Kasus DP 0 Rupiah, KPK Panggil Pegawai PT Adonara Propertindo

Kasus DP 0 Rupiah, KPK Panggil Pegawai PT Adonara Propertindo
Gedung KPK. ©blogspot.com
NEWS | 7 Juni 2021 13:44 Reporter : Merdeka

Merdeka.com - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami kasus dugaan korupsi pengadaan tanah untuk program DP 0 rupiah di DKI Jakarta tahun anggaran 2019. Pengadaan tanah tersebut di kawasan Munjul, Pondok Rangon, Jakarta Timur.

Untuk mendalami hal tersebut, tim penyidik mengagendakan memeriksa pegawai PT Adonara Propertindo Ajeng Amelia. Rencananya, Ajeng akan dimintai keterangan untuk melengkapi berkas penyidikan mantan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pembangunan Sarana Jaya Yoory Corneles Pinontoan (YRC)

"Hari ini (7/6) tim penyidik mengagendakan pemanggilan saksi untuk tersangka YRC, yakni Ajeng Amelia (Pegawai PT Adonara Propertindo)," ujar Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Senin (7/6).

Diberitakan, KPK menetapkan mantan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Pembangunan Sarana Jaya Yoory Corneles Pinontoan (YRC) sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan lahan untuk pembangunan rumah DP 0 rupiah di, Munjul, Cipayung, Jakarta Timur.

Selain Yoory, KPK juga menjerat Direktur PT Adonara Propertindo Tommy Adria, Wakil Direktur PT Adonara Propertindo Anja Runtunewe, dan juga menetapkan PT Adonara Propertindo sebagai tersangka korporasi.

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron menyebut, perbuatan yang dilakukan para tersangka disinyalir merugikan keuangan negara sebesar Rp 152 miliar.

"KPK menduga, perbuatan para tersangka tersebut, diduga telah mengakibatkan kerugian keuangan negara setidak-tidaknya sebesar sejumlah Rp 152,5 miliar," ujar Ghufron dalam jumpa pers di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (27/5/2021).

Ghufron menjelaskan, kasus ini bermula saat adanya kesepakatan penandatanganan Pengikatan Akta Perjanjian Jual Beli di hadapan notaris yang berlangsung di Kantor Perumda Sarana Jaya. Kesepakatan dilakukan oleh Yorry dan Anja Runtunewe pada 8 April 2019.

Pada saat itu juga dilakukan pembayaran sebesar 50 persen atau sekitar sejumlah Rp 108,9 miliar ke rekening Bank DKI milik Anja Runtunewe. Selang beberapa waktu kemudian, atas perintah Yoory dilakukan pembayaran oleh Perumda Sarana Jaya kepada Anja Runtunewe sejumlah Rp 43,5 miliar.

Dalam pelaksanaan pengadaan tanah ini, diduga dilakukan secara melawan hukum, yakni tidak adanya kajian kelayakan terhadap objek tanah, tidak dilakukannya kajian appraisal dan tanpa didukung kelengkapan persyaratan sesuai dengan peraturan terkait.

"Beberapa proses dan tahapan pengadaan tanah juga diduga kuat dilakukan tidak sesuai SOP serta adanya dokumen yang disusun secara backdate. Kemudian, adanya kesepakatan harga awal antara pihak AR (Anja Runtunewe) dan PDPSJ (Sarana Jaya) sebelum proses negosiasi dilakukan," kata Ghufron.

Atas perbuatannya, para tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) atau pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUH Pidana.

Reporter: Fachrur Rozie
Sumber: Liputan6.com (mdk/eko)

Baca juga:
KPK Dalami Proses Awal Pengadaan Lahan untuk Rumah DP 0 Persen
Kasus Korupsi DP 0 Persen, KPK Panggil Plh BP BUMD dan Wakil Kepala BPKD DKI
Ekspresi Tersangka Korupsi Pengadaan Tanah Pembangunan Rumah DP Rp 0
Sakit, Plh Sekda DKI Tak Penuhi Panggilan KPK Terkait Korupsi Rumah DP 0 Rupiah
Per April 2021, Realisasi Kredit DP Nol Rupiah Bank DKI Capai Rp198,8 Miliar
Wagub Riza Sebut Kasus Korupsi Lahan Rumah DP 0 Rupiah Pelajaran Bagi PNS di DKI

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami