Kasus korupsi Alquran, KPK tahan eks pejabat Kemenag

Kasus korupsi Alquran, KPK tahan eks pejabat Kemenag
penjara. shutterstock
NEWS | 25 Oktober 2013 16:15 Reporter : Aryo Putranto Saptohutomo

Merdeka.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sore hari ini menahanĀ  AJ (Ahmad Jauhari), tersangka kasus korupsi pengadaan Alquran dan laboratorium komputer madrasah tsanawiyah di Kementerian Agama pada 2011-2012.

Mantan Direktur Urusan Agama Islam Pembinaan Syariah Direktorat Jenderal Pembinaan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama itu ditahan di Rumah Tahanan Salemba, Jakarta Pusat, selepas enam jam diperiksa oleh penyidik KPK.

"Tersangka AJ ditahan selama 20 hari ke depan guna kepentingan penyidikan. Yang bersangkutan ditahan di Rumah Tahanan Salemba," kata Juru Bicara KPK, Johan Budi Sapto Prabowo, Jumat (25/10).

Sebelum memasuki mobil tahanan, AJ sempat memberikan pernyataan. Dia berdalih tidak pernah berniat korupsi dan merugikan negara.

"Penting dicatat buat Anda, saya tidak pernah punya niat korupsi sedikit pun, hanya sebagai pejabat pembuat komitmen dianggap telah melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu yang menyebabkan kerugian negara," ujar AJ yang mengenakan rompi tahanan KPK.

Namun, saat ditanya soal keterlibatan Menteri Agama, Suryadharma Ali dan Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, AJ mengaku tidak tahu. Dia mengatakan hal itu adalah urusan KPK.

AJ disangka melanggar Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2001.

Penetapan AJ sebagai tersangka merupakan hasil pengembangan penyidikan kasus suap terkait kepengurusan anggaran proyek pengadaan Alquran dan laboratorium komputer madrasah tsanawiyah di Kementerian Agama menjerat anggota Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat fraksi Partai Golkar, Zulkarnaen Djabar, beserta anaknya, Dendy Prasetya Zulkarnaen Putra (perkara keduanya dalam berkas terpisah).

Dalam proses persidangan yang lalu, Zulkarnaen dijatuhi vonis 15 tahun penjara, sementara Dendy diganjar 8 tahun. Keduanya menyatakan banding atas putusan itu. Beberapa waktu lalu, pengajuan banding diajukan oleh Zulkarnaen dan Dendy ditolak oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.

(mdk/ren)

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami