Kapolri Sebut Penyerang Polisi di Wonokromo Memahami Jihad Sesat dari Internet

PERISTIWA | 18 Agustus 2019 15:58 Reporter : Didi Syafirdi

Merdeka.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan pelaku penyerangan terhadap anggota Polsek Wonokromo, Jawa Timur, melakukan self radicalism atau radikalisasi diri sendiri dengan melihat internet.

"Sementara info yang saya dapat dari Densus 88 maupun Polda Jatim, tersangka ini self radicalism, radikalisasi diri sendiri karena melihat online, dari gadget, internet," kata Tito di Jakarta, Minggu (18/8).

Tito mengatakan berbekal melihat internet, pelaku yang berinisial IM kemudian meyakini pemahaman interpretasi jihad versi dirinya sendiri dengan mendatangi Polsek Wonokromo dan menyerang petugas.

"Polisi dianggap thogut karena bagi mereka polisi selain thogut juga dianggap kafir harbi karena sering melakukan penegakan hukum kepada mereka, sehingga bagi pelaku melakukan serangan kepada kepolisian dianggap bisa mendapat pahala," ujar Tito.

Dia menegaskan saat penyerangan dilakukan petugas mengambil tindakan tembak di tempat terhadap pelaku, namun tidak di bagian mematikan.

Sementara anggota polsek yang terluka sudah diberikan perawatan.

Tito menyatakan bakal memberikan kenaikan pangkat luar biasa kepada anggota yang terluka, sambil mengevaluasi sistem keamanan di polres, polsek hingga polda.

"Kalau memang ada jaringan, maka semua jaringannya harus ditangkap. Undang-Undang baru Nomor 5 Tahun 2008 memberikan kekuatan cukup besar kepada penegak hukum, kepada negara untuk menangani jaringan terorisme. Kasusnya akan kita kembangkan terus, kita akan tangkap siapapun yang terlibat," tegas Tito.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan kasus ini diambil alih oleh Densus 88 Mabes Polri. Penyidikan oleh Densus itu pun, sudah di mulai dari Surabaya hingga ke tempat indekos istrinya.

"Diambil alih Densus 88 Mabes Polri. Mulai dari Surabaya ke tempat kos-kosan istrinya," tegasnya, Minggu (18/8).

Dikonfirmasi mengenai pengungkapan jaringan teroris yang menaungi tersangka, Barung enggan berkomentar banyak dengan alasan hal itu sudah menjadi kewenangan Densus 88.

Namun, hasil penyidikan sementara, tersangka diketahui melakukan teror secara perseorangan. Ia diduga mengamalkan sebuah ajaran yang dipelajarinya secara otodidak dari media sosial dan internet.

"Itu mengaplikasikan apa yang dipelajari di medsos dengan mengamaliyakan. Soal dari jaringan mana itu nanti porsi Densus 88 ya. Kuat dugaan ke arah sana. Sementara perorangan," tambahnya.

Disinggung mengenai peningkatan status keamanan, Barung mengatakan tidak ada. Namun, sesuai dengan instruksi Kapolda, keamanan dimasing-masing wilayah tetap ditingkatkan.

"Pelayanan tetap berjalan seperti biasa tidak ada yang berubah karena tugas polisi yang hakiki adalah memberi pelayanan kepada publik pelayanan ini tidak akan berhenti oleh karena teror saja," tegasnya.

Sebelumnya, seorang pria berinisial IM menyerang anggota polisi di Polsek Wonokromo Surabaya, Sabtu (17/8). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 16.45 WIB.

Pelaku yang diketahui sebagai warga Sumenep itu mendatangi SPKT Polsek Wonokromo. Dengan dalih ingin membuat laporan.

Saat petugas melayaninya, tiba-tiba IM langsung menyerang petugas dengan celurit. Polisi berhasil mengamankan pelaku.

Polisi juga telah menggeledah tempat kos pelaku di Jalan Sidosermo IV Gang 1. Beberapa barang bukti sudah diamankan. Polisi juga menjemput istri dan anak pelaku untuk dimintai keterangan.

Baca juga:
Polisi Dalami Penyerang Mapolsek Wonokromo Terafiliasi dengan ISIS
Terduga Teroris Serang Mapolsek Wonokromo, 2 Polisi Terluka
Polisi Dibacok di Mapolsek Wonokromo, Pelaku Ditembak
Penyerang Polisi Empat Lawang di Sumsel Diupahi Rp50.000/Orang
Polda Sumsel Kantongi Aktor Penyerangan Polisi yang Dirawat di RSUD Empat Lawang
Periksa 20 Saksi, Tersangka Penyerangan Polisi di Empat Lawang Kemungkinan Bertambah

(mdk/did)