama kali pada 2008. Hingga pelaksanaan yang ke tiga kalinya, SBC selalu digelar pada siang hari. Namun mulai penyelenggaraan ke empat tahun 2012, diselenggarakan pada malam hari.

Kostum berbahan utama batik yang mewah dan megah dipadu dengan sorotan lampu warna-warni menjadikan gelaran SBC terasa istimewa. Maka tidak mengherankan jika ribuan penonton dari berbagai daerah, bahkan tak sedikit dari mancanegara ikut menyaksikan acara tersebut.

Untuk membuat penonton agar tidak bosan, panitia selalu melakukan perubahan tema, mulai dari 'Topeng', 'Sekar Jagad', 'Keajaiban Legenda', hingga 'Metamorfosis'. Tema-tema tersebut kemudian diterjemahkan melalui kostum rancangan peserta yang unik dan kreatif.

Corak batik klasik dipadukan dengan batik kontemporer dan dihiasi dengan manik-manik serta mahkota menjadikan kostum makin semarak.

Sejak digelar digelar berbagai prestasi didapatkan oleh SBC. SBC tak hanya tampil di Indonesia, tapi juga beberapa kali mengikuti even internasional di sejumlah negara.

Di ajang Chingay Festival Singapura, delegasi SBC mendapat apresiasi meriah dari penonton. Selain Singapura delegasi SBC juga pernah mendapatkan kehormatan tampil ke perhelatan Pasar Malam Indonesia 2010, di Den Haag, Belanda.

Tak hanya itu, Januari tahun depan SBC diundang untuk mengikuti Pasadena Tournament of Roses, sebuah parade tahunan kendaraan yang dihias bunga di Pasadena, California, Amerika Serikat. Bahkan Kementerian Luar Negeri bakal mengusahakan agar karnaval kebanggaan wong Solo tersebut bisa tampil dalam parade di Rio De Janerio, Brasil.

Mantan Wali Kota Solo Jokowi mengatakan, inti dari Solo Batik Carnival adalah sebuah eksplorasi batik. Adanya karnaval hanyalah sebagai media untuk lebih mengenalkan batik ke berbagai kalangan. Sebab sampai saat ini masih banyak yang menganggap batik hanya sebagai busana untuk acara-acara formal saja.

"Selama ini orang beranggapan batik hanya sebagai busana untuk rapat, kondangan, atau acara-acara resmi saja. Padahal batik bisa dikenakan siapa saja, anak-anak, remaja, dan orang tua. Tidak harus dalam bentuk kemeja, kebaya atau kain jarik, tapi juga dalam bentuk kaos, celana, dan lainnya. Jangan sampai batik diidentikkan dengan kesan tua dan formal," ujar Jokowi kepada merdeka.com yang sebentar lagi akan dilantik menjadi gubernur DKI.

Sebagai bentuk kepedulian dan dukungannya terhadap keberadaan batik, Jokowi mengaku tetap akan memantau dan mengikuti perkembangan Solo Batik Carnival, meski ia akan menjadi gubernur DKI.

"Meski sudah tak ada di Solo saya akan tetap mengikuti perkembangannya. Tak hanya SBC tapi juga even-even internasional lainnya, seperti Solo International Performing Art (SIPA) dan Solo International Etnic Music (SIEM). Semua sudah dikelola oleh yayasan, saya yakin akan lebih maju," kata Jokowi.

(mdk/dan)

TOPIK TERKAIT