Jumlah Warga Gunungkidul yang Positif Antraks Bertambah Jadi 30

PERISTIWA | 28 Januari 2020 22:21 Reporter : Purnomo Edi

Merdeka.com - Sebanyak 30 warga Kabupaten Gunungkidul positif antraks. Jumlah ini bertambah setelah sebelumnya pada Selasa (21/1) jumlah warga yang positif terkena adalah 27 orang.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Gunungkidul Kelik Yuniantoro menerangkan, bertambahnya jumlah warga yang terkena antraks ini baru diketahui usai Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul melaporkannya saat Rapat Koordinasi di Kantor Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Selasa (28/1).

"Total ada 30 orang yang positif antraks. Untuk yang (Kecamatan) Semanu dan Saptosari sudah positif. Hari ini dari Dinas Kesehatan melaporkan dalam Rakor (rapat koordinasi)," ujar Kelik.

Kelik menerangkan sebagian besar warga yang dinyatakan positif Antraks terkena pada bagian kulit. Kelik menjabarkan jika para warga yang positif antraks sudah berada dalam penanganan Dinas Kesehatan. Para pasien kondisinya terus membaik.

Kelik menerangkan untuk tambahan dua orang yang positif Antraks berprofesi sebagai petani. Keduanya diduga terkena antraks karena pupuk kandang.

"Dua warga asal Saptosari dan Semanu yang positif masih dicari riwayatnya bisa kena antraks. Keduanya berprofesi sebagai petani. Mungkin (kena antraks) karena (mengolah) pupuk kandang dan kurang cuci tangan," terang Kelik.

Sedangkan untuk seorang warga Kecamatan Semin yang juga dinyatakan positif antraks disebut Kelik karena memang bersinggungan langsung dengan hewan ternak. Kelik menjabarkan jika warga Semin itu berprofesi sebagai jagal hewan ternak sapi.

"Kalau semua sudah ditangani dengan diterapi (dengan antibiotik) dan kondisinya sudah bagus. Karena (jika yang terkena antraks) kalau kulit kan cepat pemulihannya. Tapi untuk yang warga Semin masih tahap pemulihan," papar Kelik.

60 hewan ternak di Kabupaten Gunungkidul mati mendadak. Dari 60 hewan ternak yang mati mendadak ini, enam dilaporkan karena positif terkena antraks.

Kelik merinci dari pemeriksaan awal diketahui mati mendadaknya hewan ternak ini karena berbagai penyebab. Di antaranya keracunan, kurang gizi, larva lalat, radang rahim, demam, kembung hingga kurang susu.

"Sebagian besar mati karena keracunan. Ada 16 hewan ternak yang mati mendadak karena keracunan," ujar Kelik.

Hewan ternak yang mati dan positif antraks ini adalah tiga sapi dan tiga kambing. "Untuk yang positif antraks ada dua ekor sapi dan tiga ekor kambing di daerah Ngrejek Wetan (Desa Bedoyo, Kecamatan Ponjong) dan satu sapi di Desa Pucanganom (Kecamatan Rongkop)," ungkap Kelik. (mdk/cob)

Baca juga:
Antisipasi Antraks, Pemkab Sleman Perketat Pengecekan Hewan Ternak
Korea Utara sedang uji coba rudal pembawa virus sapi gila
Wabah Antrax merebak, 100 kuda nil di Namibia tewas
Cegah virus antraks menyebar, Kementan vaksinasi 295 sapi kurban
Enam sapi di Maros mati mendadak, tiga diantaranya terjangkit Antraks
Jabar siapkan 15.000 vaksin antisipasi penyebaran Anthrax

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.