Kasus Parkir Rp150 Ribu di Farmhouse Lembang Berakhir Damai

Kasus Parkir Rp150 Ribu di Farmhouse Lembang Berakhir Damai
Pungli parkir di kawasan Farmhouse Lembang. ©2021 Merdeka.com
NEWS | 11 Oktober 2021 17:43 Reporter : Aksara Bebey

Merdeka.com - Tiga warga dimintai keterangan polisi karena diduga melakukan pungutan liar (pungli) modus parkir Rp150 ribu di kawasan wisata Farmhouse, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kasus ini sempat viral di media sosial setelah seorang pengunjung mengeluh membayar parkir dengan biaya tinggi. Tempat parkir tersebut dikelola oleh warga yang menyewakan tempat karena area parkir kawasan Farmhouse penuh.

"Masih ada beberapa parkiran di kawasan Farmhouse Lembang dengan tarif Rp150 ribu, nah yah daerah sini, di bawah Farmhouse nih," ucap pria dalam video tersebut.

Tidak lama kemudian, dikabarkan tiga warga dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Kanit Reskrim Polsek Lembang, Ipda Yana Suryana, mengatakan tiga warga tersebut diberi sanksi ringan.

"Sudah ada mediasi. Pihak pelapor dan terlapor sudah membuat surat pernyataan penyelesaian masalah secara kekeluargaan," kata Yana, Senin (11/10).

Hasil pemeriksaan yang dilakukan, wisatawan yang mengeluh adalah salah satu rombongan dari Lamongan pada Sabtu (9/10). Rombongan tersebut diarahkan untuk parkir di lahan milik warga karena parkiran di tempat wisata penuh.

Usai menghabiskan waktu, saat hendak meninggalkan kawasan, mereka diminta uang parkir Rp150 ribu. Sopir dari rombongan wisatawan sempat menawar namun tak berhasil.

"Mereka meminta uang (parkir) sekalian menjaga bus yang parkir di sana. Setelah sepakat damai, kami berikan peringatan agar tak mengulangi perbuatannya tersebut dan dilakukan pembinaan," kata dia.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dia parbud) Jabar, Dedi Taufik mengatakan bahwa hal ini harus menjadi perhatian bersama.

Pihak pengelola pariwisata harus memahami bahwa industri ini mengedepankan kepuasan pelanggan atau wisatawan. Semua potensi yang bisa membuat pelayanan tidak maksimal harus diantisipasi.

Dedi mengaku segera berkoordinasi dengan pihak pemda dan pengelola pariwisata termasuk warga setempat agar memiliki visi yang sama dalam hal pelayanan prima.

"Pembinaan warga juga perlu dilakukan. Ini pekerjaan bersama. Pengelolaan juga harus paham, ketika lahan parkir terbatas, bisa dicari solusinya, apakah menyewa lahan warga. Sehingga semua sama-sama puas," ucap dia.

"Segera hal ini akan dibenahi. Ini juga menjadi pelajaran untuk tempat wisata lain. Industri pariwisata sedang mencoba bangkit setelah terpuruk dalam dua tahun terakhir. Hal-hal seperti ini harus diantisipasi," pungkasnya. (mdk/cob)

Baca juga:
Dilaporkan ke Wali Kota, Kepling di Medan Diminta Kembalikan Uang Pungli dari Warga
Dishub Tangerang Pecat 6 Anggota Terlibat Pungli Truk Tambang
Moeldoko: Tidak Boleh Ada Lagi Pungli dan Perizinan Berbelit
Ribut dengan Penghuni, Kepala Sekuriti Perumahan di Kembangan Jakbar jadi Tersangka
Mahfud MD: Kasus Pungli Sudah Sangat Berkurang
Mahfud MD Ceritakan Penasihat Satgas Saber Pungli Jadi Sasaran Pungutan Liar

TOPIK TERKAIT

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami