Kasus Tahanan Tewas Diduga Dianiaya, 6 Anggota Polresta Balikpapan Dicopot

Kasus Tahanan Tewas Diduga Dianiaya, 6 Anggota Polresta Balikpapan Dicopot
Ilustrasi Penganiayaan Polisi. ©2014 Merdeka.com
PERISTIWA | 9 Februari 2021 14:36 Reporter : Saud Rosadi

Merdeka.com - Enam personel Polresta Balikpapan dibebastugaskan, untuk memudahkan pemeriksaan dilakukan Bidang Propam Polda Kalimantan Timur, terkait kematian tahanan Polresta Balikpapan, bernama Herman (39).

Pemeriksaan enam anggota Satreskrim Polresta Balikpapan, itu dilakukan usai kasus dugaan penganiayaan dilakukan keenamnya terhadap Herman dilaporkan keluarga melalui LBH Samarinda ke Propam dan Ditreskrimum Polda Kaltim, 5 Februari 2020 lalu.

"Iya, keenamnya dibebastugaskan untuk memudahkan pemeriksaan," kata Kabid Humas Polda Kalimantan Timur Kombes Pol Ade Yaya Suryana, dikonfirmasi merdeka.com, Selasa (9/2).

Ade mengatakan, enam personel polisi itu dibebastugaskan dalam artian dicopot dari jabatannya. Mereka sementara dipindahkan ke pelayanan masyarakat (Yanma) di Polda Kalimantan Timur.

"Untuk menjalani proses pemeriksaan kode etik Polri, yang dilakukan Propam," ujar Ade.

Dia menegaskan, Polri tidak menolerir bentuk pelanggaran hukum personel yang tugas di wilayah Polda Kaltim. "Jadi, terhadap yang bersangkutan, mempertanggungjawabkan perbuatan. Baik kode etik, maupun dugaan pidananya. Kalau dugaan pidana, oleh Ditreskrimum," kata dia.

Ditanya lebih jauh soal dugaan tindak kekerasan terhadap tahanan Herman, Ade kembali merespons. "Saya kira, sekarang yang kita lakukan adalah proses komisi kode etik atau KKE. Jadi, nanti kita tunggu hasil sidangnya," ungkap Ade.

"Proses yang berjalan saat ini, masih tahap penyelidikan, dan kemungkinan nanti juga memeriksa saksi-saksi oleh penyidik Ditreskrimum. Pemeriksaan Propam dan Ditreskrimum jalan bersamaan, meski jadi dua hal berbeda," ujar dia.

Ade juga tidak menampik, keenam personel Polresta Balikpapan, di mana satu di antaranya perwira itu diduga melanggar Peraturan Kapolri Nomor 14/2011 pasal 7, 13 dan 14, tentang Profesionalisme Kepolisian.

"Iya, di situ diatur tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan anggota Polri. Ancamannya dicopot dari jabatan, hingga pemberhentian tidak hormat. Ancaman maksimal dipecat," kata dia.

Ade menambahkan proses penyelidikan terkait dugaan penganiayaan dilakukan keenam personel Polresta Balikpapan itu masih diselidiki Ditreskrimum Polda Kaltim. "Ini proses yang akan dilakukan penyidik Ditreskrimum. Pembuktiannya nanti ada tidaknya pidana. Propam hanya pada batas 3 pasal dalam Peraturan Kapolri. Hasilnya nanti akan kita sampaikan ke publik," kata dia.

Diketahui, Herman, terduga pelaku pencurian HP di Balikpapan, diamankan Polresta Balikpapan pada 2 Desember 2020 tanpa mengenakan baju. Korban meninggal sehari kemudian, 3 Desember 2020, Herman meninggal setelah sempat muntah-muntah, dalam perawatan RS Bhayangkara.

Kematian Herman mencuatkan keganjilan. Kasus itu oleh keluarga Herman dilaporkan ke Propam Polda Kaltim pada 5 Februari 2021 melalui LBH Samarinda, setelah menemukan adanya lebam dari paha sampai jari kaki, dan juga punggung. Serta, luka gores pada jenazah Herman. (mdk/gil)

Baca juga:
Tahanan Tewas Diduga Dianiaya, 6 Anggota Polresta Balikpapan Diperiksa Propam
Kronologi Kematian Tahanan Kasus Pencurian HP di Balikpapan
Keluarga Pertanyakan Soal Tahanan Narkoba Polres Tangsel Tewas, Ini Jawaban Polisi
Polres Klaten Rekonstruksi Kasus Tewasnya Tahanan, 39 Adegan Diperagakan
Jaksa Tak Hadir, Rekonstruksi Kasus Tahanan Polres Klaten Tewas Ditunda Besok

Banyak orang hebat di sekitar kita. Kisah mereka layak dibagikan agar jadi inspirasi bagi semua. Yuk daftarkan mereka sebagai Sosok Merdeka!

Daftarkan

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami