Jokowi Minta Penanganan Kasus di Papua Diselesaikan Tanpa Emosi

PERISTIWA | 23 September 2019 17:22 Reporter : Sania Mashabi

Merdeka.com - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberikan instruksi tegas pada aparat yang menangani kerusuhan di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Menurut dia, Jokowi menginstruksikan agar semua masalah diselesaikan dengan proporsional dan profesional.

"Sudah, tadi sudah disampaikan pada saat pertemuan pertama ya. Instruksi presiden jelas, supaya diselesaikan dengan cara-cara proporsional dan profesional," kata Moeldoko di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (23/9).

Moeldoko menjelaskan, Jokowi juga meminta agar semua masalah ditangani tanpa emosi. Serta tindakan yang represif.

"Enggak ada perintah represif. Semuanya diminta untuk menahan diri, karena ini sangat berkaitan dengan apa yang terjadi di PBB. Jadi jangan kita memunculkan situasi yang tidak bagus," ungkapnya.

"Jadi semunya harus terkontrol dengan baik aparat keamanan, dan tidak ada langkah langkah yang eksesip, tetapi keamanan menjadi kebutuhan bersama," sambungnya.

Dia menambahkan, kerusuhan di Wamena sengaja dilakukan untuk memprovokasi Indonesia sehingga terjadi pelanggaran HAM berat. Karena itu, kata dia, Jokowi meminta semua pihak untuk lebih menahan diri.

"Begini ya, karena situasi ini sekali lagi situasi yang diprovokasi dalam rangka menciptakan situasi untuk konsumsi PBB. Jadi kita harus menyikapi itu dengan jangan sampai kita ikut terbawa emosi, terpancing dan seterusnya," ucapnya.

Sebelumnya diketahui, Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes AM Kamal menjelaskan awal terjadinya kerusuhan di Wamena, Papua. Pagi hari sekitar pukul 07.25 WIT, ternyata sempat terjadi tawuran pelajar.

"Bertempat di Jalan Yos Sudarso, Wamena, Kabupaten Jayawijaya, telah terjadi penyerangan ke Sekolah Yapis Wamena oleh anak sekolah SMA PGRI," tutur Kamal dalam keterangannya, Senin (23/9).

Menurut Kamal, pelajar SMA PGRI yang datang tergabung dengan masyarakat dengan jumlah massa sekitar 200 orang. Mereka berdemonstrasi di halaman sekolah sambil mengajak pihak sekolah Yayasan Yapis ikut serta.

"Namun sekolah Yapis tidak mau ikut demonstrasi sehingga anak sekolah yayasan Yapis melakukan perlawanan," ujarnya.

Aksi perkelahian tersebut, lanjut Kamal, langsung meluas dengan membuat terjadinya pembakaran beberapa fasilitas pemerintah, fasilitas umum dan pribadi di Jayawijaya. Aparat gabungan TNI dan Polri pun langsung berupaya menenangkan massa.

"Terkait dengan isu ucapan rasisme itu tidak benar. Kami juga sudah menanyakan kepada pihak sekolah dan guru dan kita pastikan tidak ada kata-kata rasis. Kami harap masyarakat di Wamena dan di tanah Papua tidak mudah untuk terprovokasi isu yang belum tentu kebenarannya," Kamal menandaskan.

Baca juga:
Polisi Sebut Kerusuhan di Wamena Papua Dipicu Tawuran Pelajar
Moeldoko Sebut Ada Indikasi Provokasi Asing dalam Kerusuhan Wamena
Polisi: Massa Uncen dan Wamena Beda, Tapi Didalami Indikasi Keterkaitan
5 SPBU Kompak Milik Pertamina di Wamena Tutup Sementara Akibat Kerusuhan
Demo Ricuh Universitas Cenderawasih, Satu Anggota TNI Tewas Dibacok Massa
Gubernur Papua Minta Hentikan Aksi yang Ganggu Stabilitas Keamanan
Kerusuhan Wamena, 6 Anggota Brimob Kritis

(mdk/gil)