Kapolri Tegaskan Tak Ada Perpecahan di Internal Polri

PERISTIWA | 24 Januari 2019 12:22 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan tidak ada perpecahan di internal kepolisian. Dia menyatakan, rotasi sejumlah jabatan strategis Polri merupakan hal biasa sebagai salah satu bentuk regenerasi.

"Saya ingin menekankan bahwa pergantian pejabat, tidak ada kaitannya dengan adanya faksi-faksi, friksi-friksi internal Polri, tidak. Polri tetap solid," ujar Tito saat berpidato dalam acara pelantikan dan serah terima jabatan sejumlah perwira tinggi Polri di Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (24/1).

Tito menuturkan, suatu organisasi sangat biasa terjadi perbedaan. Bahkan perbedaan juga sering ditemui dalam lingkup yang lebih kecil seperti sebuah keluarga.

"Tapi perbedaan itu tidak menimbulkan dampak destruktif. Perbedaan adalah demokrasi, dalam struktur seperti paramiliter meskipun ada sipil yang berseragam, semua perbedaan hal biasa, justru untuk memperkuat kebijakan melalui mekanisme check and balances," tuturnya.

Karena itu, Tito sekali lagi menegaskan bahwa Polri solid. Jenderal bintang empat itu meminta pihak eksternal tidak membuat analisis macam-macam, tapi mendukung soliditas Polri.

"Jangan membuat analisa sendiri yang kemudian nanti menganggap bahwa Polri ada faksi, friksi, tidak. Kita saat ini menjelang situasi politik membutuhkan organisasi Polri yang solid dan soliditas itu selain dibentuk secara internal, juga dibentuk eksternal," ucapnya.

Tak Ada Pesan Khusus

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Mohammad Iqbal mengatakan, tidak ada pesan khusus dari pernyataan Kapolri terkait faksi dan friksi di internal Polri. Sekalipun pernyataan bantahan tersebut disampaikan hingga dua kali dalam sambutannya.

"Saya kira tidak ada. Pak Kapolri hanya menyampaikan dan menstimulan kita harus solid, sekecil apapun ada dengungan-dengungan harus di-clearkan," ucap Iqbal.

Menurutnya, apa yang disampaikan Tito merupakan bentuk penekanan pentingnya soliditas Polri agar bisa melaksanakan tugas dan fungsi kepolisian dengan baik.

"Karena Pak Kapolri tidak bisa kerja sendiri, sebagaimana kapten sepakbola mengajak semua timnya melakukan penyerangan, pertahanan, dan lain-lain agar Polri dapat menyukseskan semua tugas di depan yang diharapkan masyarakat, melindungi, mengayomi masyarakat. Kami satu kapal," kata Iqbal.

Pergantian sejumlah petinggi Polri menyita perhatian masyarakat. Perhatian publik tertuju pada mutasi Komjen Arief Sulistyanto yang baru menjabat sebagai Kabareskrim Polri selama lima bulan lima hari. Jabatan Kabareskrim diganti Irjen Idham Azis yang sebelumnya menjabat Kapolda Metro Jaya.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengapresiasi rotasi sejumlah petinggi Polri. Menurutnya, pergantian jabatan Kabareskrim saat ini merupakan yang tersingkat dari sebelumnya.

"Ini yang pertama kali dalam sejarah Polri terjadi pergantian Kabareskrim di mana pejabat lamanya hanya menjabat dalam waktu yang sangat singkat. Tapi pergantian itu bisa dipahami agar terjadi soliditas organisasi," kata Neta kepada Liputan6.com, Jakarta, Rabu 23 Januari 2019 malam.

Neta berharap, rotasi tersebut dapat menyudahi perang dingin di tataran elite Polri. Sehingga Polri bisa semakin solid dalam menghadapi tahun politik dan pelaksanaan Pemilu 2019.

"(Perang dingin yang dimaksud) antara Arief dengan elite-elite Polri," ucapnya.

Reporter: Nafiysul Qodar
Sumber: Liputan6.com

(mdk/dan)