Kasus HIV/AIDS di Solo Naik Signifikan, Jumlah Penderita 962 Orang

Kasus HIV/AIDS di Solo Naik Signifikan, Jumlah Penderita 962 Orang
Ilustrasi AIDS. ©2012 Shutterstock/OtnaYdur
NEWS | 2 Desember 2021 09:34 Reporter : Arie Sunaryo

Merdeka.com - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Solo mengalami kenaikan signifikan di tahun ini. Data terakhir penderita HIV/AIDS di Kota Bengawan mencapai 962 orang.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Solo, Widdi Srihanto mengatakan, jumlah tersebut berdasarkan data penderita orang dalam HIV AIDS (ODHA) yang melakukan pengobatan di sejumlah fasilitas kesehatan di Kota Solo.

"Kasusnya memang naik secara signifikan dari tahun ke tahun di Subosukowonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Kalten, Sragen). Yang berobat di Solo ada 4.546 orang, dan kalau Solo sendiri 962," ujar Widdi saat ditemui merdeka.com di Yayasan Lentera Solo, Kamis (2/12).

Widdi menyayangkan, saat ini masih banyak ODHA yang enggan berobat atau melanjutkan pengobatan. Hal itu membuat pihaknya kesulitan melakukan pendataan untuk mengetahui secara pasti jumlah penderita ODHA di Kota Solo.

"Yang jadi masalah itu kadang mereka yang berobat tidak mau melanjutkan pengobatan. Dicari juga tidak ketemu, loss follow up. Ini tugas kami dan teman-teman peduli AIDS yang sudah dibentuk di tingkat kota dan 54 kelurahan untuk ikut mendeteksi," katanya.

Padahal, Pemkot Solo telah memberikan layanan pengobatan gratis kepada para penderita ODHA di fasilitas kesehatan yang disiapkan. Namun, program tersebut belum mencakup semua penderita ODHA.

"Stigma negatif masyarakat terhadap para penderita ODHA ini pengaruhnya besar. Banyak yang memilih untuk tidak berobat karena malu dan takut dikucilkan," katanya.

"Itu menjadi tugas KPA, begitu penderita AIDS dan kasihan orang mendekat pun gak mau. Mereka takut tertular selain orang tua juga pada anak-anak juga. Padahal cara menularnya itu berbeda," sambung Widdi.

Pihaknya berjanji terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak terjadi diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS.

Anak Usia 7 Bulan - 17 Tahun

Ketua Yayasan Lentera Solo, Puger Mulyono menegaskan komitmen pihaknya terus merawat anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA). Saat ini, yayasan yang ia pimpin menampung 37 anak yang berasal dari sejumlah daerah di Indonesia. Sementara hingga saat ini sudah ada 18 anak lainnya yang sudah meninggal dunia selama dalam perawatan.

"Sebagian besar masyarakat memang masih menganggap berbahaya karena HIV/AIDS menularkan. Masyarakat harus paham kalau itu tidak menular," katanya.

Puger mengatakan selain merawat 37 anak, Yayasan Lentera juga melakukan pendampingan dan memberikan bantuan dalam edukasi advokasi ke hampir 300 anak dikuar shelter se-Jawa Tengah.

"37 Anak yang kami rawat ini berasal dari seluruh kota di Indonesia mulai Papua, Sulawesi Kalimantan dan Jawa," terang dia.

Mereka yang tinggal di shelter Yayasan Lentera berusia 7 bulan hingga 17 tahun. Ke depan pihaknya akan membuat program bagi anak ADHA berusia 18 tahun. Sehingga bisa mandiri dan mencati nafkah sendiri setelah mereka keluar dari shelter.

"Yang usia 18 nanti kita buatkan program khusus biar kalau sudah keluar dari sini bisa mandiri, bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhannya," pungkas dia. (mdk/lia)

Baca juga:
Sejumlah Remaja Tulungagung Terinfeksi HIV/AIDS karena Seks Bebas, Ini Faktanya
Lomba Tiup Kondom di Hari AIDS Sedunia
KPA Catat 46.967 Kasus HIV/AIDS di Papua
KPA Catat 560 kasus HIV/AIDS di Mataram
2.704 Warga Sumbar Terinfeksi HIV/Aids
Tidak Punya KTP Bukan Halangan Penderita HIV Dapat Vaksin Covid-19

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami