Jubir Covid-19: Tak Ada Larangan Beli Baju Lebaran Asal Patuhi Protokol Kesehatan

Jubir Covid-19: Tak Ada Larangan Beli Baju Lebaran Asal Patuhi Protokol Kesehatan
PERISTIWA | 22 Mei 2020 17:37 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Menjelang hari raya Idul Fitri, warga di beberapa daerah berbondong-bondong mendatangi pusat perbelanjaan. Membeli perlengkapan dan pakaian untuk menyambut hari raya. Di sejumlah daerah terlihat penumpukan warga, tanpa protokol kesehatan seperti jaga jarak.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto menegaskan, tak ada larangan bagi masyarakat untuk membeli baju Lebaran. Asalkan mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

"Tidak ada larangan untuk membeli baju yang baru, tidak ada larangan untuk ke pasar. Namun tetap dengan etika sesuai dengan protokol kesehatan," kata Yuri dalam keterangan pers daring di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (22/5).

Yuri memaklumi tradisi masyarakat Indonesia tiap menjelang dan pada saat Lebaran. Baik itu membeli baju Lebaran hingga tradisi untuk bersilaturahmi dengan kerabat dan saudara. Menurutnya, ini tradisi yang positif.

"Namun dalam situasi yang seperti ini semestinya itu bisa kita lakukan dengan menyiasati untuk tetap aman dari kemungkinan tertular Cobid-19," tegas Yuri.

Dia mengingatkan untuk menaati protokol kesehatan. Mulai dari menjaga jarak dengan orang lain, menggunakan masker, dan mencuci tangan dengan air dan sabun. Beberapa hal itu merupakan cara yang bijak untuk mencegah penularan Corona menjelang momen lebaran Idul Fitri nanti.

"Oleh karena itu saudara-saudara sekalian mari lindungi keluarga kita dengan membiasakan untuk menerapkan protokol kesehatan di dalam semua aspek kehidupan," ucap Yuri.

Dia menegaskan, tujuan menerapkan protokol kesehatan hanyalah satu. Yakni melindungi warga dari terinfeksi Corona.

"Apabila ini menjadi budaya baru yang dilaksanakan seluruh masyarakat kita maka kita yakin bahwa keseluruhan bangsa kita bisa kita selamatkan," ucap Yuri.

Sebelumnya,Menjelang Lebaran, outlet pakaian di Kota Bandung dipenuhi warga yang berbelanja di tengah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kondisi yang sama juga terlihat saat pembagian bantuan sosial di mana warga yang mengantre tampak mengabaikan penerapan protokol kesehatan seperti physical distancing (jaga jarak fisik).

Suasana ramainya outlet pakaian terpantau terjadi di Jalan Trunojoyo. Anak-anak muda memadati depan toko.

Rata-rata, pengurus toko menerapkan aturan maksimal lima orang yang bisa masuk secara bergiliran. Namun, tidak ada penjagaan ketat dalam antrean. Banyak di antara mereka mengetahui mengenai pemberlakuan PSBB.

Salah seorang pengunjung, Rahmat Hidayat (24) mengaku sengaja datang untuk membeli pakaian baru. Apalagi, menjelang akhir bulan Ramadan, banyak toko yang memberikan diskon besar.

"Baru gajian dan dapat THR dari tempat kerja. Tahu masih PSBB, tapi bosan juga kan di rumah, WFH (work from home), udah lama enggak keluar," ucap dia.

Dihubungi terpisah, Kepala Bidang Tantribum Satpol PP Kota Bandung, Taspen Efendi, menegaskan toko pakaian, termasuk yang ada di Jalan Trunojoyo tidak boleh beroperasi. Para pengusaha diimbau memaksimalkan penjualan secara daring (online).

"Kami sudah memberikan imbauan agar distro ditutup untuk sementara waktu. Kalau bandel, nanti ada risikonya," tegas dia.

Reporter: Yopi Makdori
Sumber: Liputan6.com (mdk/noe)

Baca juga:
Kasus Covid-19 di Sumsel Tembus 693, Warga Palembang Dilarang Takbiran Keliling
Hasil Sidang Isbat: 1 Syawal 1441 H Jatuh Pada Minggu 24 Mei 2020
Aparat Diminta Tak Bubarkan Salat Id yang Digelar Saat Pandemi Covid-19
NU dan Muhammadiyah Tetapkan Idul Fitri Minggu 24 Mei 2020
Pemandangan Kontras H-2 Lebaran di Stasiun Pasar Senen Sebelum dan Saat Covid-19
Tak Dapat THR, 200 Pegawai Dunkin' Donuts Gelar Aksi Unjuk Rasa

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami