Kasus Covid-19 di RI Terus Meningkat, Perlukah Tarik Rem Darurat?

Kasus Covid-19 di RI Terus Meningkat, Perlukah Tarik Rem Darurat?
Tim medis membawa pasien Covid-19 ke RSD Wisma Atlet Kemayoran. ©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
NEWS | 21 Januari 2022 12:34 Reporter : Supriatin

Merdeka.com - Kasus positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat dalam tiga pekan terakhir. Kenaikannya bahkan mencapai lima kali lipat dari pekan sebelumnya yang hanya 1.123 kini menembus 5.454 kasus.

Meski kasus Covid-19 konsisten meningkat, Pakar Kesehatan Masyarakat Hasbullah Thabrany menilai Indonesia belum memerlukan rem darurat. Saat ini, pemerintah masih bisa mengambil langkah pencegahan penularan Covid-19.

"Kalau mau deklarasi (PPKM) level 3 atau 4, mungkin belum perlu sekarang. Kecuali beberapa daerah-daerah yang sifatnya lokalis," katanya saat dihubungi merdeka.com, Jumat (21/1).

Hasbullah menyadari penambahan kasus Covid-19 di Tanah Air dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan lampu merah. Artinya, Indonesia kembali memasuki masa berat pandemi Covid-19, setelah gelombang pertama dan kedua.

Namun, menurutnya peningkatan kasus Covid-19 saat ini tidak diikuti dengan keparahan penyakit. Mayoritas pasien Covid-19 hanya bergejala ringan, bahkan tanpa gejala. Berbeda jauh dengan situasi pada gelombang kedua pandemi Covid-19, sebagian besar membutuhkan perawatan di rumah sakit.

"Jadi risiko masuk rumah sakit yang banyak jadi beban pemerintah atau kematian yang menakutkan memang lebih kecil," ujarnya.

2 dari 4 halaman

Percepat Vaksinasi

Hasbullah berpendapat, yang bisa dilakukan pemerintah saat ini untuk menekan penularan Covid-19 ialah mempercepat vaksinasi pada anak 6 sampai 11 tahun dan kelompok lansia. Sementara pada kelompok usia produktif cukup meningkatkan imunitas tubuh.

"Usia produktif didorong untuk mempertahankan kondisi tubuh yang prima, olahraga, makanan yang cukup protein, cukup mineral, cukup gizi, vitamin D3 atau sinar matahari. Intinya pencegahan yang bisa dikejar," jelas dia.

Sebelumnya, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengatakan penularan Covid-19 di Indonesia didominasi varian Omicron. Data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) pada 20 Januari 2022, dalam sebulan terakhir kasus Omicron sebanyak 817 kasus, Delta 352 kasus, dan Alfa-Beta nihil.

Data Kementerian Kesehatan 20 Januari 2022, kasus Omicron di Indonesia menembus 1.078. Jumlahnya bertambah 256 dari data 18 Januari 2022 masih 822 kasus.

Dari total kasus Omicron, 756 orang yang terpapar merupakan pelaku perjalanan luar negeri. Sementara 257 lainnya bukan pelaku perjalanan luar negeri dan 65 masih dalam penyelidikan epidemiologi.

3 dari 4 halaman

Pemerintah Sudah Bersiap

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Indonesia akan menghadapi gelombang Omicron. Namun, dia meminta masyarakat tidak panik. Dia memastikan pemerintah sudah mempersiapkan berbagai hal untuk menghadapi gelombang Omicron.

"Kita akan menghadapi gelombang dari Omicron ini. Tidak usah panik, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik," katanya dalam konferensi pers, Senin (10/1).

Menurut Budi, pemerintah sudah mempelajari pola penularan Omicron. Berdasarkan kondisi di sejumlah negara, kasus Omicron meningkat dengan cepat, namun menurun dalam waktu singkat.

"Pengalaman menunjukkan, walaupun naiknya cukup cepat tapi gelombang Omicron ini turunnya pun cepat," ujarnya.

Dia juga memastikan pemerintah sudah menyiapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus Omicron. Saat ini sudah ada 80.000 tempat tidur di rumah sakit rujukan Covid-19.

Namun, 3.000 tempat tidur di antaranya sudah diisi pasien Covid-19. Rencananya, pemerintah akan menambah tempat tidur di rumah sakit menjadi 150.000.

"Kita masih bisa meningkatkan jumlah tempat tidur rumah sakitnya ke angka 150.000," ucapnya.

Pemerintah juga menyiapkan obat Covid-19 Molnupiravir produksi Merck sebanyak 400.000 tablet dan protokol kesehatan baru untuk perawatan pasien di rumah sakit. Sejalan dengan itu, pemerintah sudah mendistribusikan lebih dari 16.000 oksigen generator ke seluruh fasilitas kesehatan dan memasang lebih dari 36 oksigen konsentrator di rumah sakit.

Menurut Budi, kasus Omicron kemungkinan akan meningkat cepat dan banyak. Berdasarkan penelitian, sebanyak 30 sampai 40 persen pasien Covid-19 masuk rumah sakit.

4 dari 4 halaman

Gejala Relatif Ringan

Dilihat dari karakteristiknya, Omicron memiliki tingkat penularan sangat cepat. Namun, gejala yang ditimbulkan relatif lebih ringan.

"Tapi kita harus tetap waspada dan hati-hati. Kita harus siaga dan tidak perlu panik karena kasus yang masuk rumah sakit jauh lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya," ucapnya.

Mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini mengatakan, cara menghadapi Omicron sebetulnya sama seperti varian lainnya. Pertama, menjalankan protokol kesehatan dengan ketat, terutama menggunakan masker.

Kedua, memperketat surveilans. Jika warga merasakan kondisi tubuhnya tidak sehat, harus segera melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR). Ketiga, segera mengikuti vaksinasi Covid-19.

"Terutama orang tua kita, para lansia yang belum divaksin, harus segera divaksin. Mereka adalah orang-orang yang harus kita lindungi karena merupakan faktor yang paling lemah untuk masuk ke rumah sakit," katanya mengakhiri. (mdk/yan)

Baca juga:
Berbagi Sayuran untuk Warga Terdampak Covid-19
Kunci Cegah Lonjakan Covid-19: Jaga Pintu Masuk Negara dan Kendalikan Transmisi Lokal
Update Pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet Kemayoran per 21 Januari 2022
Ketika Museum Van Gogh di Belanda Berubah Jadi Salon
Austria Bujuk Warga Agar Mau Divaksin dengan Hadiah Voucher Uang Rp 8 Juta
Ini 5 Kecamatan di Jakarta dengan Penularan Omicron Tinggi

Baca berita pilihan dari Merdeka.com

Mari bergabung di Grup Telegram

Merdekacom News Update

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami